Pemahaman Bahasa Menjadi Kendala Utama Aplikasi Teks Usada

posbali.id

 

Salah seorang petugas Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana membacakan naskah Dharma Usada koleksi Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana

DENPASAR, POSBALI.ID – Teks usada menjadi salah satu bukti kekayaan sistem pengetahuan masyarakat Bali di bidang kesehatan. Namun, seiring dengan berkembangnya sistem pengobatan modern, teks-teks tersebut jarang diaplikasikan, padahal memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat herbal.

Petugas Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana, Putu Eka Gunayasa mengatakan dari 939 cakep lontar koleksi lembaga tersebut, 75 cakep di antaranya adalah naskah usada. Jenisnya mulai dari teks usada yang berbicara tentang pengobatan penyakit umum hingga yang spesifik, mulai dari jenis penyakit ragawi (sekala) hingga penyakit yang bersifat psikomatik (niskala).

“Ada banyak naskah usada yang kami koleksi, misalnya Usada Taru Pramana, Dharma Usada, Usada Rare, Usada Yeh, Usada Manak, dan masih banyak lagi. Namun, untuk aplikasinya memang memiliki sejumlah kendala, mulai dari bahasa, ketersediaan tanaman obat, hingga mentalitas masyarakat yang semakin meninggalkan sistem pengetahuan ini,” katanya saat ditemui POSBALI.ID di Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana, Denpasar, Selasa (20/3).

Dijelaskan, dari tiga tantangan pengaplikasian pengetahuan usada tersebut, pemahaman bahasa merupakan tantangan yang paling utama. Alumnus magister Linguistik Universitas Udayana itu mengatakan seperti teks-teks lontar pada umumnya, lontar usada masih menggunakan perpaduan bahasa Bali dan Jawa Kuno. Selain itu, dalam teks-teks usada juga sering ditemukan bahasa metafora yang menyamarkan makna seseungguhnya.

“Para penekun usada tampaknya memiliki kode etik tertentu dalam penggunaan bahasa, sehingga tidak bisa diterjemahkan secara gamblang. Ini mungkin sama dengan dokter ketika menulis resep untuk pasiennya, hanya dokter dan apoteker yang tahu, (sedangkan) masyarakat awam sangat sulit membaca,” terangnya.

Dicontohkan, penggunaan bahasa-bahasa metafora itu misalnya istilah tanaman obat ‘rangda lumaku’ yang secara harfiah dapat diartikan sebagai janda yang berjalan. Istilah ini dalam teks usada ternyata berarti tanaman beluntas. Tanaman beluntas oleh penekun usada disepadankan dengan kata ‘balu-mentas’, dimana dalam bahasa Bali, kata ‘balu’ memiliki arti yang sama dengan kata ‘rangda’ (Jawa Kuno) yang berarti janda, sedangkan ‘mentas’ berarti sama dengan ‘lumaku’ (Jawa Kuno) yang artinya berjalan.

“Di sinilah fungsi bahasa dalam menghubungkan pesan itu, jadi jika bahasa dalam teks tidak diketahui bagaimana mengetahui tanamannya di dunia nyata? Contoh lain misalnya penyebutan ‘kayu sakti’ yang mengarah pada kayu dapdap; ‘kerikan tendas’ yang mengacu pada kupasan kelapa; ‘sri wreksa’ yang mengacu pada cendana, ‘pusparaja’ atau ‘rajakusuma’ untuk teratai atau ‘rajapala’ yang mengacu pada padi,” jelas Guna sembari mengatakan hingga saat ini belum ada satupun kamus terkait istilah usada.

Tantangan kedua untuk mengaplikasikan usada adalah persoalan ketersediaan bahan obat. Pemahaman bahasa yang minim akan berdampak pada ketidaktahuan masyarakat terkait khasiat suatu tanaman obat. Masalahnya kemudian semakin bertambah dengan semakin jarangnya masyarakat menanam tanaman obat. Di era ini, sangat sedikit masyarakat menanam tanaman obat di sekitar pekarangan rumah.

“Terakhir, kedua kendala di atas kemudian akan berdampak pada mentalitas masyarakat. Dengan adanya sistem pengobatan modern, masyarakat lebih memilih membeli obat di warung terdekat daripada harus membuat ramuan yang memerlukan waktu lama untuk mencari dan memproses,” terangnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *