Pelebaran Simpang Temacun dan Jembatan Raya Kuta Jadi Opsi Alternatif

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Jalan diatas perairan Tukad Mati, tidak dipungkiri masih menjadi harapan yang didambakan masyarakat Kuta, dalam mengatasi kepadatan lallin di jalan Raya Kuta. Namun sayangnya realisasi jalan tersebut, nampaknya akan cukup lama terwujud. Sebab selain memerlukan anggaran yang cukup besar, hal itu juga menyangkut regulasi kewenangan sungai yang berada di ranah Balai Wilayah Sungai Bali Penida. Karena itulah Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta beberapa kali menawarkan pelebaran simpang temacun sebagai alternatif sementara. “Memang ada 2 alternatif yang ditawarkan bapak Bupati dan sudah ada kajiannya, itu sekarang tergantung masyarakat memilihnya. Jalan diatas perairan sudah ada desainnya, begitupula pelebaran simpang temacun juga sudah ada desainnya,”ujar Kadis PUPR kabupaten Badung, IB Surya Suamba ditemui Jumat (8/2).

 

Dari dua hasil kajian tersebut, diakuinya pelebaran jalan blambangan memang salah satu opsi yang lebih mudah direalisasikan menyangkut teknis. Namun disisi sosialnya yang relatif lebih sulit dihadapi, karena kaitan pembebasan lahan yang tentunya akan membuat sejumlah lahan toko terpangkas. Karena itulah opsi tersebut dinilai perlu disosialisasikan lagi, kira-kira apakah pelebaran jalan itu disetujui, karena ada tahap pembebasan lahan. “Secara estetika dan kewilayahan memang bagusnya pelebaran jalan, sehingga kita juga bisa langsung kerjakan. Kalau jalan diatas sungai itu ada hal yang lebih mahal, baik pengerjaan dan pemeliharaan, begitu juga regulasinya,”terangnya.

 

Dipaparkannya, pelebaran simpang temacun dilakukan untuk mengurangi bottle neck kendaraan dari arah raya Kuta, sehingga bisa masuk bersamaan ke jalan blambangan. Untuk merealisasikan itu diperlukan sekitar 100 meter panjang jalan yang harus dilebarkan, dengan lebar 3 meteran. Dengan demikian kendaraan roda empat bisa dengan leluasa masuk bersamaan, dari dua arah berbeda di jalan blambangan. “Memang untuk pelebaran ini beberapa lahan harus terpangkas, dari pojokan jalan blambangan hingga 100 meter ke selatan. Selain pelebaran jalan, kita juga akan lebarkan jembatan di jalan Raya Kuta. Nanti untuk pelebaran jembatan bisa kita mohonkan ke balai jalan,”imbuhnya.

 

Sementara salah satu tokoh masyarakat Kuta, I Gusti Anom Gumanti menilai solusi pelebaran simpang temacun merupakan ide cemerlang, dalam upaya mengurai bottle neck di simpang terkait sementara waktu. Sebab disadarinya membuat jalan diatas Tukad Mati memerlukan proses yang panjang, karena menyangkut regulasi, kewenangan, anggaran, skala pengerjaan dan maintenance. “Saya rasa kemampuan anggaran kita mencukupi untuk merealisasikan itu. Masalahnya sekarang, perlu pendekatan kepada pemilik lahan. Agar demi kepentingan umum, pemilik lahan juga mau merelakan tanahnya dengan nilai sewajarnya sesuai dengan aturan,”sebut Anom Gumanti.

 

Jika masalah pembebasan lahan itu sudah tuntas, pihaknya menilai secara konsep tekhnis pelebaran simpang itu akan menjadi lebih mudah dikerjakan. Karena anggaran untuk melebarkan itu tentu tidak cukup besar. Selain pelebaran simpang, ia juga menilai diperlukan pelebaran jembatan di jalan Raya Kuta. Sebab jembatan itu kondisinya cukup kecil, namun bisa diperlebar karena masih ada space. “Disana kan masih ada trotoar, itu bisa kita pakai jalan dengan kita geser lagi trotoarnya menggunakan box chulvert,”imbuhnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!