Pelajaran dari Tanjungbalai

posbali.id

Redaksi Yth. 

TANJUNGBALAI dulu sangat kondusif bagi warganya untuk menjalankan ibadah.  Namun kali ini kerukunan antar umat beragama terusik. Ada seorang warga merasa terganggu dengan suara adzan yang dinilainya terlalu keras pada Jumat malam (29/7). Warga tersebut dan warga yang hendak shalat sempat bersitegang dan berhasil dilerai. Sayangnya permasalahan berlanjut bahkan mencekam saat masyarakat mulai berdatangan dan semakin banyak sampai Sabtu dini hari untuk melampiaskan kemarahan.  Diduga massa bergerak setelah melihat dan membaca postinganpostingan yang tersebar secara viral  di medsos .  Ada yang menceritakan  shalat magrib dihentikan, pengusiran imam, masjid yang dilempari sampai seruan pembakaran vihara yang akhirnya terjadi.

Keadaan lain pemicu kerusuhan adalah tingginya kesenjangan sosial,  ketidakadilan hukum dan lambatnya aparat negara mengantisipasi bibit-bibit kerusuhan horizontal. Faktor-faktor inilah yang juga membuat masyarakat lebih mudah terprovokasi oleh media sosial.  Karenanya diperlukan edukasi dan panduan bagi masyarakat agar dapat menggunakan dan mensikapi media sosial secara cerdas.

Ketidakadilan hukum seringkali memicu konfl ik berbau SARA di Indonesia. Selama ketidakadilan ini terjadi maka konfl ik akan terus ada.  Melihat ada banyak faktor penyebab kerusuhan ini maka upaya penyelesaian konfl ik tidaklah cukup dengan rekonsiliasi kedua belah pihak dan meningkatkan toleransi masyarakat akan.  Akan tetapi negara harus hadir menyelesaikan akar permasalahan lainnya yaitu memperkecil kesenjangan sosial, berlaku adil, sigap menghadapi bibit-bibit konfl ik di mayarakat dan profesional. Semoga hal ini menjadi pelajaran berharga khususnya bagi Bali.

Susi Sukaeni

Br. Bugbug Tengahan, Karangasem

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!