Pasokan Langka, Permintaan Menurun

posbali.id
Permintaan palinggih berbahan batu lahar Gunung Agung menurun drastis sejak peningkatan status Gunung Agung

Usaha Penjualan Palinggih Batu Lahar Gunung Agung di Denpasar

DENPASAR, POS BALI – Kendati status Gunung Agung telah diturunkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per Minggu (29/10) malam, beberapa usaha yang berkaitan dengan Gunung Agung masih tersendak. Salah satu bidang usaha yang masih terganggu akibat aktivitas Gunung Agung adalah usaha pembuatan palinggih (bangunan suci umat Hindu) berbahan batu lahar Gunung Agung.

Sejumlah penjual palinggih berbahan batu lahar Gunung Agung di Denpasar, Minggu (12/10) mengaku hingga saat ini pasokan batu lahar Gunung Agung atau yang dikenal dengan batu hitam Karangasem masih sulit didapat. Selain itu, permintaan masyarakat terhadap palinggih batu lahar Gunung Agung juga menurun drastis pasca peningkatan aktivitas Gunung Agung.

Wayan Ardana, salah seorang pedagang palinggih berbahan batu lahar mengaku sejak peningkatan aktivitas Gunung Agung mengalami penurunan penjualan lebih dari 80 persen. Sebelumnya, dalam satu minggu rata-rata ia mampu menjual 10 unit palinggih dengan berbagai ukuran. Namun, sejak status gunung tertinggi di Bali itu naik, ia hanya mampu menjual antara satu hingga dua unit palinggih dalam satu minggu.

“Kondisi ini tentu saja berpengaruh pada pendapatan saya. Meski saya menjual palinggih dengan berbagai bahan baku, palinggih (berbahan) batu lahar merupakan primadona di masyarakat,” terangnya.

Ardana menjelaskan perbedaan harga antara palinggih berbahan baku batu lahar dengan bahan baku lainnya cukup jauh. Palinggih batu lahar Gunung Agung per unitnya dijual antara Rp5 juta hingga Rp6 juta, bahkan dalam  pesanan tertentu, misalnya palinggih padmasana dalam ukuran besar harganya bisa mencapai Rp25 juta per unit.

Berbeda dengan palinggih batu lahar, palinggih berbahan baku padas cetakan, harga per unitnya hanya berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp4 juta. “Dalam beberapa pesanan, (palinggihbatu padar cetakan) paling tinggi sekitar Rp10 juta per unit,” imbuhnya.

Sementara itu, palinggih berbahan batu padas asli harganya hanya berkisar antara Rp4 hingga Rp 6 juta per unit. Palinggih jenis ini jumlahnya sangat sedikit ia jajakan, sebab bahan bakunya cukup sulit.

Meski mengalami kelangkaan bahan baku, Ardana mengaku tidak manaikkan harga palinggih. Keputusannya tidak menaikkan harga karena membandingkan dengan harga dengan penjual lain.

Pernyataan senada juga dinyatakan Ryadi, salah satu tukang pasang palinggih di bilangan Jalan Bypass Ida Bagus Mantra. Menurut penuturannya, sejak dua bulan terakhir permintaan sangat sepi. “Konsumen memang lebih banyak mencari palinggih berbahan batu Karangasem daripada palinggih berbahan baku batu padas cetakan atau yang berbahan batu padas. Hal ini karena daya tahannya yang jauh lebih kuat dibandingkan bahan baku lain. Daya tahannya bisa bertahan seumur hidup,” kata pria asal Banyuwangi itu.

Riyadi mengatakan meski memiliki daya tahan yang kuat, palinggih batu lahar Gunung Agung memiliki sejumlah kekurangan. Salah satunya ornamennya yang tidak bisa dibuat seditail ornamen palinggih bahan baku batu padas atau padas cetakan. “Konsumen memang kebanyakan memilih daya tahan. Selain itu trennya juga sedang bagus,” pungkasnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *