Pariwisata Bali Diobral ke China, Tindak Tegas Travel Agent Nominee Lokal

posbali.id

DENPASAR, POS BALI.ID- Anggota Komisi II DPRD Bali yang membidangi urusan Ekonomi dan Pariwisata, AA Ngurah Adhi Ardhana, angkat bicara menanggapi ulah Travel Agent yang menjual murah paket wisata Bali kepada wisatawan asal Tiongkok (China). Tokoh pariwisata Bali ini mengatakan, munculnya kabar tersebut termasuk adanya permainan mafia yang melatarbelakanginya, baginya bukan informasi yang baru. Masalah ini sudah berlangsung lama.

Ia menjelaskan, ada jaringan pengusaha asal China yang menguasai Travel Agent, hotel, restoran dan Toko Oleh-Oleh di Bali untuk melayani wisatawan asal China. Namun, pemilik usaha pariwisata itu menggunakan nama orang lokal atau dikenal dengan istilah Nominee Lokal. “Pariwisata Bali dijual murah ke market China atau Tiongkok sudah lama mendengarnya. Ada jaringan khusus. Seluruh hotel, restoran, travel agent dan toko oleh-oleh di Bali pelaku sebenarnya asli dari sana, dengan Nominee lokal,” kata Adhi Ardhana di Denpasar, Senin (145/10).

Politikus PDI Perjuangan asal Kota Denpasar ini mengatakan, praktek Nominee Lokal ini adalah pelanggaran hukum. Masalah ini kata dia, sempat ditindaklanjuti oleh Satpoll PP. Namun, penindakan hukum dinilainya tidak tegas sehingga masalah itu terus terjadi. “Sebenarnya sudah ditidaklanjuti oleh Satpol PP terhadap Travel Agent yang menggunakan Nominee Lokal,” kata Adhi Ardhana.

Menurut dia, untuk mengatasi masalah tersebut tidak ada cara lain selain ketegasan dalam penegakkan hukum. “Awasi semua Travel Agent yang menggarap market China. Travel Agent yang menggunakan Nominee Lokal harud ditindak tegas. Tidak boleh ada toleransi jika ada pelanggaran hukum. Walaupun pemiliknya orang lokal, tapi di belakangnya ada pengusaha dari sana sebagai pemilik yang sebenarnya,” tegas Adhi Ardhana.

Polikus vokal ini menjelaskan, di China ada hukuman bagi warga negaranya yang melakukan pelanggaran hukum di negara lain, yang dikenal dengan istilah Kredit Sosial. “Jadi Pemerintah China akan mencabut paspor warga yang melakukan pelanggaran hukum di negara lain. Mereka tidak diperkenankan lagi pergi ke negara lain. Jadi, kalau di Bali ada yang melakukan pelanggaran hukum harus dibawa ke meja hijau. Walaupun hukumannya tidak berat, tapi di negaranya dia kena Kredit Sosial,” jelasnya.

Ia melanjutkan, pemerintah harus memberi atensi serius untuk mengatasi masalah ini. Pariwisata Bali kata dia, tak seharusnya dijual murah kepada wisatawan. Apalagi untuk wisatawan China, menurut dia sangat potensial sebagai market yang menguntungkan pariwisata Bali, apalagi kunjungan mereka teringgi di Bali. “China adalah market potensial, negara yang sedang maju dengan perputaran uang yang cukup besar,” ujarnya.

Adhi Ardhana menyebut sejumlah hal yang harus diperhatikan untuk menggarap market China. Pertama, Bali wajib memiliki standar keamanan, yang bisa membuat wisatawan China nyaman berkunjung ke Bali. Kedua, Market China memiliki kekuatan uang yang cukup besar. “Kekuatan uang ini tentu bisa diraih apabila dia merasa Bali ini, selain aman juga pantas untuk dikunjungi,” katanya.

Ketiga, Bali harus memahami kebutuhan market China. “Kalau kita bisa penuhi itu maka bukan market murah itu yang datang ke sini. Market China yang ke Amerika contohnya, gak ada yg begini (market murah). Justru yang ke Bali yang begini. Karena terlalu longgar hukum di Bali. Mngkin hukum yang tidak longgar tapi pengawaaan yang longgar. Kalaupun sudah diawasi tapi mendapat toleransi. Ke depan tidak boleh ada lagi toleransi seperti itu. Harus diproses hukum, dan di negaranya dia kena Kredit Sosial,” jelas Adhi Ardhana.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah pelaku pariwisata di Bali yang selama ini menangani wisatawan China mengeluhkan ulah travel agent yang menjual murah pariwisata Bali ke wisatawan China.
Ada dugaan permainan mafia yang menyebabkan pariwisata Bali diobral di sana. Akibatnya, kendati kunjungan wisatawan China ke Bali tertinggi dibandingkan negara lain, namun tidak berkontribusi signifikant bagi perekonomian Bali. Menjual murah pariwisata Bali justru merusak citra Bali sebagai destinasi wisata unggulan. Bali bahkan disebut hanya mendapat sampah dari kunjungan wisatawan China.

Mereka menyebut fenomena ini sudah berlangsung sekitar 2-3 tahun terakhir. Tahun ini bahkan semakin parah karena dijual dengan paket harga yang semakin murah. Travel Agent berlomba-lomba menjual murah paket wisata Bali. Sebelumnyanya dijual 999 RMB (Renin Bi) atau sekitar Rp2 juta. Belakangan ini dijual lebih murah lagi. Mulai 777 RMB atau sekitar Rp 1,5 juta, turun lagi menjadi 499 RMB atau sekitar Rp 1 juta, bahkan sudah sampai 299 RMB sekitar Rp 600 ribu. Harga tersebut sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi, makan dan hotel untuk 5 hari 4 malam.

Mereka mengungkap ada permainan mafia yang dilakukan
pengusaha asal Tiongkok. Pengusaha tersebut membangun usaha Artshop di Bali yang jumlahnya cukup banyak. Pengusaha Artshop inilah yang mensubsidi kedatangan wisatawan ke Bali dengan biaya murah tersebut. Kendati memberi subsidi, mereka tetap akan meraup keuntungan. Sebab, wisatawan asal China yang jumlahnya banyak tersebut, wajib berbelanja di Artshop milik pengusaha China tersebut.
Travel Agent yang menangani mereka yang mengarahkan wisatawan tersebut untuk berbelanja di Arshop tersebut. mereka sudah seperti beli kepala, wisatawan itu wajib belanja di toko (Artshop) itu.

Mirisnya, selama lima hari wisatawan China itu di Bali, hanya satu hari saja mereka menjalani tour, dan itu hanya ke satu Objek Wisata. Waktunya banyak dihabiskan untuk belanja di artshop milik pengusaha China.

Dengan permainan seperti ini, Bali tidak mendapat keuntungan dari kunjungan wisatawan Tiongkok. Kasarnya, kata mereka, Bali hanya dapat sampahnya. Ia melanjutkan dengan pola tour yang hanya mengunjungi satu obyek wisata, wisatawan merasa ditipu. Sebab, mereka ke Bali untuk mengunjungi sejumlah obyek wisata, namun hanya satu obyek wisata yang didatangi. Hal ini juga merugikan citra pariwisata Bali. Wisatawan berpandangan bahwa Bali tidak menarik, sehingga mereka tidak akan kembali lagi.(*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!