Pantai Legian Minim Penerangan, Tempat Favorit Para Waria

posbali.id

LEGIAN, POS BALI ONLINE – Gelapnya kondisi pantai dan rimbunnya pepohonan disinyalir menjadi salah satu penyebab lemahnya pengawasan Pantai Legian. Apalagi kondisi jalanan saat pukul 22.00 ke atas relatif sepi. Karena itulah, kawasan tersebut menurut masyarakat menjadi lokasi favorit bagi kaum waria untuk mejeng. Sebab tak jarang beberapa wisatawan yang mabuk, cenderung ke pantai untuk menghirup udara segar sebelum beranjak ke hotel.

“Kebiasaannya wisatawan memang begitu. Kalau sudah puyeng dari bar mereka cenderung keliling dan ke pantai cari udara segar. Kalau pas ke hotel mabuk kan jadi masalah,” terang salah seorang sopir freelance yang namanya tidak ingin dipublikasikan, Jumat (19/8).

Selama menjadi sopir freelance, dia mengaku sering bergaul dengan wisatawan di Kuta, bahkan sempat pacaran dengan wisatawan. Kebiasaan wisatawan sering berkelakuan aneh-aneh dan senang dipuji-puji ketika mabuk, dan susah diajak kompromi jika mabuk. Sedangkan lokasi yang menjadi favorit wisatawan duduk-duduk saat malam hari yaitu di sepanjang Pantai Legian hingga Double Six. Menariknya, tak hanya wisatawan mabuk yang sering ke pantai tengah malam, tapi terkadang juga waria sering nongkrong dan main kucing-kucingan dengan petugas.

“Memang petugas pantai sering patroli dan tidak memperbolehkan adanya orang-orang yang duduk di pantai pada jam rawan. Tapi mereka terbukti bisa saja meloloskan diri dan main kucing-kucingan. Mereka itu selalu berpindah-pindah tempat mejeng, tergantung di mana ada bule yang mabuk dan sendirian,” paparnya.

Sementara dari penuturan warga sekitar yang menolak disebutkan namanya, kondisi pantai mulai dari depan eks Hotel Bali Anggrek hingga ke Double Six sering menjadi tempat favorit nongkrongnya para waria. Ini karena kondisi pantai relatif remang –remang dan jalanan relatif sepi. Sehingga, jika mereka diusir petugas, mereka gampang untuk bersembunyi dan melarikan diri. Keberadaan bencong tersebut cenderung bertambah seiring bertambahnya petugas. Menariknya, tubuh bencong yang diketahuinya mangkal di daerah tersebut kebanyakan relatif kekar-kekar. “Jangan salah, waria itu fi tness. Sekilas memang tampak gemulai, tapi ketika ngamuk tenaganya melebihi Buser,” ucapnya.

Ditemui terpisah Ketua Pengelola Pantai Desa Adat Legian (PPDAL), I Wayan Suarta tidak menampik di sepanjan Pantai Legian masih kurang lampu penerangannya. Selama ini penerangan cuma mengandalkan penerangan sekitar hotel dan lampu penerangan jalan. Pihaknya mengaku senantiasa melakukan pengawasan selam 24 jam, dan patroli dilaksanakan setiap dua jam sekali. “Setiap sift ada lima sampai enam orang personel kami yang bertugas. Yang keliling itu paling cuma dua atau tiga orang, tergantung tingkat kerawanannya,”ujar Suarta.

Ketika terjadi pembunuhan Aipda Wayan Sudarsa, pihaknya mengaku telah melakukan patroli. Namun pada waktu kejadian itu, tim patroli sedang kembali ke markas.Pada pukul 12 mekanismenya ada pergantian petugas, jam 00.1 dini hari petugas aplusan terjun ke lapangan untuk memantau situasi, kemudian jam 2.30 petugas balik ke pos jaga semula.

Disinggung adanya kabar yang menyebutkan lokasi tersebut adalah tempat favorit mangkalnya para waria, dia menyangkal kondisi tersebut. Dengan alasan di mana pun lokasinya pasti selalu ada waria yang mangkal, karena ada mangsa yang disasar. Namun, dia mengakui di lokasi itu sering ada taksi yang mengkal secara liar, tapi begitu ada pengawasan dari LPM mereka langsung kabur. “Itu daerah umum, siapa pun boleh kesana. Kita sering diajak kucingkucingan, ketika kita pergi, dia datang,” beber Suarta seraya menyatakan, dengan adanya kejadian tersebut, pihaknya mengaku akan meningkatkan pengawasan pada titik-titik rawan. 023

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

2 tanggapan untuk “Pantai Legian Minim Penerangan, Tempat Favorit Para Waria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!