Palinggih Bukit Kiwa-Tengen di Kompleks Pura Agung Besakih

posbali.id
Palinggih Bukit Kiwa dan Bukit Tengen di mandala VI Pura Penataran Agung Besakih

PURA Besakih yang terletak di lereng Gunung Agung merupakan kompleks pura yang sangat besar dan terbagi dalam sejumlah pura yang lebih kecil. Sebagai pusat (inti) dari kompleks besar tersebut adalah Pura Penataran Agung yang terletak di tengah-tengah ‘megakompleks’ Pura Besakih. Penataran Agung dikelilingi oleh sejumlah pura seperti Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul, Pura Batu Madeg, Pura Basukihan, Pura Pedharman, Pura Goa Raja, Pura Bangun Sakti, dan masih banyak lagi.

Sebagai pusat, Pura Penataran Agung sesungguhnya terdiri dari tujuh tingkatan (mandala). Tujuh mandala tersebut merupakan simbol sapta loka, tujuh tingkatan alam spiritual bagian atas dalam keyakinan Hindu. Ketujuh mandala yang dimiliki Pura Penataran Agung ini belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Dari tujuh mandala yang ada, mandala II adalah yang paling papuler, dimana terdapat Padma Tiga, dan biasa dijadikan tempat sembahyang bersama ketika upacara Ngusaba Kadasa tiap tahunnya.

Mandala I  dihitung dari candi bentar hingga gelung kori agung, selanjutnya mandala II adalah areal yang melingkupi seluruh halaman di komleks Padma Tiga. Mandala III terhitung dari undagan di atas kompleks Padma Tiga, sedangkan mandala IV mencangkup kompleks palinggih Ida Ratu Sunaring Jagat dan Ida Ratu Ngurah Subandar. Mandala V mencakup kompleks palinggih Ida Ratu Ayu Magelung, sementara di mandala VI terdapat Palinggih Ratu Bukit Kiwa-Tengen. Di mandala VII tidak ditemukan palinggih, hanya ada serumpun bambu kuning yang tumbuh disana. Mandala VII merupakan simbol alam sunia (sunialoka).

 

Palinggih Bukit Kiwa dan Bukit Tengen yang berada di mandala VI tidak banyak diketahui keberadaan dan fungsinya oleh masyarakat. Letaknya yang paling hulu mengasosiasikan kedua palinggih ini sangat penting dalam kompleks Pura Besakih. Menurut buku Acara Karya Agung Eka Dasa Ludra (1962:41) yang disusun Panitia Besar karya Agung Eka Dasa Rudra di Besakih, palinggih ini juga disebut sebagai palinggih Ratu Pucak Kiwa dan Ratu Pucak Tengen atau Ratu Pucak dan Ratu Pameneh. Keduanya merupakan simbol purusa (aspek kejiwaan) dan pradhana (aspek kebendaan) yang tersimbolkan dalam wujud Bhatara Hyang Putrajaya dan Bhatari Hyang Dewi Danuh.

Secara mitologis, dalam sejumlah teks tradisional, kedua tokoh ini disebut sebagai putra-putri Hyang Pasupati yang ditugaskan datang ke Bali uantuk menjaga kerajegan bumi Bali. Hyang Putrajaya disimbolkan berstana di Gunung Agung, sedangkan Hyang Bhatari Danuh disimbolkan berstana di Gunung Batur (Gunung Lebah).

Menurut teks Usana Bali misalnya, Gunung Agung dan Gunung Batur yang ada di Bali disebutkan berasal dari potongan Gunung Mahameru (Himalaya) di Jambudwipa (India). Konon Hyang Pasupati membawa bongkan kedua gunung tersebut untuk menstabilkan Bali yang goyah dan terombang-ambing di lautan lepas. Kedua gunung ini kemudian dianggap sebagai pusat holistik Bali, dimana Gunung Agung berperan sebagai purusa, sedangkan Gunung Lebah berperan sebagai pradhana.

Palinggih Bukit Kiwa dan Bukit Tengen yang berada di mandala VI Pura Penataran Agung Besakih merupakan palinggih perwujudan untuk memuja Tuhan dalam manifestasi sebagai Bhatara Hyang Putrajaya yang berstana di Gunung Agung dan Bhatari Hyang Dewi Danuh yang berstana di Gunung Batur. Kedua tooh ini merupakan simbol purusapradhana.

Penamaan kedua palinggih kemungkinan bersumber dari pemaparan sejumlah teks tradisional yang bersifat mitologis seperti Lontar Usana Bali, Kusuma Dewa, dan Kuttara Kada Dewa Purana Bangsul. Konon Hyang Pasupati memotong puncak Gunung Mahameru di India dan menerbangkan potongannya itu dengan menggunakan kedua tangannya. Tangan kanan (tengen) digunakan memegang bagian atas Gunung Mahameru yang kemudian menjadi Gunung Agung di Bali, sedangkan tangan kiri  (kiwa) digunakan membawa potongan lainnya yang kemudian menjadi Gunung Batur di Bali.

Dalam konteks ini Gunung Agung kemungkinan diwujudkan sebagai Palinggih Bukit Tengen, sedangkan Gunung Batur diwujudkan sebagai Palinggih Bukit Kiwa. Perwujudan ini juga masuk dalam tatanan tempat suci yang lebih kecil, yaitu menjadi Palinggih Perucut (Catu Mujung) dan Palinggih Gunung Lebah (Catu Meres) di Desa Pakraman maupun sanggah.

Kedua palinggih tersebut secara fisik berbentuk gedong persegi dengan ukuran sekitar 2,5 m2. Bentuk fisik bangunan palinggih dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni pondasi, badan, dan atap. Pondasi palinggih terbuat dari batu hitam khas Karangasem. Di bagian depan pondasi terdapat sejumlah tangga untuk akses ke badan bangunan. Tangga tersebut diapit oleh arca binatang sejenis singa. Di bagain atas pondasi, tepatnya di pojok depan masing-masing palinggih ditempatkan sepasang arca yang berperawakan seorang pendeta.

Bagian badan Palinggih Bukit Kiwa dan Tengan dibuat dengan kayu berhias ukiran yang dicat dengan pradaLawangan (pintu) gedong berada di bagian depan dengan ukuran yang cukup lebar. Sementara itu, atap palinggih berbentuk limas dan beratapkan ijuk.

Secara struktur, kedua palinggih tersebut tidak memiliki perbedaan. Perbedaan dapat diketahui dari warna wastra (busana) yang dikenakan di kedua palinggih. Palinggih Bukit Kiwa yang berada di sebelah kiri dihiasai wastra didominasi dengan kain kuning, sedangkan Palinggih Bukit Tengen yang berada di sebelah kanan menggunakan wastra berwarna putih. Perbedaan ini semakin jelas mengindikadikasikan kedua palinggih sebagai tempat suci untuk memuja Tuhan dalam wujud Purusa-pradhana atau Rwa Bhineda.

Menurut penuturan Jro Mangku Sueca, pemangku Pura Besakih saat dihubungi POS BALI melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu, wali (upacara) di kedua palinggih ini jatuh pada Buda Wage kelawu atau (Buda Cemeng Kelawu). Pada hari suci tersebut, umat Hindu di Bali biasanya melakukan pemujaan kepada Ida Bhatara Rambut Sedana untuk memohon kesejahteraan.

Sementara itu, Jro Mangku Sueca juga mengatakan sisi unik dari pelaksanaan wali di kedua palinggih tersebut. Saat odalan digelar, maka harus diadakan “tajen”. “Jika di sana (PalinggihBukit Kiwa-Tengen, red) wali, wajib adakan tajen. Tidak mesti menggunakan ayam, jika tidak bisa dengan ayam, boleh menggunakan telur, kelapa, maupun kemiri. Tiang tidak tahu makna sesungguhnya, mungkin berkaitan dengan fungsi palinggih sebagai simbol purusa-pradhana atau rwa bhineda,” terangnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *