Paham Islam dalam Lontar Bali

posbali.id
Kanda Nabi Yusup koleksi Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana

DENPASAR, POSBALI.ID – 
Konsep-konsep ajaran Islam ternyata banyak ditemui dalam khazanah lontar tradisional Bali. Sebagaimana yang tersimpan di Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana (Unud), dari 939 koleksi beberapa diantaranya memuat anasir-anasir (paham) Islam.Lontar yang memuat anasir-anasir Islam terdiri dari berbagai jenis seperti geguritan, kanda, hingga usada. Beberapa judul itu diantaranya Geguritan Loda, Geguritan Nengah Jimbaran, Geguritan Kawiswara, Ahmad Muhammad, Usada Manak, dan Kanda Nabi Yusuf.

“Secara kuantitas naskah yang bernuansa Islami tidak terlalu banyak di koleksi kami. Tapi, teks-teks yang memuat anasir-anasir ajaran Islam ada, misalnya dalam Geguritan Loda, Geguritan Kawiswara, termasuk Usada Manak yang membicarakan anasir Islam di dalam mantra pengobatannya,” ungkap petugas Pusat Kajian Lontar Unud, Putu Eka Guna Yasa, Kamis (17/5) di Pusat Kajian Lontar Unud.

Dalam Geguritan Loda salah satunya. Guna menyatakan, teks yang pengarangnya masih diperdebatkan itu intinya membahas tatwa kediatmikaan (filsafat). Teks yang menceritakan dialog antara Loda dan ayahnya itu membicarakan soal panglukun aksara yang meliputi ongkara, dwi aksara, tri aksara, panca tirta, hingga dasa aksara.

Uniknya, pada bagian akhir geguritan tersebut memuat ungkapan “eda suwud ngulik sasana muah tatwa yab ada mbahang nyilih, Tatwa Jnyana Darma Putus, muah Bhuwana Kosa lan Astaguna Arum, yadin soroh tutur Slam inger-inger palajahin (jangan berhenti mempelajari sasaba atau etika apabila ada yang meminjamkan pustaka, Tatwa Jnyana Darma Putus, Bhuwana Kosa dan Astaguna Arum, termasuk segala macam filsafat Islam patut resapi dipelajari).

“Dari teks tersebut kita dapat menduga bahwa dalam khazanah pengetahuan, filsafat itu bersifat sangat netral, dapat dipelajari oleh setiap orang tanpa membedakan agama dan keyakinan,” katanya.

Dalam Geguritan Nengah Jimbaran, anasir yang memuat unsur Islami juga ditemukan. Karya sastra yang menonjolkan tokoh Nengah Jimbaran sebagai tokoh utama itu menceritakan  yang ia ditinggalkan oleh istrinya yang meninggal akibat sakit kolera. Selama 42 hari Nengah Jimbaran menunggui istrinya di kiburan.

Kemudian itu membuat Bhatara Siwa turun dan memberikan petunjuk agar ia pergi ke sebuah lokasi di Batuyang. Disana Nengah Jimbaran bertemu kakek tua yang mengantarkannya menemui istrinya lewat sebuah tangga di sebuah palinggih kecil di tengah sawah. Tangga itulah yang dipanjat hingga ia tembus ke dimensi yang lain dan menemui istrinya.
Disana ada dialog agar ia mengiklaskan istrinya yang sudah meninggal. Nengah Jimbaran kemudian mendapat istri dari bangsa halus dengan catatan tidak boleh dimadu serta kekuatan yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Hingga akhirnya diperintahkan mengobati raja Badung dan dihadiahi seorang istri yang membuat istri dari bangsa halus itu pergi.

“Beberapa petikan yang mengandung anasir ajaran Islam dalam teks tersebut diantaranya dinyatakan, ‘hamba junjung seribu junjung, ingetkan di dalam hati, insya Allah jangan lupa berkatnya Tuhan sendiri’. Ada pula pemakaian kata pulang ke Rahmatullah, yang artinya penulis itu sedikit tidaknya telah menuliskan konsep Islam,” ucap Guna menjelaskan teks berbahasa Melayu itu.

Pada Usada Manak, lanjut Guna juga banyak ditemui uraian uang berkaitan dengan anasir Islam dalam mantra-mantranya. Salah satu mantra dari teks usadayang menguraikan tata cara menguatkan janin di dalam kandungan hingga melahirkan bayi itu berbunyi “bungkah aku kancing Allah Rasullah, 3 kali”.

Geguritan Rasatama jika kota lihat juga ada pada bagiannya yang menyatakan konsep kafir. Sementara pada teks Kanda Nabi Yusup melalui manggala (pembuka, red) dan kolofon (uraian penutup, red) mengatakan kisah tokoh2 Rosul dan Nabi dalam ajaran Islam. Belum lagi Geguritan Amir, Ahmad Muhamad, dan Rumaksa ing Wengi,” jelas Guna.

Berkaca pada temuan itu, ia menduga bahwa anasir-anasir Islam telah masuk dalam sebagai suatu refrensi filsafat para sastrawan Bali meski tidak menyusup penuh. “Lalu apakah ketika mempelajari konsep itu apakah harus pindah agama? Tentu tidak, tetapi dialog-dialog itu saya yakini ada. Teks-teks Bali ini penting ditengok soal harmonisasi, terlebih di tengah krisis agama seperti saat ini,” pungkasnya. eri
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!