Nyepi Dan Saraswati Bersamaan, PHDI Imbau Umat Jangan Gelisah

DENPASAR, POS BALI ONLINE – Perayaan Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Saraswati dipastikan berlangsung pada hari yang sama, pada 17 Maret 2018 mendatang. Kendati masih cukup lama, hal ini sudah ramai dibicarakan di kalangan umat Hindu Indonesia maupun seluruh PHDI masing-masing provinsi di Indonesia. Tidak mengherankan mendengar ramainya pembicaraan mengenai hal ini, sebab fenomena ini merupakan sebuah keunikan yang jarang terjadi, dan perlu adanya perhatian dari berbagai pihak mengenai pelaksanaan kedua hari raya Hindu tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, bahwa telah banyak umat yang menanyakan kepada pihak PHDI Bali maupun kepada dirinya secara pribadi. “Mengenai pelaksanaan Nyepi dan Saraswati yang jatuh pada hari yang sama sudah banyak yang bertanya ke pada PHDI termasuk ke saya pribadi. Umat yang bertanyapun bukan hanya dari Bali saja, namun banyak juga dari umat Hindu seluruh Indonesia,” ucapnya.

Untuk memberikan kepastian kepada seluruh umat, pihaknya akan mengadakan pesamuan untuk menentukan keputusan yang akan diambil. “Kami dari parisada akan mengadakan pesamuan untuk menentukan bagaimana pelaksanaan Nyepi dan Saraswati, jadi umat Hindu jangan gaduh dulu, karena parisada pasti akan memberikan solusi, dan kami juga tidak bisa mengambil keputusan sendiri,” sebutnya.

Selain itu, Ia mengungkapkan jika sebelumnya sudah pernah ada hasil keputusan mengenai pelaksanaan Hari Raya Nyepi apabila berbarengan dengan hari raya lain. “Dulu memang pernah ada penyatuan tafsir bagaimana menyikapi jika ada hari raya yang berbarengan dengan Hari Raya Nyepi. Apakah pesamuan nanti hasilnya sama dengan hasil tafsir kami dulu ataukah akan ada perubahan,” ungkap Ngurah Sudiana yang juga menjabat sebagai Rektor IHDN Denpasar ini.

Ia pun menyampaikan isi dari penyatuan tafsir terdahulu. Bahwa apabila terdapat hari raya atau piodalan yang pelaksanaannya bersamaan dengan Nyepi, maka pelaksanaannya harus sudah berakhir sebelum jam enam pagi. “Begitu sudah terdengar suara kulkul, berarti waktu pelaksanaan prosesi upacara sudah berakhir dan tidak ada aktifitas lagi. Dan kita harap pelaksanaan Saraswati dan Nyepi, keduanya berjalan dengan baik,” harapnya.

Menunggu hasil pesamuan nanti, dan sekaligus menyusul surat edaran yang akan disampaikan ke masing-masing kabupaten/kota maupun desa pakraman. Ngurah Sudiana pun memberikan imbauan kepada seluruh umat Hindu agar jangan terburu-buru menyimpulkan sendiri mengenai hari raya yang jatuhnya bersamaan. Akan lebih baik bila mengacu pada hasil pesamuan yang akan digelar PHDI.

“Umat Hindu tidak perlu gelisah mengenai hal ini. Karena parisada akan mengantisipasi dan mencarikan solusi yang paling tepat sesuai dengan dasar-dasar sastra yang ada. Dan tidak perlu terburu-buru memutuskan sendiri,” pungkasnya. rah

Share

5 tanggapan untuk “Nyepi Dan Saraswati Bersamaan, PHDI Imbau Umat Jangan Gelisah

  • 16/11/2017 pada 5:04 AM
    Permalink

    Hari raya bersamaan bukan fenomena baru dalam perayaan hari hari raya umat HINDU…ini bisa terjadi karena tidak semua hari raya jatuh setiap 210 hari sekali…ada yang setahun sekali…pada siklus tertentu pasti pernah bersamaan…pengaturan tentang prosesi masing masing hari raya itu yang harus diatur agar ada kesamaan persepsi dan langkah dalam pelaksanaan…bagaimana proses pelaksanaan…dan langkah langkah apa yabg perlukan…dalam istilah HINDU kita mengenal memulainya waktu semeng atau pagi hari …mulai matahari terbit…atau kira kira pukul 06.00 pagi….kita tidak mengenal istilah setelah jam 24.00…sudah termasuk pagi…..disinilah sedikit permasalahannya…contoh bulan maret 2018 ini NYEPI bersamaan dengan SARASWATI..jika mengadopsi kala atau waktu kalender HINDU bahwa berata penyempian dimulai saat matahari terbit dan berakhir esok paginya saat matahari terbit juga….berarti SARASWATI dirayakan pada hari itu juga…normalnya sampai sebelum tajeg surya atau matahari pas diatas kepala kurang lebih jam 12 siang….nah kalau dirayakan sebelum pukul 06.00 pagi berarti harinya masih sukre watugunung…bukan caniscara watugunung…karena pergantian hari dimulai matahari terbit..bukak setelah pukul 00.00….sekarang tinggal permasalahan teknis yang diatur….yakni SARASWATI tetap dirayakan dengan ketentuab cukup diwilayah masing masing tanpa memakai sarana gong dan sebagainya yang menimbulkan suara gaduh…kira kira itu solusi terbaik….

    Balas
  • 16/11/2017 pada 3:15 PM
    Permalink

    Kenapa biarkanlah nyepi pada hari itu yg jatuhnya setahun sekali dan kita bisa intropeksi diri di hari nyepi, dan besoknya banyu pinaruh kita rayakan saraswati barengan ngembak geni akan lebih pas.

    Balas
  • 16/11/2017 pada 6:40 PM
    Permalink

    Sepertinya ini menjadi ajang berkumpulnya umat hindu dalam suatu pura, mengapa demikian, karena apabila suatu pura yg odalannya jatuh pada hari raya saraswati, maka akan bersamaan lah dirayakan saraswati dan nyepi itu dalam sebuah pura, alangkah lebih hikmatnya umat hindu dpt berkumpul dan sharing keagamaan, saling intropeksi diri
    Yg jelasnya jgn sampai ada kegaduhan apalagi sampai diadakan kegiatan *berpancasila* ini kegiatan yg paling sering dilakukan umat kita, berpancasila ini dimksudkan yakni meceki, atau spirit atau judi yg lainnya.
    Maaf apabila ada kata yg salah
    Suksma
    Salam edy sulawesi selatan
    Om santih santih santih Om

    Balas
  • 16/11/2017 pada 9:46 PM
    Permalink

    Harus bisa menyikapi dampaknya secara Nasional untuk keputusan yang diambil PHDI terhadap intern umat Hindu juga imbas terhadap pemahaman umat lain yang nantinya menjadi penilaian pemahaman terhadap kegiatan umat hindu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *