Naik, Rangking Penyalahgunaan Narkoba oleh Mahasiswa dan Pelajar

posbali.id

DENPASAR, POSBALI.ID – Rangking penyalahgunaan narkoba oleh mahasiswa dan pelajar di Bali mengalami kenaikan. Saat ini golongan mahasiswa dan pelajar menempati urutan keempat dari semua golongan penyalahgunaan narkoba.

“Penyalahgunaan narkoba golongan mahasiswa pelajar saat ini nomor 4 (di Bali). Bergeser dimana dulu mahasiswa pelajar nomor 6, sekarang sudah nomor 4,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali, Brigjen Pol I Putu Gede Suastawa, Selasa (3/4).

Meski mengalami kenaikan rangking, ia mengatakan hingga saat ini pelajar dan mahasiswa bukan menjadi target utama penyalahgunaan barang terlarang itu. Hal ini karena mahasiswa dan pelajar dinilai relatif tidak kuat dari segi keuangan.

“Dalam rentang 2016 hingga 2017, fenomenanya penyalahgunaan narkoba tertinggi belum berubah. Pertama dari golongan pekerja swasta, kedua orang tidak bekerja, ketiga golongan bisnis murni, dan keempat baru mahasiswa pelajar. Target (pengedaran) narkoba yang banyak ditemukan seperti yang seberat 500 gram hingga 2 kg menarget golongan pertama dan kedua,” katanya.

Dua sasaran utama tersebut dinilai telah mandiri dalam urusan keuangan, sehingga pengedar lebih memfokuskan target kepada dua golongan tersebut.

Selanjutnya, untuk meminimalisir penyebaran barang terlarang itu di kalangan remaja, pihaknya mengatakan telah bersinergi dengan berbagai pihak dan melakukan proses pencegahan setinggi-tingginya. Saat ini bahaya penyalahgunaan narkoba telah dimasukkan dalam kurikulum, disisipkan dalam empat mata pelajaran yaitu pelajaran Agama, Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Penjaskes.

“Makanya jika ditanya tanpa ceramah pun mereka sudah paham bahaya narkoba, itu lumayan efektif. Selain itu kalau pemerintah merekrut pegawai negeri juga dites urine. Di pertengahan jalan juga dilakukan tes urine,” jelasnya.

Swastawa mengatakan, tantangan pemberantasan penyaalahgunaan narkoba, ia mengatakan kepedulian masyarakat adalah hal yang utama. Ia berharap masyarakat dapat secara aktif ikut bersama-sama mencegah peredaran narkoba. Pihak swasta, dinas atau instansi pemerintah diharapkan secara aktif dan bersungguh-sungguh ikut memberantas narkoba.

“Upaya itu juga tidak terlepas dari desa pakraman. Di Bali sudah ada pararem dari desa pakraman terkait pemberantasan narkoba. Di Klungkung, Badung, Denpasar, Gianyar sudah ada parapem, pecalang termasuk LPM telah dilantik jadi relawan, termasuk mahasiswa, di SMA ada KSPAN,” jelasnya.

Sementara itu jumlah pecandu di Bali dalam kurin waktu 2017 tercatag mencapai 50937 orang. Jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya yang berjumlah 62447 orang. Persebarannya telah melingkupi seluruh kabupaten/kota di Bali dengan jumlah pengguna tertinggi berada di Denpasar, Badung, dan Buleleng

Terkait dengan golongan yang banyak dikonsumsi, ia mengatakan jenis sabu-sabu masih menjadi idola di kalangan penyalahguna narkoba. Sedangkan penggunaan ganja cenderung menurun, diganyikan dengan tembakau gorila yang mengalami kenaikan. Peningkatan penggunaan tembakau gorila disinyalir karena jenis ini lebih murah dan efeknya lebih dahsyat dari ganja.

“Sabu-sabu, ineks, itu masih menjadi trend tertinggi di Bali, (sementara) kokain dan heroin lebih banyak orang luar. Golongan ini tidak jadi idola karena mahal, namun bisa saja menjadi idola jika keungan masyarakat mencukupi,” ungkapnya sembari mengatakan telah menangkap 4 orang warga negara Malaysia terkait penggunaan narkoba di Bali selama tahun 2018. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *