Multikulturalisme dan Kerukunan

posbali.id

Oleh : N. Sunarti

Belakangan ini pembicaraan tentang kerukunan sering diperbincangkan. Sebagai bangsa yang majemuk, berbagai tantangan dihadapi. Para pendiri bangsa bertekad mempertahankan NKRI, sementara ada pihak yang mungkin ingin memisahkan diri.

Sehubungan dengan itu, mungkin kita perlu lagi memahami paham multikulturalisme yang pernah menjadi bahan pembicaraan dimana-mana terutama oleh kaum intelektual muda. Paham mini merupakan pandangan dunia yang diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang memberi tekanan terhadap realitas seperti keagamaan, pluralitas, juga multikultural yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme mengakui dan menghormati adanya perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan.  Dengan demikian multikulturalisme mencakup cara pandang, gagasan, kebijakan penyikapan dan tindakan masyarakat suatu negara yang majemuk dari segi etnik, agama, budaya dengan keanekaragamannya seperti Indonesia.

Mengacu pada Bhiku Parekh dalam bukunya Rethinking Multiculturalism, dalam istilah multikulturalisme selalu terkandung komponen yang terkait dengan kebudayaan, yaitu pluralitas kebudayaan serta cara merespons pluralitas itu sendiri. Oleh karena itu multilulturalisme bukan sebuah doktrin politik pragmatik melainkan cara pandang kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat warga (civil society). Hampir semua negara di dunia ini termasuk di Indonesia, terdiri dan tersusun dari aneka ragam kebudayaan, etnik, bahasa, cara hidup dan agama.

Yang jadi masalah, seringkali orang menganggap bahwa multikulturalisme bertentangan dengan agama maupun kepercayaan. Multikulturalisme dianggap ranah dari budaya bukan agama. Multikulturalisme juga ditafsirkan sebagai paham yang menyesatkan karena digunakan oleh kelompok liberal.  Dalam buku Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the Unfamiliar, (2004), yang disunting Kamanto Sunarto dkk secara umum memberikan pemahaman mengenai minoritas dan multikulturalisme baik dari segi konsep maupun kebijakan politik kebudayaan di Indonesia. Lebih jauh dan lebih penting adalah isu khusus minoritas tentang agama dan kebudayaan dimana konflik minoritas mayoritas agama seringkali terjadi.

Selain itu, di era komunikasi global ini kita tak boleh mengabaikan media massa, karena merupakan guru bagi masyarakat. Melalui media massa seperti TV internet, surat kabar dan lain- lainnya, masyarakat termanipulasi tanpa menyadarinya. Apa yang ditulis ataupun ditayangkannya belum tentu sesuai realitas bahkan bisa hiperrealitas, artinya realitas itu sendiri tidak pernah ada.

Kecanggihan teknologi media global saat ini dapat menciptakan citraan-citraan yang tampak lebih indah, menarik, sempurna dibanding dengan aslinya. Contoh Perang Teluk, konflik Israel-Palestina yang berkecamuk sejak tahun 1948. Konflik ini diinterpretasikan oleh masyarakat di Indonesia menjadi konflik agama. Sampai-sampai banyak massa maupun perorangan yang unjuk rasa solidaritas dengan berdemo di jalan-jalan raya dengan membawa spanduk-spanduk anti Israel ataupun memakai pin-pin dengan tulisan ‘I love Palestina’. Hal-hal semacam itu terutama di Jakarta sangat terasa dampaknya yaitu menjadi kurang nyaman dan kurang harmonis hubungan antar umat beragama. Padahal dalam peristiwa apapun termasuk perang tersebut tidak lepas dari peran dominasi bahkan manipulasi media massa yang amat besar. Media massa telah menggiring opini masyarakat melalui tayangan-tayangan, tulisan-tulisan, slogan-slogannya sehingga masyarakat hanya menjadi the silent majority tanpa dapat memanfaatkan kesempatan merefleksi serta merenungkan kebenaran setiap berita yang masuk ke dalam memori masing- masing sebagai penerima pesan.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara multikultur, Bhineka Tunggal Ika dari Sabang sampai Merauke terdiri dari beragam suku, agama, ras dan juga golongan. Keanekaragaman tersebut sebenarnya dapat dipakai untuk ranah kebersamaan sebagai sesama yang saling menghormati dan menghargai keperbedaan. Berkaitan dengan multikulturalisme budaya, terdapat konsep pluralisme agama yang menerima eksistensi masing-masing agama dalam pluralitasnya. Pluralisme agama menyatakan bahwa sebuah agama bukan merupakan satu-satunya sumber eksklusif bagi kebenaran, karena dalam agama yang berbedapun ditemukan nilai-nilai kebenaran.

Ringkasnya, yang penting bagaimana kita membina kerukunan. Sebab kerukunan itu merupakan salah satu bukti implementasi tuntunan agama yang dianut. Agama Khonghucu sejak semula memberikan tuntunan kedamaian dan selalu membina kerukunan kepada semua orang. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!