Mubazir, Dibiyai Ratusan Juta Bank Sampah Mangkrak

posbali.id

 

JEMBRANA, POS BALI – Obsesi Pemerintah Bumi Makepung Jembrana untuk menciptakan dan membangun bank sampah sebenarnya sangat bagus. Namun sayangnya setelah pemkab Jembrana melalui  Kantor Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) membangun rumah Atap dengan menelan APBD Ratusan juta rupiah yang rencananya untuk pengelolaan bank sampah di Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, kini kondisinya terbengkalai tanpa dimanfaatkan alias mangkrak.

Dari informasi yang dihimpun POS BALI, Minggu (5/11) rumah atap yang rencananya untuk bank sampah tersebut dibangun di belakang SD yang diregroping dan kondisinya sudah hancur dan pernah dipakai untuk bank sampah. Dalam pembangunannya itu, menggunakan dana  APBD pada Mei 2015 senilai Rp 198 juta dari Kantor Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) Jembrana. Lantaran hingga saat ini tidak dimanfaatkan sejak selesai di bangun, sehingga bangunan tersebut dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menaruh jemuran pakaian serta untuk menaruh kayu bakar. sontak kondisi tersebut mengundang rasa prihatin warga sekitar lantaran bangunan yang menelan dana ratusan juta sama sekali tidak difungsikan sehingga kelihatan kotor dan jorok. Terlebih letak bangunan dikelilingi dengan bekas bangunan SD yang hancur.

Sejumlah warga yang namanya enggan dikorankan mengatakan, memang rumah atap atau bangunan yang rencananya digunakan untuk bank sampah saat selesai dikerjakan hingga saat ini sama sekali belum pernah dimanfaatkan. “Sejak selesai dikerjakan bangunan itu sama sekali tidak pernah difungsikan. Jadi dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk jemur pakaian dan menaruh kayu bakar. Sangat disayangkan bangunan menghabiskan ratusan juta dibiarkan mangkrak. Seharusnya kalau tidak siap untuk memanfaatkan itu jangan asal bangun. Dulu sebelum ada bangunan itu bank sampah dengan menggunakan bangunan sekolah jalan. Kok malah dibuatkan bangunan baru malah mangkrak,” katanya

Sementara, Perbekel Penyaringan Made Destra membantah jika bank sampah tersebut mangkrak. “Itu tidak mangkrak hanya berhenti sebentar dikarenakan terkendala tenaga. Dulu itu tenaganya ada 3 orang satu menjadi mangku dan satu lagi melahirkan sehingga satu orang tidak kuat kerja di bank sampah itu sehingga berhenti sebentar. Sekarang yang melahirkan itu sudah siap kembali bekerja sehingga bank sampah itu segera beroprasi kembali sambil mencari tenaga lagi satu orang. Bank sampah itu akan segera beroprasi,” katanya

Namun disisi lain Kadis Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) Jembrana I Ketut Karyadi Erawan saat dikonfirmasi via telpon dalam keadaan aktif namun tidak diangkat. Dan berusaha di sms hanya menjawab dengan mengaku dirinya menjabat Kadis LHKP Februari 2017. “Wah… Saya jadi Kadis LHKP Februhari 2017,” tulisnya singkat. 024

Banguanan atap untuk bank sampah yang dimanfaatkan untuk menjemur pakaian.
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *