Mimbar Khonghucu

Menaruh Hormat pada Perempuan

 

N. Sunarti

SING Jien (Nabi) Khongcu bersabda,”Orang yang setelah memahami Ajaran Lama lalu dapat menerapkannya pada yang baharu, dia boleh dijadikan guru”.

Khonghucu istilah aslinya disebut Ji Kau, atau Agama Ji, berarti agama bagi yang lembut hati, yang terbimbing, yang terpelajar dalam ajaran suci. Karena peranan besar dari Nabi Khongcu dalam penyempurnaan agama ini, maka dunia, di mulai dari dunia Barat lebih banyak menyebutnya agama Khonghucu atau Konfucius.

Chandra Setiawan dalam makalahnya pada tahun 1999 mengatakan, agama Khonghucu mempunyai masa perkembangan yang sangat panjang sebelum memiliki bentuknya seperti yang sekarang. Mengenai pemaparan tentang perempuan, di dalam kitab Sanjak (Shi-Ching, bagian Chiang Chung-tsu, Sanjak 3, berjudul ,”Menjinjing Busana) terdapat sanjak yang memperlihatkan bagaimana seorang perempuan berupaya mempertahankan martabatnya di hadapan laki-laki. Bunyinya,” Chung, kekasihku yang terhormat, kumohon janganlah bertindak demikian, melompat masuk ke kebunku, hingga mematahkan dahan pohon-cendanaku. Kerusakan itu dapat kuabaikan, tetapi bila ada seorang sekitar mengetahui perbuatanmu itu, mereka akan bertanya:’Gerangan apakah yang membawa pemuda itu ke sana? Kata-kata mereka inilah yang kukhawatirkan. Engkau, Chung mendapat jantung-hatiku; tetapi umpat caci merekalah yang akan mencemarkan daku.” Sanjak di atas menunjukkan kepada kita bahwa meskipun wanita bebas-merdeka pada zaman itu, tetapi mereka tidak menyetujui percintaan bebas tanpa batas-batas kesusilaan.

Pada Sanjak 6 yang terdapat pada Bagian Wei (Sanjak Wei), berjudul Mang (Bajingan) berbunyi sebagai berikut, ”Tetapi engkau tak mengenal tebing maupun pantai, nafsumu tak pernah mengingkari hal ini. Kembali pada masa remajaku yang bahagia, tatkala rambutku masih terikat pada pita, dengan tak berpikir panjang lebar, engkau kuikuti; aku tak mengerti, bahwa janji setia dan senyum manismu ternyata palsu belaka. Bagiku engkau mengucapkan sumpah suci, siapa tahu, kini kau ingkari semua. Tak ku sangka engkau begitu jahanam. Sekarang aku menyesal tanpa guna.” Sanjak tersebut di atas menggambarkan kecaman perempuan secara terbuka terhadap perlakuan sewenang-wenang oleh kaum pria terhadap perempuan. Tentu mengharukan sekali seorang perempuan mengungkapkan secara terus terang perlakuan yang diterimanya bagaikan “habis manis sepah dibuang” oleh pria hidung belang.

Pada Kitab Yak King (Kitab Perubahan) ada wacana sebagai berikut,”…tahan dalam kebajikan dengan benar-teguh: untuk seorang istri adalah rahmat..” ; Pula, “rahmat karena isteri yang benar-teguh menunjuk sifat mengikuti yang satu sampai akhir hayatnya.” Sebaliknya bila seorang perempuan mengadakan hubungan gelap dengan banyak pria, dianggap tidak mendapat rahmat. Kitab Kejadian berkata,”wanita perkasa, bukan untuk menjadi istri.” “….Begitu seorang anak laki-laki atau perempuan lahir, orang tuanya tentu berharap kelak ia memperoleh seorang isteri/suami. Hati orang tua yang demikian ini semua orang mempunyainya. Tetapi kalau tanpa menanti perkenan orang tuanya,.. melainkan diam-diam saling mengintip dari celah-celah dinding lalu memlompati pagar dan lari, niscaya orang tuanya, bahkan orang seluruh negeri akan memandang rendah perbuatan mereka…” Nabi Khongcu sangat menaruh hormat pada perempuan, khususnya terhadap Lembaga Perkawinan, seperti dapat kita ikuti pada teks-teks berikut: Pada Kitab Lee Ki (Catatan Kesusilaan) disebutkan, ”Pernikahan ialah pangkal peradaban sepanjang zaman. Dia bermaksud memadukan dan mengembangkan benih kebaikan dua jenis manusia yang berlainan keluarga untuk melanjutkan Ajaran Suci para Nabi. Ke atas untuk memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi kepada para leluhur dan ke bawah untuk meneruskan keturunan.” (*)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *