Mimbar Buddha

posbali.id

Cinta dan Membalas Budi Orangtua

 

GWA Suputra

KASUS tewasnya seorang anggota TNI yang baru berusia 20 tahun akibat terlibat perkelahian di Jimbaran, cukup menarik perhatian. Dalam kasus itu, yang terlibat semua anak muda bahkan ada yang masih duduk di bangku SMA. Dalam kasus itu, mungkin yang ada hanya rasa marah, artinya tak ada rasa cinta. Bagaimana kira-kira situasi keluarga mereka? Entahlah.

Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan. Perasaan itu diberikan pada manusia untuk saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian. Cinta tidak dapat dipaksakan. Cinta juga sering datang secara tiba-tiba. Cinta memang sangat menyenangkan, tapi kepedihan yang ditinggalkannya kadang berlangsung lebih lama dari cinta itu sendiri. Antara cinta dan benci batasnya amat sangat tipis. Tetapi dengan cinta dunia yang kita jalani terasa lebih indah, harum dan bermakna.

Lalu bagaimana cinta kasih seorang ibu terhadap anak atau putra-putrinya? Menurut Sri Pannavaro Mahathera dalam ceramahnya tentang Dhamma, dalam agama Buddha kedudukan seorang ibu sangat istimewa. Dalam Mangala Sutta disebutkan bahwa menyokong ayah dan ibu merupakan suatu berkah utama. Mungkin ada yang menilai, kasih sayang ibu adalah tema sangat sederhana, namun pada praktik kehidupan kita sehari-hari, apakah kita sungguh-sungguh sudah menyadari besarnya kasih sayang ibu kita? Sudahkah kita berusaha untuk membalas budinya?

Banyak kasus di sekeliling kita yang menggambarkan putra-putri yang tidak berbakti pada orangtuanya. Banyak alasan yang menimbulkan hal itu. Bisa masalah ekonomi, masalah keluarga, bahkan masalah agama juga bisa membuat seorang anak mengakibatkan orangtuanya menjadi sedih dan menderita.

Lebih jauh Sri Pannavaro menulis, cukup banyak kasus yang kita dengar karena alasan seorang anak merasa agamanya yang paling benar dan agama orang tuanya salah maka dia bisa mengancam untuk tidak mau mengurus orangtuanya sendiri jika tidak ikut agamanya. Mungkin dia merasa niatnya baik. Tetapi niat itu benar jika alasannya itu benar.

Agama Buddha mengajarkan bahwa untuk dapat membalas budi kepada orangtua, seorang anak harus bisa membuat orangtuanya mempunyai sila yang baik dan mengerti Dhamma serta hukum hukumnya. Tetapi bukanlah berarti bahwa seorang anak Buddhis baru bisa membalas budi orangtuanya jika bisa membuat orangtuanya juga beragama Buddha.

Menjalankan sila dan mempraktikkan Buddha Dhamma serta hukum-hukumnya tidak identik dengan harus beragama Buddha. Ada orang yang bukan beragama Buddha namun pada prakteknya dia menjalankan sila dan mengerti tentang yang baik akan berakibat baik dan melakukan yang buruk akan berakibat buruk. Bandingkan dengan orang yang mengaku Buddhis tetapi tidak menjalankan sila dan tidak mengerti ajaran Buddha. Mana yang Buddhis menurut anda? Hidup sesuai Buddha Dhamma tidak perlu harus beragama Buddha. Buddha Dhamma bukanlah berupa ritual keagamaan yang dangkal.

Mari kita kembali dalam topik Kasih Sayang Ibu ini. Sebagai seorang anak Buddhis yang baik maka harus membalas budi orangtua. Bhante Sri Pannavaro menerangkan, jika orangtua kita punya keyakinan lain maka membalas budinya bukan dengan memaksanya menjadi beragama Buddha, tetapi mulai dengan memberikan contoh prilaku kita sendiri yang baik kemudian secara perlahan-lahan mengajarkan tentang sila dan Dhamma serta hukum-hukumnya. Jika bisa membuat orangtua hidup sesuai Buddha Dhamma maka kita sudah membalas budi mereka.

Sebagai manusia (makhluk hidup), kita mesti saling mencintai. Mencintai dan dicintai adalah suatu hal yang wajar dan alamiah. Tetapi menjadi tidak wajar jika menempuh segala cara untuk mendapatkannya (seperti meminta bantuan paranormal) dan mengambil jalan pintas (bunuh diri, dan sebagainya) jika kecewa karenanya. Kita harus realistis dalam memandang persoalan cinta, tidak melekat dan juga tidak membenci, seperti yang dilakukan muda-mudi tatkala gagal bercinta.

Dewasa ini, dunia dilanda berbagai macam persoalan hidup yang tak mudah diselesaikan, di mana angka kriminalitas, kekerasan, kebencian, dendam, dengki, iri hati, korupsi, kolusi dan nepotisme dan berbagai dekadensi moral yang semakin meningkat, serta adanya ancaman perang dari negara-negara yang bertikai. Ditambah lagi ancaman cuaca yang tidak menentu, maka marilah kita memberikan sumbangsih kita pada dunia ini. Mulailah kita mengembangkan Metta, cinta kasih universal dalam diri kita. Pedulilah pada sesama, pedulilah pada semua makhluk dan peduli pada dunia (bumi) tempat kita hidup dan berpijak. Sang Buddha mengatakn, “Loko Patambhika Metta,” artinya cinta kasih dapat menyelamatkan dunia”. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!