Mimbar Buddha

posbali.id

Mengenal Hari Raya

 

GWA Suputra

BARANGKALI masih banyak umat lain belum mengenal Hari suci Asadha. Karena hari suci ini tidak sepopuler Hari Waisak. Hari Asadha adalah nama bulan lunar kedelapan, dari bahasa Sansekerta, sedangkan bahasa Pâlinya adalah Asalha. Hari Raya Waisak pada umumnya jatuh pada purnamasidhi di bulan Mei, namun kadangkala pada hari-hari pertama bulan Juni bila jatuh pada tahun kabisat lunar.

Sebagaimana ditulis Nanang Soetrisno, Hari Waisak dijuluki pula “Hari Trisuci Waisak” karena pada hari itu umat Buddha sedunia memperingati Tiga Peristiwa Agung yang terjadi pada zaman kehidupan Sang Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu. Tiga Peristiwa Agung tersebut adalah: (1). Bodhisatva (Calon Buddha) yang diberi nama Pangeran Sidharta Gotama dilahirkan di Taman Lumbini, Nepal, pada tahun 623 S.M; (2) Pangeran Sidharta, yang kemudian menjadi pertapa, di bawah Pohon Bodhi Suci, di Buddha-Gaya, India, dengan kekuatan sendiri mencapai Penerangan Agung (mencapai Nibbana) dan menjadi Buddha; (3). Sesudah 45 tahun lamanya mengembara dan memberi pelayanan Dhamma kepada umat manusia dan para dewa, Sang Buddha Parinibbana atau wafat pada usia 80 tahun di Kusinara, India pada tahun 543 S.M.

Adapun Hari Asadha atau Asalha, kebaktiannya disebut Asadha Puja/Asalha Puja. Hari besar Asadha, diperingati 2 (dua) bulan sesudah Hari Raya Waisak, yang biasanya jatuh pada bulan Juli, guna memperingati kejadian yang menyangkut kehidupan Sang Buddha dan Ajaran-Nya, yaitu: (1). Untuk pertama kali Sang Buddha membabarkan Ajaran-Nya kepada 5 (lima) orang pertapa, bekas temantemannya sebelum menjadi Buddha, bertempat di Taman Rusa Isipatana, dekat Vanarasi, India, pada purnama sidhi di bulan Asalha. Khotbah pertama Sang Buddha ini terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka Pâli dengan nama Dhammacakkappavattana Sutta; (2). Kelima pertapa tersebut adalah Kondañña, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji. Dengan adanya 5 (lima) orang pertapa yang menjadi murid Sang Buddha, maka kemudian terbentuklah Sangha. Dengan demikian lengkaplah tiga perlindungan Umat Buddha, yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha atau yang disebut Tiratana (Tiga Perlindungan).

Kemudian Mâgha adalah nama bulan lunar yang jatuh pada bulan Februari, dan kebaktian untuk memperingati peristiwa di bulan Mâgha ini disebut Mâgha-Pûja. Hari Besar Mâgha yang biasanya jatuh pada purnama sidhi bulan Februari /Maret. Hari Besar Mâgha memperingati suatu peristiwa yang terjadi pada purnama sidhi di bulan Mâgha. Peristiwa tersebut adalah: (1). Disabdakannya Ovadha Patimokha. Sabda Sang Buddha ini dibabarkan di Veluvana Vihara di Rajagaha, di hadapan 1.250 Arahat. Kesemua Arahat tersebut ditahbiskan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu). Kehadiran para Arahat tersebut tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lainnya terlebih dahulu.Inti ajaran Sang Buddha yaitu jangan berbuat jahat, tambahlah kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Itulah Ajaran Para Buddha (Dhammapada 183).

Etika (Vinaya) Pokok Para Bhikkhu yaitu kesabaran adalah praktik bertapa yang paling tinggi. Nibbana adalah yang tertinggi”, begitulah Sabda Para Buddha. Dia yang masih menyakiti orang lain, sesungguhnya bukanlah seorang pertapa. (Dhammapada 184).

Tidak menghina, tidak menyakiti, dapat mengendalikan diri sesuai Patimokha, memiliki sikap madya dalam makanan, berdiam di tempat yang sunyi, giat mengembangkan batin nan luhur, inilah ajaran para Buddha (Dhammapada 185).

Sang Buddha memberi Anugerah Penghargaan Dhamma kepada Yang Ariya Sariputta dan Moggallana Thera sebagai Siswa-siswa Utama di hadapan 1250 Arahat di Veluvana Vihara, Rajagaha. Sang Buddha mengumumkan di Capala-Cetiya di Mahavana, pada para bhikkhu, bahwa 3 (tiga) bulan lagi beliau akan Parinibbana.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!