Mimbar Buddha

Kemukjizatan Siddharta Gautama

 

GWA Suputra

KELAHIRAN awatara, nabi atau orangorang suci lainnya selalu ditandai dengan kemukjizatan. Demikian pula kelahiran Siddhartha Gautama. Beliau pun memiliki berbagai kemukjizatan yang tentunya oleh orang pada umumnya dipandang aneh.

Berdasarkan penuturan berbagai kitab, Beliau memiliki kekuatan gaib melebihi manusia biasa. Tetapi menurut pandangan Beliau sendiri, dia berulang kali menolak permohonan dari umat biasa untuk mempertunjukkan kemampuan dan kekuatan gaibnya. Beliau memperoleh kekuatan gaib melalui meditasi mendalam setelah melepas kehidupannya sebagai seorang putra mahkota dan menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Beliau beranggapan bahwa mukjizat-mukjizat itu seharusnya membawa manfaat bagi banyak makhluk dan Beliau memperingatkan kepada murid-muridnya bahwa mereka harus belajar Dharma (ajaran Buddha) bukan demi memperoleh kemampuan dan kekuatan tersebut. Mukjizat terbaik adalah membuka pandangan orang-orang akan kebenaran dharma dan memperoleh kebijaksanaan.

Bagaimanakah kemukjizatan Siddhartha Gautama? Ketika masih bayi, Beliau langsung dapat berdiri, berjalan tujuh langkah ke arah utara dan menyatakan: “Akulah pemimpin dunia ini, Yang tertua di dunia ini, Yang terkemukan di dunia ini. Ini adalah kelahiran terakhir bagiku. Tidak akan ada lagi kelahiran selanjutnya bagiku.”

Menurut cerita, pada setiap jejak yang dilalui oleh Pangeran kecil ini, sekuntum bunga teratai muncul berkembang.

Tatkala Buddha kembali mengunjungi kerajaan ayahnya, keluarga dan rakyatnya masih tidak mempercayai sepenuhnya bahwa Beliau telah mencapai pencerahan atau belum. Untuk merespon hal ini, Buddha memperlihatkan kekuatan gaibnya yang disebut Yamaka-pātihāriya atau mukjizat ganda. Disebut demikian karena fenomena yang saling bertentangan muncul secara terus-menerus dari tubuh Buddha; dalam kasus ini adalah munculnya api dan air.

Mukjizat ganda ini berupa munculnya api dari paruh atas tubuh Buddha dan air dari paruh bawah tubuh dia. Demikian pula pada sisi kanan dan kiri dia. Setelah itu, Buddha mengambil tiga langkah besar, mencapai Tavatimsa. Disana Beliau membabarkan Abhidharma kepada ibunya yang telah terlahir kembali menjadi seorang dewa bernama Santussita.

Pada suatu kesempatan, Buddha terbang menuju alam Brahma. Beliu menjelaskan bahwa semua hal yang berkondisi tidak kekal dan selalu berubah. Devadatta, sepupunya tersiksa oleh kecemburuannya terhadap Buddha. Setelah merencanakan siasat untuk membunuh Buddha Gautama, Devadatta melepaskan seekor gajah yang dibuat mabuk terlebih dahulu. Gajah ini bernama Nalagiri atau Dhanapala. Ketika gajah yang mabuk ini berlari menuju kota tempat Buddha berdiam, seorang wanita yang ketakutan secara tidak sengaja melepaskan bayinya di hadapan kaki Buddha. Tepat ketika gajah itu hendak menginjak anak tersebut, Buddha dengan tenang meraih dan menyentuh kening gajah itu. Gajah itu menjadi tenang dan diam, kemudian bersujud di hadapan Buddha.

Buddha Gautama meminta muridnya Ananda untuk mengambilkan air minum dari sumur. Ananda berulang kali mengatakan sumur itu kotor oleh karenanya airnya tidak dapat diminum. Meskipun demikian, Buddha terus meminta Ananda untuk mengambil air dari sumur tersebut. Ananda pun kemudia pergi mengambil air dari sumur itu. Ketika Ananda berjalan menuju sumur itu, Buddha melenyapkan rumput dan tanah di sumur tersebut sehingga air di dalam sumur itu pun menjadi bersih dan jernih.

Mahajima Nikaya menurutkan, Buddha memiliki kekuatan super. Namun yang perlu diingat bahwa mukjizat bukan untuk dipamerkan, digembar-gemborkan. Mukjizat terbaik adalah membuka pandangan orang-orang akan kebenaran dharma dan memperoleh kebijaksanaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *