Meski Depo Pasir Dibuka di Sambirenteng, Sopir Material Buleleng Masih “Gigit Jari”

posbali.id

BULELENG, POS BALI ONLINE – Pasca kembali beroperasinya galian C di wilayah Kecamatan Kubu, Karangasem, tidak serta merta membuat sopir material dari Buleleng bebas mengambil pasir di galian C yang ada di Kecamatan Kubu, melainkan mereka hanya diperbolehkan mengambil sampai di Depo Pasir, yang didrop di Dusun Benben, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula Buleleng.

Dari pantauan di lokasi, terlibat puluhan dump truk pengangkut pasir dari arah Karangasem tengah parkir di tepi jalan. Mereka antri untuk melakukan aktivtas drop pasir di lahan seluas 60 are itu. Bahkan, dua alat berat tengah mengisi truk-truk pasir asal Buleleng untuk bisa didistribusikan ke wilayah di Kabupaten Buleleng.

Menurut penuturan Penanaggungjawab Depo Pasir, Gede Aryana (48), untuk truk pengangkut pasir asal Karangasem, hanya boleh mengangkut pasir sampai di Desa Sambirenteng. Sedangkan, truk asal Buleleng tidak boleh masuk wilayah Kubu, hanya mengambil pasir di Desa Sambirenteng saja.

Dijelaskan dia, cara ini dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan yang terjadi di wilayah Kubu, akibat adanya aktivitas penambangan pasir. “Ini kesepakatan sopir material Singaraja dengan sopir Karangasem. Truk asal Buleleng dilarang masuk ke Kubu mengambil pasir, cukup hanya di Sambirenteng. Dan truk pengangkut asal Karangasem cukup drop sampai Sambirenteng. Sistemnya estafet,” kata Aryana, Minggu (29/10).

Sistem ini, sambung dia, dinilai ampuh untuk mengurangi risiko ditimbulkan, jika nantinya Gunung Agung benar-benar mengalami erupsi. “Depo ini, kan bisa mengantisipasi resiko yang ditimbulkan jika Gunung Agung erupsi. Juga untuk menekan kemacetan truk material pasir di lokasi Galian C,” ungkap Aryana.

Dikatakan Aryana, beroperasinya kembali galian C di wilayah Kecamatan Kubu itu sejak  Jumat (27/10) lalu. Depo yang dirinya kelola ini, mampu melayani pembelian material hingga 75 sampai 100 truk per harinya, ditengah situasi kelangkaan pasir “Depo ini dibuka untuk mengurangi kelangkaan pasir. Kan, banyak juga proyek-proyek tersendat, karena tidak ada pasir. Makanya kami buka dulu untuk sementara depo ini,” ujar Aryana yang berasal dari Desa Sukadana, Karangasem ini.

Terkait harga, Aryana menyebutkan, untuk pasir jenis super setiap truk dihargai Rp1,4 juta. Sedangkan pasir jenis cor hanya Rp1,3 Juta. “Harga pasir tetap mahal. Sampai di Sambirenteng pasirnya berkisar Rp1,3 juta sampai Rp1,4 juta tiap truk. Kalau sudah di pembeli biasanya harganya sampai Rp 2,5 juta tiap truk,” ungkap Aryan.

Sementara itu salah seorangopir truk material asal Desa Tinga-tinga, Buleleng, Wayan Astika (47) menjelaskan, meski telah dibukanya depo pasir di wilayah Sambirenteng, itu tidak mendongkrak penjualan pasir. Sebab hingga saat ini, masyarakat minim minat membeli pasir, karena harga masih mahal.

“Sekarang yang beli pasir sepi, tidak seperti dulu ramai, karena harganya juga mahal. Tapi bagi kami para sopir, kalau mengambil di depo, biasanya dapat keuntungan tipis, karena kami ngambil lumayan dekat, otomatis lebih mahal. Lebih murah jika mengambil langsung ke Galian C di Kubu,” pungkas Astika. 018

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!