Merayakan Kemenangan

posbali.id

ARUS balik mudik sudah mulai memadati jalan raya. Umat Islam baru saja merayakan Idul Fitri. Selama sebulan penuh umat telah berperang melawan musuh di dalam diri seperti nafsu, marah, lapar, haus, emosi. Umat diharapkan saling rangkul dan saling memaafkan.

Sebagai telah popular, Hari Raya Idul Fitri dikenal sebagai “Hari Kemenangan”. Kalau demikian, maka kemenangan bukanlah kemenangan akhir. Peperangan melawan nafsu dan setan tidak berhenti dengan hadirnya Idul Fitri, tetapi berlanjut selama hayat dikandung badan. Pasalnya, karena nafsu dan setan menyertai manusia selama hidupnya.

Kemenangan melawan nafsu jahat ditandai oleh tertawan dan terkendalinya rayuan setan yang mengantar pemenang patuh mengikuti perintah agama. Karena jika sebaliknya, maka itulah kekalahan, bahkan perbudakan manusia oleh setan dan nafsu. Kemenangan hakiki adalah yang mengantar kepada diraihnya nilai-nilai spiritual, yang tidak bisa dipisahkan dari fi trah dalam arti kesucian, yang mencakup tiga unsur pokok, yaitu: keindahan, kebenaran, dan kebaikan. Upaya mencari yang benar menghasilkan ilmu, melakukan yang baik membuahkan budi, dan mengekspresikan keindahan melahirkan seni. Karena itu pula, peperangan yang perlu dimenangkan adalah peperangan melawan keburukan, seperti kebodohan dan kemiskinan.

Tiap penganut agama memiliki hari kemenangan, meskipun mungkin tidak tegas-tegas disebutkan demikian. Dalam budaya Bali, umat Hindu menyebut kemenangan dharma melawan adharma yang dirayakan pada hari Galungan. Hari kemenangan ini diambil dari mitologi gugurnya Mayadanawa melawan Dewa Indra. Mayadanawa yang digambarkan sebagai raksasa merupakan simbul dari sifat-sifat raksasa yang dalam bahasa agama disebut asurisampad. Sebaliknya, Dewa Indra symbol dari sifat kedewataan yang disebut dengan daiwisampad. Jadi kemenangan boleh disebut sudah diraih jika sifat-sifat keraksasan sudah ditaklukkan oleh sifat kedewataan. Secara umum sufat-sifat raksasa dinilai buruk. Sebaliknya sifat kedewataan dinilai luhur.

Jadi, sejak memiliki sifat kedewataan atau sifat-sifat luhur seperti kasih sayang, welas asih, memandang makhluk lain seperti memandang dirinya sendiri, sejak itulah kita memiliki hak merayakan kemenangan.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!