Merasa Dirugikan, Pengusaha Galian C Karangasem Dukung Tutup Depo Pasir di Sambirenteng

posbali.id

KARANGASEM, POS BALI ONLINE – Adanya depo pasir galian c yang ada di Dusun Benben, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Bulelengternyata bukan hanya dikeluhkan oleh Sopir Truk Singaraja. Namun pengusaha galian C lokal Karangasem juga menginginkan agar depo yang melarang truk Singaraja masuk ke Lokasi galin C di Kubu tersebut distop beroperasi. Pasalnya para pengusaha tidak bebas menjual pasirnya karena tidak adanya truk luar yang membeli. Sementara depo hanya dikuasasi satu kelompok pengusaha galian c tertentu yang disinyalir mencari keuntungan pribadi.

Salah satu pengusaha Galian C yang merasa dirugikan oleh depo pasir di Desa Sambirenteng tersebut adalah I Ketut Dayuh. Pengusaha Galain C asal Amed itu mengaku tidak menjual pasirnya karena sopir asal Singaraja tidak diijinkan untuk mencari sendiri lokasi galian ke Karangasem. Dirinya mengaku setuju dengan Bupati Buleleng Agus Suradnyana yang mengirim surat Kepala Bupati Karangasem agar truk asal Singaraja diijinkan masuk ke lokasi Galian C langsung untuk membeli pasir. Menurutnya hal itu pantas dilakukan karena status gunung agung sudah diturunkan ke level Siaga. “Sekarang statusnya kan sudah turun ke level Siaga, jadi berikan saja truk dari Singaraja masuk cari pasir ke lokasi galian sehingga harga bisa lebih murah,” ujar Dayuh saat ditemui di Amed, Kecamatan Abang, Karangasem, Rabu (8/11/2017)

Dayuh yang memiliki lokasi galian di Banjar Batudawa, Desa Tulameben, Kecamatan Kubu, Karangasem itu menilai bahwa depo pasir di Sambirenteng tersebut hanya dikuasai oleh segelintir orang yang disebutnya sebagai oknum. Sebab oknum tersebut tidak mewakili kepentingan pengusaha galian C Karangasem seluruhnya. “Saya selaku pengusaha galian C tidak tahu-menahu adanya depo tersebut, saya tidak dilibatkan, memang dasar hukumnya apa menstop truk masuk ke Karangasem, apakah ada pemerintah atau aparat keamanan di situ,” terangnya.

Dayuh yang juga memiliki usaha dalam bidang pariwisata dan toko bangungan itu menerangkan bahwa tidak hanya dirinya yang dirugikan dengan adanya depo. Namun Pengusaha lainnya juga terdampak yaitu pengusaha yang tidak ikut bergabung sebagai asosiasi pengusaha pembuat Depo. “Teman saya pemilik Usaha Galian Anom Jaya di Desa Sukadana Kubu juga senasib mengaku tidak dapat pembeli karena tidak ada truk luar yang masuk,” terangnya. Padahal diirnya sebagai pengusaha galian C berijin dan berada di lokasi yang jauh di luar zona 7,5 Km. “Saya berharap pemerintah segera turun bertindak menanggapi permasalah ini agar tidak menimbulkan konflik horizontal antara masyarakat dan sopir truk dan merugikan pengusaha galian yang lain terlebih yang berijin seperti saya,” terangnya.

Dirinya menyebut bahwa harga pasir di Depo diangkat dua kali lipat dari harga di lokasi galian C. Pasir di Depo dijual Rp, 1,3 – 1,4 juta per truk. Namun jika membeli langsung di Lokasi Galian hanya Rp.600-700 ribu tergantung kualitas pasir. Harga yang melonjak itu jelas membuat sopir truk singaraja protes karena harga yang terlalu jomplang. Selain itu pengusaha yang tak bergabung membuat Depo tersebut jelas dirugikan karena pasirnya tidak ada yang membeli. 017

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!