Merasa Diri Paling Benar

posbali.id

Saortua Marbun

BERANEKA ragam perilaku, sikap dan tingkat pemahaman manusia yang menden- garkan Yesus. Di antara mereka terdapat para pendengar yang menganggap diri benar dan memandang rendah semua orang lain. Sikap yang demikian tentu akan merugikan diri sendiri. Oleh sebab itu Yesus mengajar mereka dengan perumpamaan, katanya: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.”[Lukas 18:9-10] Orang Farisi dikenal dengan ketaatan tanpa cacat pada hukum Nabi Musa. Mereka me- matuhi setiap hukum Taurat yang berjumlah 613 butir itu secara ketat. Mereka berpuasa dua kali seminggu, memberikan sepersepu- luh dari segala penghasilannya sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Menurut Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, orang Farisi tidak mau memakan makanan di rumah orang non Farisi; mereka juga tidak membeli bahan makanan selain kepada sesama Farisi. Alasannya, mereka meragukan kalau-kalau kewajiban persepuluhan belum diberlaku- kan atas bahan makanan tersebut. Hal itu tergambar lewat kisah yang dihadirkan oleh Yesus, “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”[Lukas 18:11-12]

Orang Farisi itu merasa layak, merasa pantas menghampiri Tuhan – tanpa rasa berdosa, hati kecilnya tidak merasa terganggu. Menurut Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, orang Farisi itu menganggap diri benar karena usahanya sendiri, tidak menyadari perilakunya yang berdosa dihadapan Tuhan. Orang itu lupa bahwa ia membutuhkan rahmat, kasih karunia Allah. Alih-alih insaf, orang-orang seperti mereka malah merasa yakin den- gan modal tindakan kealiman, kebaikan lahiriah sudah memadai, ‘tidak memer- lukan’ anugerah Allah. Mereka merasa pantas diberkati Tuhan, karena mereka adalah orang baik-baik. Berbeda dengan pemungut cukai itu, ia menyadari dosa, kesalahannya dan dengan sikap pertobatan ia berpaling kepada Allah. Orang ini sadar bahwa ia membutuhkan pengampunan dan rahmat Allah. Masyarakat pada masa itu memandang rendah para pemungut cukai karena mereka bekerja demi kepentingan penjajah Romawi. Mereka dianggap berkhianat demi uang. Hal itu diperburuk pula oleh perilaku mereka yang korup, melakukan penyelewengan, memeras wajib pajak. Setidaknya, hal itu terucap oleh seorang “kepala pemungut cukai, seorang yang kaya” bernama Zakheus. Ketika Yesus datang ke rumahnya Zakheus berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”[Lukas 19:2,8]

Pemungut cukai itu merasa tidak layak, ia menyadari bahwa ia najis dan tidak pantas meminta apa pun dari Tuhan. Yesus meng- gambarkan, “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani me- nengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Yesus menegaskan, “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenar- kan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”[Lukas 18:13-14] Sebab “segala kesalehan manusia seperti kain kotor”, seperti daun layu dan lenyap tertiup angin.[Yesaya 64:6] Sebagaimana Rasul Paulus menulis, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Al- lah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” [Efesus 2:8-9]. Tuhan memberkati. (*) 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!