Mepatung LPD Kedonganan ke-9, dijadikan momen pengaplikasian Prarem Desa Adat Kedonganan

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Tradisi mepatung kembali digelar ke-9 kalinya oleh LPD adat Kedonganan Senin (30/10) kemarin. Jumlah daging babi yang dibagikan kepada kerama yang sekaligus nasabah LPD Kedonganan total seberat 7 ton 50 kg, dengan jumlah 2350 orang yang masing-masing mendapatkan bagian sebanyak 3 kg daging babi, plus uang base-base Rp 50 ribu. “Daging itu kita bagikan kepada kerama pangarep dan panguwub. Total anggaran biaya yang dibagikan itu sebesar Rp 434. 360.000,”terang ketua LPD adat Kedonganan, Ketut Madra ditemui disela-sela acara.

 

Dipaparkannya penyelengaraan tradisi mepatung kali ini sekaligus mengaplikasikan Pararem desa adat Kedonganan, yang telah ditetapkan oleh para prajuru desa adat Kedonganan tahun 2017. Dimana visi dari implementasi prarem tersebut adalah menjadikan LPD Kedonganan menjadi sehat, kuat, tangguh, bermanfaat, untuk mewujudkan panca kertha dalam mendukung pelaksanaan Panca Yadnya. “Dalam pelaksanan konteks panca kertha ini ada 5 pembagian yang dilakukan, yaitu Kertha Angga, Kertha Warga, Kertha Desa, Kertha Bhuwana, dan Kertha Wisesa. Salah satu dari ke-5 ketha tersebut yang kita bagikan adalah mencakup dua unsur yaitu kertha warga dan kertha angga. Kertha warga adalah kerama pengarep desa adat Kedonganan dan kertha anga adalah warga Panguwub yaitu kerama adat yang membantu mengembangkan LPD,”paparnya.

 

Bagi masyarakat Kedonganan tentunya dengan adanya konsep mepatung ini, ada 3 spirit yang kita bangkitkan yaitu pada payu artinya dapat bersama, pada memargi artinya jalan bersama, dan pada gelahang artinya milik bersama. Dasar ketiga spirit tersebut disebut pasikian atau kebersamaan. Itulah yang menjadi wujud aplikasi prarem dan bagaimana mengelola lembaga keuangan seperti LPD ini. “Majunya kondisi LPD Kedonganan seperti saat tidak lepas dari upaya pengembangan dari pihak pengurus dan karyawan semata, tetapi juga masyarakatnya. Karena itulah sinergisitas yang dibangun antara desa adat, prajuru adat, badan pengawas dan pembina, pengurus beserta masyarakat harus dijaga dengan baik,”imbaunya.

 

Disisi lain terkait dengan penampahan galungan, mepatung diakuinya sekaligus untuk mewujudkan pelaksanaan Panca Yadnya. Karena setiap pelaksanaan hari raya Galungan, biasanya LPD adat Kedonganan melaksanakan mepatung untuk prosesi mebat dalam membuat sarana upakara pendukung panca yadnya. Hal tersebut sekaligus untuk melestarikan tradisi mepatung yang dikhawatirkan hilang seiring dengan berkembangnya tekhnologi dan era globalisasi saat ini. Jika hal tersebut sampai hilang maka diyakininya masyarakat nantinya akan berjalan sendiri-sendiri dan mudah terpengaruh oleh kapitalisme yang bisa membuat konsep komunal hilang. “Mepatung adalah wujud kita membangun LPD, yang berimbas pada tradisi mebat yang spiritnya kebersamaan dengan semangat pada gelahang. Dengan kedua konsep ini tentu akan membuat menjadi satu rasa atau pasikian,”ujarnya.

 

Dari periode tradisi mepatung yang digelar LPd Kedonganan di tahun 2013, perkembangan partisipasi warga sangatlah pesat untuk menabung di LPD Kedonganan. Dimana apada awalnya tradisi mepatung hanya membagikan 1,5 ton daging babi, kini sudah mencapai 7 ton,50 kg. Dimana program tersebut cukup strategis untuk meningkatkan peran serta pihak ketiga dalam membangun LPD Kedonganan. Karena itulah saat ini krama panguwub dibatasi saldonya minimal Rp 10 juta, barulah bisa mendapatkan 3 kg daging babi. Sementara untuk kerama pengarep yang mipil cukup dengan tabungan Rp 200 ribu sudah mendapatkan 3 kg daging babi. “Kerama Panguwub memang bertambah jumlahnya dan cenderung agresif. Dari awal jumlahnya 300 orang, kini sudah mencapai 1000 lebih dan hampir sama dengan kerama pangarep. Panguwub artinya kerama penanggungjawab atas kerjasama yang dilakukan dengan pihak ketiga, untuk menjadi nasabah LPD. Kenapa kita tepakan kerama panguwub karena kita tetap konsisten dengan prarem, bahwa pihak luar tidak boleh menjadi nasabah LPD. Ini tentu dikontrol dan harus diketahui kelian, agar LPD tidak dimanfaatkan yang tidak sesuai dengan harapan adat. Jika jika dibiarkan bebas sangatlah beresiko,”pungkasnya.

 

Bendesa adat Kedonganan Ketut Puja menerangkan kegiatan tersebut memang rutin dilaksanakan, utamanya menjelang hari raya Galungan. Hal tersebut tidak terlepas dari imbas kemajuan LPD Kedonganan, yang mana masyarakat Kedonganan sangat mensuport keberadaannya.
Pihaknya tidak berhenti mengucapkan syukur kepada tuhan dan terimakasihnya kepada pengurus LPD Kedongan hang telah mampu melaksanakan kegiatan tersebut kembali untuk ke-9 kalinya. “Semoga LPD Kedonganan ini selalu jaya, selalu bisa meningkatkan usahanya untuk menunjang program desa adat yang berkelanjutan. Sebab pada dasarnya ini LPD adalah lembaga adat yang dimiliki masyarakat dan untuk masyarakat,”terangnya sembari menerangkan pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Kadis Peternakan Badung, terkait pengawasan dan pendampingan. Dipastikannya babi yang dipotong dan dibagikan kepada warga bebas dari penyakit dan virus berbahaya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *