Menyusur Mitos dan Fakta Sejarah Raja Jaya Pangus

posbali.id
Seminar “Meningkatkan dan Mempererat Hubungan Budaya Masyarakat Bali dan Cina” serangkaian Balingkang Kintamani Festival 2019 di kawasan Sanur, Denpasar, Rabu (30/1)

DENPASAR, posbali.id – Masyarakat Bali seringkali terbelenggu pada teks-teks tradisional, mitos, dan foklor dalam menentukan jalinan sejarahnya tanpa diimbangi fakta sejarah yang autentik. Hal ini cenderung mengaburkan sejarah, bahkan bisa mengaburkan aspek teologis jika teks-teks tersebut mengandung ajaran-ajaran agama.

Hal itu pun terjadi dalam penafsiran ketokohan Jaya Pangus, Kang Cing We, dan Hyang Dewi Danuh dalam kisah Balingkang dan mitos Barong Landung. Guru Besar Antropologi Budaya IHDN Denpasar, Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si, Rabu (30/1) mengatakan fakta sejarah berupa prasasti dan kisah Balingkang menunjukkan hal berbeda terhadap ketokohan ketiganya.

Dalam mitos yang berkembang umum di masyarakat, ketiganya dikaitkan dalam jalinan kisah “cinta segitiga”. Awalnya, Raja Jaya Pangus dikisahkan memiliki seorang permaisuri asal negeri tirai bambu bernama Kang Cing We. Karena tidak memiliki keturunan, Raja Jaya Pangus kemudian memutuskan melakukan tapa di Gunung Batur, hingga akhirnya bertemu dengan Dewi Danuh.

Mengaku tengah membujang, Jaya Pangus dan Dewi Danuh kemudian menikah dan melahirkan anak bernama Maya Danawa. Namun, rahasia itu kemudian diketahui oleh Dewi Danuh. Di akhir cerita Jaya Pangus dan Kang Cing We terbunuh oleh kemarahan Dewi Danuh, dikutuk menjadi Barong Landung.

Di sisi lain, sosok bergelar Maharaja Sri Haji Jaya Pangus Arkaja Cihna dalam 49 prasasti peninggalannya yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Bali tak satupun menerangkan kisah mitos tersebut. Ia dideskripsikan sebagai tokoh bijaksana yang menguasai tujuh wilayah (sapta nagara) di Balidwipa. Raja Jaya Pangus beristrikan dua orang permaisuri, yakni Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujalancana Ketana, dan Paduka Sri Mahadewi Sasangkajaketana Lancana Cihna.

Sementara itu, tokoh Hyang Dewi Danuh dalam sistem kepercayaan masyarakat Hindu Bali berada di ranah teologi. Beliau adalah putri Hyang Pasupati yang ditugaskan berstana di Gunung Batur menjaga kesejahteraan bumi Bali. Tokoh ini hadir sepadan dengan Hyang Putrajaya di Gunung Agung dan Hyang Gnijaya di Gunung Lempuyang.

“Dewi Danuh itu ada di wilayah teologi, sudah final. Jangan mengaitkannya dalam hal-hal yang sekuler. Kalau dikonstruksi menjadi seni bolehlah, tapi jangan dianggap sebagai fakta sejarah,” jelas mantan rektor IHDN Denpasar ini dalam seminar “Meningkatkan dan Mempererat Hubungan Budaya Masyarakat Bali dan Cina” yang digelar serangkaian Balingkang Kintamani Festival 2019 di kawasan Sanur, Denpasar.

Menurut prasasti-prasasti yang ditinggalkan, Raja Jaya Pangus berkuasa kiaran tahun 1099-1103 Saka (1177-1181 Masehi. Mengutip Goris (1974), ungkap Duija, Raja Jaya Pangus adalah salah satu sosok raja Bali Kuno yang mempesona, disamping Raja Ugrasena dan Anak Wungsu. Ia dapat disejajarkan dengan Hyam Wuruk dari Majapahit. “Keberaniannya sebagai raja yang membumi telah membawa Balidwipa menjadi imperium panutan bagi sapta nagara di Balidwipa, dengan kata lain, ia telah berhasil membangun konsep yang kini disebut one island one management,” katanya.

Selain itu, pemerintahan Balidwipa pada masa pemerintahannya tergolong telah maju dengan pembagian kekuasaan yang jelas hingga ke tingkat desa. Sementara, dari sisi agama yang dianut, gelar abiseka raja dan permaisurinya menunjukkan adanya unsur Siwa dan Buda. Paham Siwa merujuk gelar “arkaja” yang berarti anak atau pemuja Surya (Siwa) dan “induja” serta “sasangka” yang disematkan pada dua permaisurinya yang berarti bulan (Buddha).

“Dalam aspek hubungan diplomasi, hubungan Bali dengan India, Cina, dan kerajaan-kerajaan di Jawa juga telah berjalan dengan sangat baik,” imbuh Duija.

Sementara itu, pembicara lainnya, Ir. Ketut Darmaya mengatakan keberadaan Kerajaan Balingkang Pura bulanlah mitos atau legenda. Kerajaan ini telah ada dan menjadi pusat pemerintahan Meilan Coladungkang yang bergelar Sri Ratu Ugrasena II kisaran tahun 933-966 Masehi. Kerajaan Balingkang merupakan bagian dari Dinasti Singhamandawa yang berpusat di Pura Pucak Penulisan sekitar tahun 882-932 Masehi.

“Perpindahan itu diakibatkan serangan Sri Tabhanendra Warmadewa. Sementara mitologi Mayadanawa adalah anak dari seorang raksasa di Balingkang bernama Sri Aji Detya, yang juga menggambarkan persaingan raja Singhamandawa dan Singadwala,” ungkap peneliti sejarah yang juga merupakan staff kejaksaan ini.

Menurutnya, dalam menelusuri sejarah peninggalan budaya dan arkeologi sangat penting. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Kenoarkeologi. “Dalam mengkaji sejarah pura di Bali sebaiknya berdasarkan data epigrafis atau tulisan sejarah raja-raja Bali yang termuat dalam hampir 160 prasasti,” tutupnya.

Hal senada dinyatakan narasumber lainnya, penekun sejarah, Ngurah Paramartha. Menurutnya sejarah adalah jejak-jejak masa lalu yang dpaat berupa teks, benda-benda, bahkan juga cerita-cerita yang diwariskan turun temurun. Dalam pengkajiannya, ia menemukan bahwa Bali adalah sebuah “Negara Singha” yang telah terkenal sejak awal-awal abad Masehi. Pemikirannya itu telah dibukukan dalam buku berjudul “Jejak Manusia & Negara Singha”. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

2 tanggapan untuk “Menyusur Mitos dan Fakta Sejarah Raja Jaya Pangus

  • 02/02/2019 pada 1:57 AM
    Permalink

    Saya tinggal di UK sedang meneliti tentang Bali. Apakah ada makalah dari Prof. Duija untuk mengetahui sumber rujukannya? Pernyataan Ngurah Paramartha di alinea terakhir artikel ini dan pernyataan Prof. Duija superti bertentangan. Prof Duija menekankan pentingnya fakta sejarah, bukan mitos, sementara di alinea terakhir Paramartha justru menyebut cerita turun-temurun sebagai sejarah. Ini bagaimana?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!