Mensyukuri Anugerah Historis Kebangsaan Indonesia

posbali.id

Cornelius Edmundo Santoso

PERADABAN manusia telah memasuki millennium ketiga. Suatu rentangan ruang dan waktu menyonsong hitungan 3000 tahun. Sejak peradaban manusia memerlukan parameter untuk mengukur dan menandai aktifi tasnya. Mencer- mati trend yang cenderung ekspansif di era millennium ini ditandai dengan peradaban “Ultra Sophisticated” dengan karakter utama “free Fight Liberalism” di seluruh lini kehidupan, bahkan (telah) menjadi “agama” baru. Bila tidak disikapi secara tepat, dapat menyaingi “pamor” dan eksistensi agama-agama normative yang selama hampir  2000 tahun menjadi “patron” peradaban.

Peradaban ke depan sangat terukur dan ditandai dengan “Survival of Life” yang berisi prestasi sukses dan produktifi tas, yang akan menjadi indikator tingkat penghargaan dan kelayakan kehidupan suatu komunitas. Hal – hal yang dianggap “Supra Natural” atau mimpi yang tumbuh secara ekslusive bak kristal-kristal di tengah kota metropolitan, serta sering mencengangkan, kelak justru akan menjadi ”Vision” yang fenomenal alamiah dalam tatanan transparansi masyarakat global. Era Milenium Ketiga menuntut semuanya serba unggul sebagai tiket yang tidak dapat ditawar-tawar, tidak ada calo tiket ataupun tiket palsu, kesemuanya harus transparan dan universal. Ketidakniscayaan untuk berakselerasi akan berdampak dalam komunitas ketertinggalan atau hidup dari serpihan remah-remah peradaban atau yang lebih dramatis adalah hidup dalam mimpi purbakala.

Karena itu kita patut mensyukuri sejarah kebangsaan Indonesia sebab Indonesia termasuk rumpun bangsa yang memiliki alur kesejarahan yang melegenda, mengungguli ‘superioritas’ komunitas penjajah asing. Keunggulan bangsa Indonesia yang merupakan perpaduan antara patriotisme dan sinergi nilai-nilai luhur keagamaan adalah suatu karakter yang khas dan mengagumkan dunia, bahkan tidak mengherankan bila keunggulan Sumber Daya Manusia Indonesia termasuk gugusan komunitas yang layak memerani era Asia Pasifi k sebagai “Entry Point” dalam abad ini, tetapi hal itu akan tinggal menjadi obsesi kosong dan Indonesia tinggal hanya sebagai legenda peradaban, manakala sosok komunitas yang “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa” bergerak atau distimulir (direkayasa) ke arah divergensi: “Bodoh, Primitif dan Sombong”. Dengan demikian, menemukenali sejarah, mengambil hikmat dari sejarah dan konsisten kepada arahan sejarah, adalah merupakan keputusan esensial yang wajib diketahui dan ditularkan kepada segenap potensi anak bangsa dalam rangka menelaah dan mengkaji kemasan maupun isian nuansa politis keIndonesiaan.

Mengingat bahwa sejarah memiliki nilai hakiki, sakral dan strategis, maka tidak ada siapa dan sesuatupun yang dapat menyangkal, meniadakan ataupun memanipulir kebenaran sejarah sebagai cikal bakal sebuah bangsa mencapai puncak-puncak prestasinya. Oleh karena itu kesejarahan merupakan kesaksian penting yang harus terus menerus disegarkan, agar kita sebagai bangsa yang telah berada pada tataran “kemanusiaan yang adil dan beradab”, dapat secara bersama-sama penuh persaudaraan sebagai satu keluarga besar bangsa mengejawantahkannya secara konsisten dalam membangun kebesaran sejarah kebangsaan Indonesia.

Kehadiran segenap komponen bangsa beserta kreatifi tasnya yang secara integral terpadu utuh menyeluruh menjadi sosok keIndonesiaan adalah salah satu keunikan berkat Tuhan yang patut kita syukuri. Kita tidak boleh melupakan kalimat yang ditulis oleh Mpu Tantular sebagaimana termaktub pada madah Sutasoma yang telah dimeteraikan sebagai Semboyan Negara dan Sasanti Lembaga Ketahanan Nasional, yakni: Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa (mengabdi dan setia kepada prinsip keberagaman dalam kesatuan sebagai suatu kebenaran yang tiada duanya). Pemeteraian tersebut menunjukkan betapa bangsa kita menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah dan menempatkannya sebagai anugerah historis dari Tuhan Yang Maha Kuasa, tanpa mempertimbangkan, menghitung – hitung  ataupun mensiasati latar belakang dari komponen bangsa (agama) yang mana esensi itu berasal. Sejarah kebangsaan Indonesia juga memeteraikan peristiwa dramatis, yang melukiskan betapa kualitas keimanan seorang pemimpin dapat mempersembahkan dirinya sebagai kurban yang harum bagi prosesi pencapaian kemerdekaan bangsa Indonesia.

Seorang penganut Islam yang soleh asal Yogyakarta, Raja Mataram yang bijaksana Sultan Agung Anyokrokusumo (1591 – 1645), adalah pahlawan nasional yang dengan gagah berani mengawali peperangan melawan kehadiran penjajahan Belanda; Tak kalah heroiknya adalah perlawanan I Gusti Ngurah Rai (1917 – 1946), Putera Bali penganut Hindu yang rendah hati itu memimpin pasukan Ciung Wanara dengan perang Puputan memilih gugur dari pada kompromi dengan kolonial; Begitu pula epos perjuagan dramatis pemuda asal Menado yang gugur di Ujung Pandang, Wolter Robert Monginsidi (1925 – 1949) yang mengakhiri hayatnya di depan regu tembak Belanda dengan tangan kiri memegang Injil, mata terbuka dan tangan kanan mengepal sembari meneriakan seruan “merdeka!” Hikmat agamis yang dicontohkan oleh Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) yang sebelum tertangkap Belanda, menyempatkan diri menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan berdoa dan membaca Kitab Suci serta meninggalkan Alkitab terbuka Mazmur 17 di Gereja Saparua – Tiouw Maluku. Pahlawan kusuma bangsa itu adalah sosok kepemimpinan manusia unggul yang kental kadar keimanannya dan kental kadar kebangsaannya. Ketaatannya kepada agama tidak serta merta menjadikannya kerdil, primitive dan sektarian, melainkan menempatkan esensi ajaran agama sebagai sumber motivasi untuk didharmabaktikan kepada substansi yang lebih universal dan luhur, yakni kebangsaan Indonesia.

Kita akan selalu mensyukuri atas keputusan politik yang sangat monumental, yakni tatkala para intelegensia/cedikiawan pemimpin bangsa pada tanggal 18 Agustus 1945, yang walaupun mereka dari latar belakang berbeda (suku, ras, agama dan antar golongan). Namun, pendiri Republik Indonesia telah bersepakat secara bulat untuk  tidak memilih Negara keagamaan, tetapi memilih Negara kebangsaan. Sehubungan dengan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus) yang ke-71 ini, marilah kita sebagai anak bangsa menjunjung tinggi dan melestarikan anugerah historis dari Allah bagi bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Merdeka! Merdeka! Merdeka! (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!