Menjaga Warisan Dunia

posbali.id

Mpu Jaya Prema

SUATU kebanggaan bahwa Wayang Wong Tejakula, Kabupaten Buleleng, diberikan sertifikat penghargaan oleh UNESCO, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bergerak dibidang pendidikan dan kebudayaan. Penghargaan itu dalam katagori “Warisan Budaya Dunia Tidak Benda.”

Warisan Budaya Dunia memang ada dua katagori. Yang disebut Warisan Budaya Tak Benda mencakup masalah ritual, festival, kesenian tradisional dan praktek sosial di sebuah daerah. Jika itu kesenian tradisional, bukan monopoli sebuah kelompok atau grup, tetapi mewakili “aliran”. Jadi betul-betul bendanya itu bisa abstrak atau ada di mana saja. Sedangkan Warisan Budaya Dunia yang tak ada embel-embel “tidak benda” adalah obyek yang betul-betul nyata. Contohnya adalah Candi Borobudur dan Candi Prambanan, yang hanya ada satu-satunya dan tak mungkin ada di tempat lain lagi.

Dengan begitu Wayang Wong Tejakula bukanlah “obyek nyata” yang satu-satunya mendapat penghargaan itu. Sebenarnya yang memperoleh penghargaan adalah “wayang wong” sebagai sebuah “aliran seni tradisional”, sehingga jika saja ada sekehe wayang wong lain yang aktif di luar Tejakula, pasti pula diberikan sertifi kat oleh UNESCO.

Predikat warisan budaya dunia tidak benda untuk wayang wong itu diberikan UNESCO dalam sidangnya di Windhoek, Namibia pada 2 Desember 2015 yang lalu. UNESCO menetapkan 22 warisan budaya tak benda untuk seluruh dunia pada saat itu. Dari jumlah itu Indonesia, lebih khusus lagi Bali, memperoleh 9 warisan budaya tak benda. Selain Wayang Wong adalah Tari Rejang, Sanghyang Dedari, Baris Upacara, Topeng Sidakarya, Drama Tari Gambuh, Legong Keraton, Joged Bumbung, dan Barong Ket.

Sebelum sidang di Namibia itu, Indonesia sudah memiliki beberapa predikat warisan budaya dunia tidak benda, antara lain, Wayang Kulit (diterima tahun 2008), Keris (tahun 2008), Batik (tahun 2009), Angklung (tahun 2010), Tari Saman (tahun 2011), Noken Papua (tahun 2012), Subak (tahun 2012), dan di tahun 2014 ada tiga katagori lagi, yakni Lumpia (makanan khas Semarang), Sekaten (ritual khas Keraton Yogya) dan Gamelan tradisi Jawa.

Sungguh sebuah prestasi bahwa Bali punya 10 warisan budaya dunia tidak benda, sembilan dianugerahkan secara bersamaan dan satu, yakni subak, diberikan sebelumnya. Tapi apa artinya predikat ini? Apakah ke 10 warisan budaya itu memanfaatkan penghargaan dari badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan itu? Program apa yang akan mereka susun untuk mendapatkan perhatian dari UNESCO yang kemudian wujudnya bisa berupa bantuan dana atau bimbingan pewarisan? Ini yang memprihatinkan seolaholah penghargaan dari UNESCO sama sekali tak ada artinya. Bahkan penghargaan ini jadi beban sementara obyek yang diberi penghargaan itu justru semakin memudar. Artinya, kita gamang memperlakukan penghargaan ini bahkan kita seolah-olah tak bisa menjaga warisan dunia ini.

Subak, misalnya. Dapat penghargaan tahun 2012 justru keadaannya semakin merana. Lahan pertanian semakin menyusut diganti dengan pemukiman dan usaha industri tanpa ada pencegahan dari pemegang kekuasaan. Sumber air justru mulai digerogoti untuk hal-hal yang tak berkaitan dengan pertanian. Bagaimana subak bisa lestari? Penerima sertifikat UNESCO untuk subak ini antara lain Jati Luwih di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Ternyata kelestarian subak itu sendiri justru saat ini menjadi makin amburadul ketika pariwisata merambah daerah itu. Atas nama pariwisata, berdiri sarana penunjang pariwisata yang tak sinkron dengan perkembangan subak. Memprihatinkan.

Lalu kesenian tradisional yang mendapat predikat itu, berapakah yang benar-benar masih bisa hidup di tengah-tengah masyarakat? Topeng Sidakarya masih sering dipentaskan karena seni tradisi ini adalah sakral. Rejang pun demikian, meski variasi rejang itu sendiri sudah berkembang demikian banyak. Baris Upacara sesekali masih terlihat ada di beberapa tempat. Barong Ket bisa disebutkan masih jalan, meski pementasan Barong Ket yang tidak sakral sudah mulai dijauhi wisatawan, terlalu monoton. Joged Bumbung justru yang berkembang yang menjurus ke porno. Lihat saja Joged Bumbung di YouTube, begitu pornonya dan itu lebih banyak ditonton orang. Ini sangat memalukan Bali karena ada tari yang begitu porno.

Ada pun selebihnya justru seni tradisi yang bahkan semakin merana walau predikat warisan budaya dunia sudah diperoleh. Wayang Wong Tejakula, misalnya. Ini adalah seni sakral pada awalnya. Topeng wayang wong itu tersimpan di Pura Pemaksan dan dipentaskan pada saat piodalan di beberapa pura di sekitar Tejakula. Oleh Nyoman Tusan, pejabat penting di Direktorat Kesenian Dirjen Kebudayaan yang kebetulan asal Tejakula, wayang wong ini dibawa keluar dari jalur sakral. Namun yang diprofankan adalah duplikat dari topeng wayang itu. Grup ini jadi terkenal dan pentas di berbagai kota. Namun, setelah Nyoman Tusan tiada, sepertinya tak ada lagi yang membina sampai kemudian grup wayang wong ini tak kedengaran lagi. Hampir sama dengan grup wayang wong di Jawa.

Sementara itu Pemda Bali lewat ajang Pesta Kesenian Bali beberapa kali mencoba membangkitkan wayang wong dengan menggelar Parade Wayang Wong. Sekehe di berbagai kabupaten diberi uang pembinaan untuk pentas di PKB. Tapi yang terjadi, setelah PKB berakhir sekehe wayang wong itu bubar. Seperti halnya di Jawa, wayang wong tak lagi digemari. Wayang Wong Bharata di Jakarta memang masih pentas meski tidak setiap hari, tapi grup ini sudah hampir keluar dari pakem tradisional.

Sanghyang Dedari juga sebuah tari sakral. Tari dengan tujuan mistis dan pemainnya kerauhan ini memang sulit untuk dipentaskan jika tidak ada ritual. Demikian pula Baris Upacara dan Topeng Sidakarya tak bisa dipisahkan dari ritual keagamaan Hindu. Kesenian ini bisa saja bertahan namun fungsinya bukan lagi sebagai “tontonan”. Tak ada yang mengembangkan seni sakral ini untuk keluar dari jalur ritual seperti yang pernah terjadi pada wayang wong Tejakula.

Akan halnya gambuh, dramatari klasik ini juga berkali-kali mau dicoba untuk dibangkitkan kembali lewat ajang PKB. Namun tetap saja sulit. Generasi masa kini sudah semakin jauh dengan dramatari semacam gambuh, arja, bahkan drama gong pun mulai ditinggalkan.

Pada akhirnya predikat tertinggi dunia seperti warisan budaya hampir tak punya kaitan dengan pelestarian karena tidak jelas bagaimana cara mewarisinya. Menjaganya pun sulit apalagi mengembangkannya. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!