Menjadi Lansia Bahagia

Anak Agung Gde Muninjaya

HARI tua adalah masa depan. Akan tetapi, bagaimana setiap orang bisa menyiapkan diri sebaik-baiknya agar ketika setelah tua bisa hidup bahagia dan masih tetap menjadi berkah bagi banyak orang?

Pertanyaan itu semoga menjadi renungan terutama para orang tua generasi mileneal (gen-Y). Orangtua Gen Y ini wajib menyiapkan putra-putri mereka sampai memasuki usia dewasa muda (18 tahun). Setelah usia tersebut, mereka sudah mulai belajar mandiri dan dihadapkan pada lika-liku kehidupan yang mengantarkannya menjadi generasi lansia. Di sinilah pentingnya proses penyiapan menuju lansia sehat, bahagia, produktif, dan berguna bagi sesama.

Kemajuan teknologi digital mengubah banyak hal, termasuk di bidang pendidikan. Pola pendidikan Gen-Y tentu tidak sama dengan generasi sebelumnya karena ratarata mereka lebih cerdas. Gen-Y tidak lagi menyukai model pendidikan dogmatis. Pola pengajarannya harus disesuaikan, tidak lagi satu arah dan berpusat pada guru. Khusus untuk pendidikan agama, isinya lebih diarahkan ke pendidikan nilai-nilai moral spiritual yang bersifat universal.

Kemajuan teknologi digital mengubah banyak hal, termasuk di bidang pendidikan. Pola pendidikan Gen-Y tentu tidak sama dengan generasi sebelumnya karena ratarata mereka lebih cerdas. Gen-Y tidak lagi menyukai model pendidikan dogmatis. Pola pengajarannya harus disesuaikan, tidak lagi satu arah dan berpusat pada guru. Khusus untuk pendidikan agama, isinya lebih diarahkan ke pendidikan nilai-nilai moral spiritual yang bersifat universal.

Persiapan menjadi lansia yang bahagia dimulai sejak janin. Proses persiapan menjadi lansia menjadi amat penting. Secara umum, tahapan pendewasaan usia dibagi menjadi lima yaitu dewasa muda (18-25 tahun), masa dewasa awal (26-40 tahun), masa dewasa tengah )41-65 tahun), masa dewasa lanjut (66-75 tahun) dan masa dewasa sangat lanjut (memasuki periode usia di atas 75 tahun). Manusia tidak saja tumbuh secara fi sik, tetapi secara mental, sosial dan spiritual juga berkembang.

Perkembangan anak usia bawah 18 tahun, menjadi tanggung jawab utama orangtua. Ilmu pengetahuan syaraf (neuro science) semakin berkembang. Salah satu kajiannya adalah pertumbuhan janin di dalam kandungan ibu yang sudah bisa menangkap sinyal (getaran electro magnetic) dari luar. Otaknya akan menangkap sinyal atau suara music dan memengaruhi tingkat kecerdasan dan perilakunya kelak setelah lahir dan menjadi dewasa. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan manusia sudah dimulai sejak periode kehidupan masih berbentuk janin.

Meskipun kemajuan teknologi terus berkembang, manusia tetap membutuhkan pendidikan moral spiritual untuk menajamkan rasa dirinya. Rasa diri yang tersentuh kekuasaan Tuhan adalah kunci rahasia manusia untuk menjadi lansia bahagia.

Pemerintah menetapkan 60 tahun sebagai batasan lansia, baik pria maupun wanita (pasal 1 Ayat 2, UU No. 13/1998). Undang-Undang ini memengaruhi kebijakan pemerintah tentang masa kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai abdi Negara sampai usia 60 tahun. Pada usia 60 tahun, diperkirakan mereka sudah menjadi ASN di atas 30 tahun. Mereka yang diberhentikan dengan hormat, kebanyakan masih punya semangat mengabdi. Bahkan sebagian di antaranya punya pengalaman kerja yang memadai yang mengantarkan mereka ke puncak kariernya.

Berdasarkan pengalaman dan bertambahnya usia harapan hidup, banyak negara termasuk WHO mengeluarkan kebijakan untuk memperpanjang batasan lansia sampai 65 tahun. Dalam budaya Jawa, penahapan usia terbagi menjadi 8 tahunan (windon). Setiap windon dimaknai sebagai bagian dari periode peningkatan kedewasaan hidup manusia baik secara biologis, mental, sosial maupun spiritual. Penahapan usia seperti itu sarat makna spiritualnya.

Di Bali, penahapan usia tidak terlepas dari budaya Hindu, tidak saja didasarkan pada aspek biologis, tetapi juga dikaitkan dengan peran dan tanggung jawab sosial di masyarakat dan keseimbangan hidup manusia dengan kekuasaan Tuhan. Penahapan usia di Bali dimulai dari Brahmacari (masa belajar), Grehasta (mulai berumah tangga, punya anak dan aktif sebagai warga masyarakat), Wana Prasta (mulai meninggalkan arena persaingan hidup dan berhenti mencari nafkah), dan Biksuka (mulai menekuni kehidupan spiritual). Meskipun masyarakat Bali tidak lagi sepenuhnya mengikuti penahapan usia sesuai dengan falsafah Hindu, tetapi kebanyakan orang tua di Bali masih tetap memasilitasi putra-putrinya mengikuti pendidikan formal sampai ke jenjang perguruan tinggi, bahkan terus mengantarkan mereka sampai ke jenjang berumah tangga.

Ketika menjadi research fellow di East West Centre, Honolulu, Hawaii USA tahun 1984-1986, saya bertemu dengan seorang wanita lansia keturunan Jepang. Usianya sudah lewat 75 tahun, tetapi masih energik. Dia bahkan membawa saya ke rumahnya dengan mobilnya sendiri. Yang membekas pada diri saya adalah ucapannya tentang pola hidupnya. Dia merasa lahir kembali setiap awal dekade baru dengan mulai belajar sesuatu yang baru, dan merumuskan visi baru hidupnya untuk menjalani hidupnya selama sepuluh tahun ke depan.

Tahapan dan pola hidup di zaman globalisasi dan digitalisasi perlu kita maknai kembali. Status kesehatan masyarakat yang makin membaik membuat usia harapan hidup bertambah panjang. Ada 35% lansia yang hidupnya tergantung dari orang lain karena menderita penyakit kronis, 60% lansia mobilitasnya masih baik meskipun secara fi sik punya gangguan kesehatan. Hanya 15 % lansia Indonesia masih hidup sehat, dan produktif.

Lahirnya generasi mileneal, akan berpengaruh penting untuk periode 5 – 10 tahun ke depan. Mereka menjadi bagian perubahan ekonomi global dan landscape politik di banyak negera. Terkait dengan perkembangan Gen-Y tersebut, orangtua generasi Y harus lebih peka mendidik putra-putrinya agar tumbuh dan berkembang sampai usia dewasa yang mandiri, menjadi lansia sehat, produktif dan berguna bagi orang lain serta terlatih menjadi insan kamil untuk menjalani hidup bahagia lahir batin sesuai dengan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa. (*)

Penulis adalah pengamat lansia, pensiunan guru besar Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unud.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *