Menguji Budaya “Koh Ngomong”

Media sosial kini menajdi candu bagi para penggunanya. Terlebih beragam vitur yang memanjakan netizen. (POSBALI/NET)

Dinamika Sosial Masyarakat Bali di Dunia Maya

Ruang untuk menyampaikan gagasan, pandangan dan pemikiran kritis saat ini memang tak lagi dimonopoli oleh media mainstream. Kehadiran media sosial yang menawarkan beragam vitur, menjadi  alat dan medium bagi masyarakat untuk bersuara. Tak terkecuali masyarakat Bali yang kian dinamis dalam merespon isu aktual kekinian. Saling bersahutan di dunia maya kini menjadi kultur komunikasi di era digital. Dampak postif dan negatifnya pun berdampingan.

Mencari  berita kemiskinan sebuah wilayah di Bali saat ini tidaklah sulit. Apalagi, bisa disikapi langsung oleh Pemerintah setempat, kini bukanlah perkara mustahil. Sering kita simak, postingan mengenai kehidupan papa seorang warga yang hidup dengan kondisi melarat di media sosial, facebook. Apalagi berstatus janda tua yang harus menghidupi cucu-cucunya yang ditinggal kedua orang tua mereka.

Kisah lainnya, warga yang rela tinggal di bekas kandang ternak karena tidak memiliki pilihan untuk bisa menikmati tidur di rumah yang nyaman. Belum lagi, kalau ada kabar seorang anak usia di bawah sepuluh tahun harus bekerja keras menghidupi adik-adiknya karena ditinggal orang tua atau meninggal dunia.

Dengan sekejap, postingan pemberitaan semacam ini  menuai simpati dari masyarakat. Komentar empati berdatangan, tak sedikit para warga net yang tergerak hatinya menyalurkan donasi dan memberikan  ragam bantuan lainnya yang dibutuhkan kepada komunitas atau organisasi yang menghimpun bantuannya.

Ada pula yang  mendesak Pemerintah setempat untuk turun tangan. Lebih-lebih, jika informasi di atas ramai di perbincangkan alias viral di dunia maya. Ini hanyalah satu diantara kebajikan manfaat dari pengguna media sosial yang menggunakannya dengan positif.

Di lain hal, masyarakat Bali yang larut dalam kehidupan dunia maya tak terlepas dari isu-isu aktual saat ini, tak hanya lokal, bahkan isu dunia pun disikapi. Sikap kritis, menilai dengan sepihak hingga turut serta dalam menyebarkan berita bohong tak bisa terelakkan. Sangat dinamis. Tak sedikit saling menghina, mengejek hingga menjurus SARA kini sudah menjadi trending topic  pengguna media sosial yang tak semuanya  arif.

Cermin masyarakat Bali yang dikenal koh ngomong dalam berbagai hal (tak hanya internal tapi juga eksternal) kini mulai berbanding terbalik. Malas berdebat dan beretorika kini mulai terbuka seperti halnya netizen lainnya di berbagai daerah dan belahan dunia.

Dr I Nyoman Yoga Segara (POSBALI/Ist)

Antropolog IHDN Denpasar Dr  I Nyoman Yoga Segara mengatakan dunia saat ini mengalami gelombang perubahan yang sangat besar. Medsos menjadi  pengendali utama karena  telah menjadi  ruang untuk  aktualisasi dan ekspresi diri. Ia menyebut kondisi ini sebagai  one dimensional man,  yang mana manusia kini seolah ada dalam satu dimensi.

“Kecepatan, kemudahan, kenyamana telah  mempertemukan kebutuhan bersama manusia modern. Ini era teknologi informasi komunikasi (TIK) yang menyusup ke berbagai lini kehidupan, struktur sosial dan kebudayaan, hampir di seluruh dunia,”kata Yoga Segara, Selasa (5/9) di Denpasar. Menurutnya, kondisi ini akan terus berevolusi dengan canggih dna mutakhir, yang menjangkit manusia modern khususnya orang Bali.

Jika dikaitkan dengan budaya koh ngomong masyarakat Bali, tambah Yoga Segara sebenarnya memiliki hakikat    untuk membangun harmoni meski itu biasanya dalam tataran permukaan. Orang Bali, menurutnya akan  selalu mencari jalan lain untuk menghindari masalah, namun  budaya mekrimikan yang sifatnya halus dan tersembunyi terus  dimainkan. Arena untuk memainkan perlawanan tersembunyi adalah menuangkannya ke dalam medsos.

“Masyarakat kita  sering menuangkan kritikan, sindiran dengan  kalimat tersamar sehingga menyembunyikan maksud yang  sebenarnya karena sekali lagi mereka tidak memiliki kesanggupan untukberhadap-hadapan dengan  orang yg diajak berkonflik misalnya,”kata Antropolog jebolan Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Sehingga tak heran jika di medsos tak sedikit netizen yang vokal dan garang jika menghakimi orang luar.  Namun hal itu, kata dia  belum tentu bisa dilakukan jika berhadapan secara langsung.

Kegarangan masyarakat terpancing, juga  tak lepas dari  pengaruh luar dan lemahnya cyber crime terhadap isu-isu  mainstream dan  hoax. Jadi budaya  koh ngomong,  kata Yoga Segara adalah bukan tindakan pasif, namun secara aktif meredam dinamika demi harmoni melalui kepasifan meski harmoni itu semu.

“Makin menjadi  semu jika dimainkan di medsos.” Lantas,  bagaimana  dengan  internal dan di dunia nyata? Terkait hal itu, ia menilai vokalitas masyarakat Bali hanya sebatas di internal. Dengan orang luar dinilai sangat  masih permisif dan open minded karena  masih terjebak secara  pragmatis sebagai  daerah tujuan utama pariwisata. “Padahal  masalah sosial budaya juga dominan terjadi akibat pertemuan Bali dengan  dunia luar. Beberapa  masih seperti terbiarkan, seperti  tenaga kerja asing yan g mengambil sektor publik, urbanisasi tak terkendali, dan lainnya.”

Bendesa Agung Majlis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali Jro Suwena Putus Updesha belum lama ini mengingatkan agar masyarakat bijak menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan pengguna media sosial lainnya. Ia mewanti, krama Bali juga selektif menyikapi isu yang belum tentu kebenarannya.

Menurutnya, sudah banyak masyarakat terjebak dengan berita bohong dan fitnah yang belum tentu kebenarannya namun sudah diberikan kesimpulan.  Memang kata dia di era keterbukaan saat ini, semua orang bebas menyampaikan gagasan dan pandnagan yang diatur dalam UU. Namun, kebebasan tersebut tetapmemiliki batasan sehingga malah tidakmenjadi boomerang dikemudian hari. “Asalkan jangan sampai kebablasan,”tegasnya.

 

Hal itu sesuai dengan karakter media sosial yang dijelaskan oleh   Dr Rulli Nasrullah dalam bukunya Media Sosial, persfektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi (2015) yakni Medsos memiliki karakter sebagai sarana sosial diantaranya untuk membangun jaringan, informasi, arsip, interaksi, simulasi sosial dan konten oleh pengguna. Bahkan, menurutnya media sosial, seperti facebook, pengguna tak bsia sekenanya saja mempublikasikan sebuah pandangan dalam status atau komentar.

Meskipun jaringan sosial di Medsos terbentuk melalui perangkat teknologi, bukan berarti internet dan segala perangkatnya dinilai sekadar sebagai alat. “Tapi juga memberikan kontribusi terhadap munculnmya ikatan sosial di internet, nilai-nilai dalam masyarakat virtual sampai pada struktur sosial secara online,”jelasnya dalam buku tersebut.

Media sosial, tambah Rulli sebagi cerminan dari aktivitas dunia nyata, juga melahirkan produksi nilai, makna relasi, pola hingga bagaimana hal tersebut berfungsi secara online. kaw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *