Mendesak, Kebutuhan Ensiklopedia Hindu

posbali.id

Dari Diskusi di IHDN Denpasar

 

DENPASAR, POS BALI ONLINE – Sudah sejak lama perdebatan  dan sejarah masuknya Hindu di Indonesia menjadi perbincangan di kalangan sejarahwan, peneliti,  akademisi dan cendikiawan Hindu.

Minimnya literatur  yang lengkap atas keberadaan Hindu di Nusantara, melahirkan berbagai tafsir yang keliru dan menimbulkan tanda tanya besar. Hal tersebut diperparah  dengan perselisihan yang muncul antara kalangan Hindu tradisional dan reformis (aliran spiritual). Untuk itu penting didorong sebuah penelitian yang komprehensif. Terutama ensiklopedia Hindu  sebagai  panduan umat mempelajari peta Hindu Indonesia.

“Keberadaan sejarah Hindu di Indonesia bukan berasal dari Kutai, tapi Aceh,”ungkap Ni Kadek Surpi Aryadharma, Pimpinan Vivekananda Spirit Indonesia yang memaparkan hasil penelitiannya mengenai sejarah Hindu di Nusantara dalam Diskusi Kamisan yang digelar oleh Dosen IHDN Denpasar, Kamis (11/8) di Gedung PHDI Bali, Denpasar.

Ia menjelaskan,  banyak sejarahsejarah Hindu yang disusun masih absurd.  Para peneliti  dari barat, kebayakan kata dia yang menulis tentang Hindu dan Bali dengan persfektif luar. Hal itu kata dia misalnya dalam sejarah Hindu di Indonesia, yang mana  bersumber dari artefakartefak  sejarah dan literatur sejarah yang masih tumpang tindih.

Lebih jauh, Surpi  menegaskan  tak hanya masalah perkembangan awal  Hindu di Indonesia saja yang keliru dan  Susah  memasyarakat. Tapi juga pandangan terkait keberadaan kelompok spiritual yang dikenal dengan sebutan sampradaya di Indonesia , khususnya Bali yang menjadi dikotomi. Bahkan ada pertentangan keras dan laten terjadi hingga saat ini.

“Padahal sampradaya memiliki peran dalam membangun Hindu di Indonesia di tahun 1950an,”tambah I Gede Sutarya, Dosen Fakultas Brahma Widya IHDN. Namun kenyataan di lapangan, dalam perkembangannya Sampradaya, kata dia dicap negatif oleh elit-elit Hindu tradisional di Bali.

Karena dianggap akan mengubah tatanan yang suda ada. Hal ini juga, tidak terlepas dari kritik pedas yang dilakukan oleh kalangan sampradaya terhadap ritual besar-besar yang lebih mengedepankan seremonial ketimbang substansi persembahan.

“Harus diakui keberadaan Sampradaya juga  mengisi ruang-ruang pemahaman agama di Indonesia menjadi  matang,” jelas Sutarya. Secara histori, stigma “asing” yang melabeli sampradaya juga tak terlepas dari campur tangan negara. Dalam hal ini politikus, dimana tokoh Hindu yang duduk dalam majelis keagamaan PHDI dipolisir saat di masa awal perjuangan Hindu diakui sebagai agama resmi.

Hingga berrlanjut pada tinggi rendahnya pemahaman pengikut, baru lamanya menjadi pengikut, serta cara atau metode untuk bertumbuh bersama denga. kelompok tradisional sering menjadi pemicu ketegangan antarkeduanya.

“Sebenarnya yang sering berdebat di lapangan adalah golongan spiritualis yang baru paham setengah dan kalangan tradisional yang paham  separuh. Perdebatannya lebih mengedepankan ego. Namun, di masing- masing pimpinan  kedua aliran ini tdak ada masalah, “tambah Dr Gede Suwantana, Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta.

Selama ini, perdebatan mengenai sejarah dan aliran gerakan spiritual di Bali karena kedua masing-masing pengikut belum mengetahui sepenuhnya ajaran dan prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Sehingga, mereka yang mendalami spiritual dan “jarang” kelihatan melakukan ritual sudah mulai di cap ke India-Indiaan. Begitupun sebaliknya, bagi mereka yang mengedepankan agama ala Bali sentris dituding minus memahami tattwa agama.

“Padahal jika diterjemahkan secara harfi ah makna dari Sampradaya adalah tradisi,”tambah Suwantana. Sedangkan Antropolog IHDN, Dr Segara Yoga menilai selama ini minimnya literasi Hindu dan budaya malas baca menjadi pemicu  serius dan menjadi tantangan umat Hindu kedepan yang kian kompleks.

Disamping itu, sejarah keagamaan yang dicekoki selama ini masih sangat dangkal dan debatebel. Sehingga kata dia, menjadi pekerjaan rumah bagi para intelektual Hindu untuk mengkompilasi sejarah dan ajaran Hindu yang bertebaran.

“Umat kita tidak memilliki pegangan yang jelas mau belajar agama dari mana. Umat membutuhkan ensiklopedia yang lengkap untuk mengetahui peta Hindu seperti apa,”katanya sembari mendesak Dirjen Bimas Hindu memberikan perhatian atas hal tersebut. 008

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!