Mencegah Global Warming

posbali.id

I Nyoman Agus Sudipta

HARI ini, Sabtu (13/8) umat Hindu di Bali melakukan upacara untuk tumbuh-tumbuhan. Hari ini, umat Hindu di Bali menyebut Tumpek Wariga atau juga disebut Tumpek Bubuh, Tumpek Uduh, dan Tumpek Pengatag. Tumpek Wariga dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan.

Perayaan Tumpek Wariga ini merupakan upacara yang berkaitan dengan lingkungan. Sebagaimana sering dikemukakan para pecinta lingkungan, pemanasan global (global warming) menjadi permasalahan serius. Dampak yang ditimbulkan adalah perubahan cuaca dan iklim. Dibeberapa belahan bumi hal ini semakin nampak jelas. Begitu juga di wilayah Kutub Utara yang setiap tahun gunung-gunung es terus mencair. Hal ini menyebabkan permukaan air laut terus naik dan menyebabkan beberapa daerah dataran rendah dan pulau-pulau kecil mulai tenggelam. Disamping itu pemanasan global juga berdampak pada hasil pertanian akibat kekeringan. Disebutkan bahwa suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0,74 ± 0,18 °C (1,33 ± 0,32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.

Manusia semestinya mampu bersinergi dengan alam. Manusia sepatutnya menumbuhkan kesadaran dalam diri untuk menjaga dan melestarikan alam. Bila alam rusak, maka sesungguhnya manusia merusak dirinya sendiri. Dalam ajaran agama Hindu konsep hubungan yang harmonis antara manusia dan alam tertuang dalam ajaran Tri Hita Karana. Perwujudannya melalui sukerta tata palemahan. Mengenai penerapan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam, maka ada ritual yang dilakukan setiap hari Saniscara Kliwon Wuku Wariga yang disebut Tumpek Ngatag, Tumpek bubuh, atau Tumpek Wariga. Pada hari ini umat Hindu di Bali melakukan penghormatan kepada tumbuh-tumbuhan. Maknanya adalah ungkapan syukur dan terima kasih kepada Dewa Sangkara (Dewanya tumbuh-tumbuhan) sebagai manifestasi Tuhan yang telah memberikan anugrah berupa tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat dan berguna bagi kehidupan. Disamping itu bentuk penghargaan manusia (umat Hindu) kepada alam, terutama tumbuh-tumbuhan yang telah memberikan akar, batang, kulit, daun, buah dan bunga bagi kelangsungan hidup. Hal yang paling penting adalah tumbuhan (pohon) sebagai penghasil oksigen yang dihirup oleh makhluk hidup.

Dalam proses ngatag tersebut terjalin komunikasi antara manusia dengan alam sebagai wujud hubungan yang harmonis. Komunikasi itu tertuang dalam bentuk mantra sebagai wujud kearifan lokal. Bunyi mantranya adalah “Nini…nini I Kaki dije? I Kaki gelem, ngeed…ngeed, matangi Jro Dukuh bin slae dina Galungan, ngeed…ngeed (Nenek… nenek, Si Kakek dimana? Si Kakek sakit, lebat….lebat, bangun Jro Dukuh lagi dua puluh lima hari Galungan, lebat…lebat).

Pemaknaan yang dapat dipahami adalah bagaimana manusia (umat Hindu) mampu memanusiakan tumbuhan (pohon dan tanaman) yang disebut dengan nama manusia (Nini, Kaki dan Jro Dukuh). Penyebutan tersebut sebagai simbolisasi hubungan yang sangat dekat antara manusia dengan tumbuhan dan memberikannya persembahan sasajen dengan harapan nantinya pohon tersebut mampu memberikan sumber kehidupan. Manusia diharapkan menjaga dan menghormati alam lingkungannya dengan selalu menanam pohon, memeliharanya dan mendapatkan hasil dari pohon tersebut yang bisa dimanfaatkan. Disamping itu tumbuh kesadaran untuk menjaga kelestarian alam, agar senantiasa asri dan hijau melalui pelaksanaan Tumpek Wariga.

Dengan terjaganya kelestarian dan keasrian pohon atau tanaman, maka bumi kita akan hijau dan sejuk, sehingga permasalahan global warming (pemanasan global) dapat dicegah. Gambarannya adalah bila manusia (umat Hindu) selalu ingat menjaga dan menghormati pohon melalui perayaan Tumpek Wariga serta selalu melestarikan alam dengan menanam pohon, memelihara pohon dan memanfaatkan hasilnya dengan baik dan bijaksana, maka permasalahan pemanasan global (global warming) dapat diminimalkan. Bila ritual Tumpek Wariga selalu dilaksanakan setiap 6 bulan dengan konsep pemujaan kepada Dewa Sangkara, karena yang dihormati dan dijaga adalah pohon maupun tanaman, maka pastinya ini merupakan wujud dari pelestarian alam.

Bayangkan jika semakin hari semakin banyak pohon atau tanaman yang ditebang, dirusak dan dibakar, maka tidak ada lagi wilayah hijau (pohon) di muka bumi ini, lalu apa yang akan diupacarai oleh umat Hindu dalam perayaan Tumpek Wariga? Maka dari itu pastinya umat Hindu memiliki kewajiban untuk selalu menjaga dan melestarikan alam dengan menanam pohon, memelihara dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Aktivitas yang dilakukan dalam perayaan Tumpek Wariga disamping sebagai wujud sradha dan bhakti, tetapi juga sebagai upaya untuk mencegah terjadinya pemanasan gobal (global warming) yang semakin hari mengancam kehidupan di dunia. Inilah makna yang tersirat dalam perayaan Tumpek Wariga sebagai wujud pelestarian alam dan upaya pencegahan global warming. Dengan semakin sadar dan pedulinya manusia terhadap alam, terutama untuk menjaga, merawat dan melestarikan tumbuh-tumbuhan dalam kehidupan, maka manusia meminimalkan dampak dari global warming. Mari mulai dari sekarang belajar untuk menyayangi alam lingkungan dengan mengubah perilaku demi terciptanya dunia yang asri, bersih dan hijau. (*)

Penulis adalah Guru SMK Negeri 1 Abang Karangasem.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *