Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Unggul

posbali.id

Cornelius E.S.

TELAAH historis kebangsaan Indonesia memberi hikmat kepada kita bahwa perpaduan patriotisme dan penghayatan nilai-nilai luhur keagamaan yang terkristal dalam sosok sumber daya manusia pejuang Indonesia, telah berhasil menegakkan Nation and Caracter Building Indonesia, maka pilihan untuk “set-back” sebagai seorang pemimpin dengan hanya mengutamakan kesalehan agamis-sektarian adalah tidak bermoral integrative, demikian pun pilihan untuk menjadi pemimpin yang menyembah agama baru “prestasi – sukses dan produktifi tas (apalagi yang hanya sekedar memenuhi selera lapar) yang menghalalkan segala cara adalah justru merupakan pengingkaran sebagai manusia berbangsa yang menjunjung tinggi kaidah moral – etik dan spiritual. Sehubungan dengan itu, pertanyaannya: “Dimanakah  peran kepemimpinan nilainilai esensial suatu komunitas agama pada umumnya dan khususnya Gereja (Kristen) dalam kemungkinan terburuk di sekitar ‘absurditas’ (keanehan/tidak logis) dan ‘dekadensi’ (kemerosotan/kemudnuran) komunitas suatu bangsa?

Partisipasi sumber daya manusia kristiani dalam konfi gurasi kebangsaan Indonesia, harus dipahami bahwa esensi politis meliputi seluruh dimensi ruang dan waktu dalam kehidupan yang nyata, maka Gereja dan pemimpin kristiani harus memahami bahwa dimensi politik adalah meliputi seluruh indikator, dimana kesaksian, pelayanan dan persekutuan dilakukan, dengan militansi keimanan merupakan prasyarat elementer sebelum mengejawantahkan diri sebagai ‘garam dan terang dunia’ (Matius 5:13). Karena untuk menjadi garam dan terang dunia, sesosok kader kristiani harus rela melebur dan membaur untuk wacana universal, tetapi tetap utuh berjati diri kristiani sejati. Bukan hancur lebur tak berarti, atau hanya berarti untuk diri sendiri.

Dengan demikian inti kehadiran kepemimpinan kristiani Indonesia adalah tetap pada Visi Eskatologis. Sebagai pelayan (Markus 10:45) yang layak mengemban misi Amanat Agung (Matius 28:18 – 20), dalam wujud aksi praksis proaktif yang secara terus menerus siap diversifi kasi, diverifi kasi, diperbaharui dan dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga berakses dan menjadi berkat bagi sosok kepemimpinan nasional kebangsaan Indonesia (bdk. Yeremia 29:7). Hikmat besar dapat kita teladani dari kisah Ester (Ester 3 – 8), yang membuktikan bahwa doa, puasa dan komitmen kebangsaan Ester dapat menyelamatkan bangsanya yang hendak dimusnahkan sang raja. Adalah bukan mustahil bagi Tuhan bahwa hal itu bisa juga berlaku bagi bangsa Indonesia. Meskipun, gereja selalu mengalami aniaya, terror dan berbagai siasat yang tidak bersahabat. Namun, kuasa Tuhan yang ajaib pasti menemukan hikmat dan akal budi bagi keberlangsungan gereja di Indonesia, karena keIndonesiaan tidak akan pernah ada tanpa kekristenan di dalamnya. Kekristenan akan terus berada sampai Amanat Agung itu digenapi, bahkan sampai Maranatha (Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua).

Dalam rangka pengejawantahan nilainilai esensial keagamaan, obsesi penting adalah suatu kerinduan akan lahirnya pemimpin kebangsaan Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan mampu ‘menetralisir’ sekaligus ‘mengeliminir’ kecenderungan dekadensi, sektarianisme, fragmentarisme dan berbagai anomali lainnya, seraya melakukan terobosan terhadap pencerahan nilai-nilai kebenaran universal, yang pada akhirnya dapat menepis berbagai “bargain kepemimpinan dekaden” yang hendak meruntuhkan wacana nasional Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian, berbagai anasir: “liar” dan “garang” yang hendak bahkan sempat melakukan aksi “tawar-menawar” dengan berbagai kerusuhan yang sempat menggoncang dan meretakkan sendi-sendi kebangsaan Indonesia, akan dikalahkan oleh kesetiaan (yang terkonsolidasi secara ajaib) kepada anugerah historis yang dari Allah (Wahyu 2:10; Roma 7:18 – 23; Mazmur 103: 14 dan Amsal 20:9). Karena itu sebesar apapun badai dan retaknya sosok kebangsaan Indonesia, Gereja akan tetap tegar berdiri menjadi peneduh dan perekat yang menyembuhkan.

Secara internal gereja semakin bertumbuh, tetap rendah hati dan kian menyadari arti kesatuan tubuh Kristus dengan berbagaibagai anggota. Tidak ada yang memegahkan diri atau merasa berkasta tertinggi. Tidak saling menghakimi. Tidak saling menyiasati dan berebut domba, melainkan saling mengasihi, saling peduli dan bersinergi. Dalam skala regional (di Bali) hal di atas telah ‘diakomodasi” salah satunya melalui Pelayanan Kemitraan, yakni ‘Bali Partnership’ yang digagas oleh K.S. Gani, Filemon Koweho (fasilitator) dan “Sinyo” Hendradinata (bidang Misi yang Visioner). Memasuki usia ke- 17 tahun, kiranya Bali Partnership mau membekali pemimpin Gereja (para gembala) kearah penciptaan kualitas sumber daya manusia unggul baik secara kompetitif maupun komparatif;  supaya umat selain bisa mandiri, juga mampu melintasi medan pelayanan yang kian terjal. Singkat kata umat bisa “Survival of Life” dengan “performance” yang mengesankan (Kisah para rasul 2:47). (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *