Memberdayakan Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam

posbali.id
Diskusi antara sejulah perwakilan organisasi masyarakat sipil, komunitas, dengan KLHK RI dan DFID Inggris terkait peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam

DENPASAR, posbali.id – Peran perempuan dalam upaya pemanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan tidak dapat diabaikan. Namun, selama ini perempuan terkesan jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan, padahal dapat memberikan efek yang sentral.

Untuk itu menjawab kondisi tersebut, sejumlah perwakilan organisasi masyarakat sipil dan komunitas dari berbagai daerah seperti Aceh, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Papua, dan Jakarta menggelar pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, Bambang Hendroyono dan perwakilan Department for Local International Development (DFID) Inggris. Pertemuan digelar di kawasan Taman Hutan Raya, Denpasar, Minggu (15/10) kemarin.

Country Representative The Asia Foundation (TAF), Sandra Hamid mengatakan TAF bersama mitra-mitra CSO melalui program Selamatkan Hutan dan Lahan Melalui Tata Kelola (Setapak) memilih menggunakan pendekatan Gender Responsive Approach dengan melibatkan kelompok perempuan dalam proses-proses diskusi dan pegambilan keputusan. Menurutnya, jika diberikan ruang dalam hal-hal tersebut justru akan member implikasi yang baik pada komunitas mereka.

“Perlu diingat, perspektif gender menempatkan perempuan maupun laki-laki dalam posisi yang setara untuk memeproleh kesempatan dan partisipasi di dalam perumusan kebijakan Tata Kelola Hutan dan Lahan (TKHL) maupun proses-proses advokasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Deputi Direktur Program Setapak, Alam Surya Putra mengatakan, bersama 64 lembaga mitra yang tersebar di berbagai daerah Program Setapak berupaya mendorong transparansi dan akuntabilitas tata kelola guna menurunkan tingkat deforestasi dan degradasi lahan.

Selain itu melalui program tersebut pihaknya juga berupaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman organisasi masyarakat sipil di daerah mengenai isu-isu di sektor kehutanan dan penggunaan lahan untuk memantau proses penerbitan izin dan perbaikan kebijakan pemerintah daerah maupun nasional.

“Melalui forum dialog antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Inggris, organisasi masyarakat sipil, dan para pejuang lingkungan, diharapkan akan tercipta ruang bersinergi dan pemahaman yang kuat untuk menghadapi tantangan serta permasalahan dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan,” katanya.

Dikatakan, kontrol komunitas masyarakat, khususnya perempuan sangat penting bagi kelangsungan lingkungan hidup, termasuk diantaranya hutan dan lahan. Ia mencontohkan  gerakan perlawanan terhadap tata kelola yang kurang baik terhadap pengelolaan lahan yang telah menuai hasil salah satunya gerakan yang dikoordinasi oleh Dewi Sartika di Samarinda.

Dituturkan, Sartika ketika itu mera sa menjadi korban atas pelaksanaan pertambangan yang merusak lahan di kawasan tempat tinggalnya. Perusahaan-perusahaan tambang itu tidak mereklamasi kembali galian yang mereka buat saat menambang, sehingga menelan puluhan korban anak-anak di sekitar kawasan tambang.

“Karena merasa tidak ada pengawasan yang baik, ibu Dewi Sartika kemudian mengorganisir sejumlah kelompok, kemudian melapor ke kementerian, tapi responnya lambat. Kemudian dia membuat gugatan warga, menggugat ke Pengadilan Negeri di Samarinda dan bershasil memenangkan gugatan. Kini, galian-galian itupun sudah diperbaiki kembali,” jelas Putra.

Kepala Biro Perencanaan KLHKyang juga merupakan Ketua Pokja Pengarusutamaan KLHK Ayu Dewi Utari menambahkan, KLHK dari awal sudah sangat konsen untuk mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang dimotori oleh perempuan. Secara nyata lebih kurang ada sekitar 30 peraturan meneteri dimana mengakui keberadaan perempuan atau kelompok wanita untuk memberikan izin. “Misalnya IBHPS (Ijin pengekolaalnhutan sosial), izin kebun bibit rakyat, dan masih banyak lagi yang melibatkan unsur perempuan,” pungkasnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

2 tanggapan untuk “Memberdayakan Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam

  • 28/10/2018 pada 7:37 PM
    Permalink

    A lot of of whatever you point out happens to be astonishingly precise and it makes me wonder why I had not looked at this in this light before. This particular piece truly did turn the light on for me as far as this subject goes. But there is actually just one position I am not necessarily too comfy with so while I make an effort to reconcile that with the central theme of the position, permit me observe just what the rest of your visitors have to say.Very well done.

    Balas
  • 05/11/2018 pada 8:53 PM
    Permalink

    The first round saw hosts Gabon, as well as two of the tournament favourites, Ivory Coast and Algeria, eliminated, which leaves the competition extremely open. But who will progress in Gabon? Ahead of the AFCON quarter-finals, how do the teams stack up? Our look at favourites Senegal and Ghana, unfancied Morocco and the rest

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!