Melihat Keberlanjutan Aspek Budaya Masyarakat Bali Kuno di Era Modern

posbali.id
Para penyaji Seminar Alumni FIB Unud melakukan foto bersama di akhir seminar, Rabu (5/12)

DENPASAR, posbali.id – Sejumlah aspek budaya di era Bali Kuno masih dapat ditemui di kehidupan masyarakat Bali modern. Salah satunya dapat dilihat di Desa Pakraman Mayungan, Baturiti, Tabanan.

Hal tersebut dinyatakan Ayu Eka Pratiningsih, SS, dalam Seminar Alumni serangkaian Pelepasan Calon Wisudawan ke-129 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) di Auditorium Widyasabha Mandala FIB Unud, Rabu (5/12). Ia merupakan satu dari tiga narasumber yang tampil dalam kegiatan akademik tersebut. Dua narasumber lainnya adalah R. Guntur Mahardika,SS, M.Hum dan Putu Sandra Putri Astariani, SS.

Dalam makalahnya yang berjudul “Keberlanjutan Aspek Sosial Budaya dalam Prasasti Mayungan pada Kehidupan Masyarakat” dinyatakan bahwa Prasasti Mayungan –salah satu prasasti Bali Kuno peninggalan Raja Jaya Pangus yang ditemukan di Desa Mayungan, Baturiti, Tabanan- menuliskan sejumlah aspek sosial budaya masyarakat pada masanya, mulai dari bidang ekonomi, kepercayaan, hingga struktur sosial. Menariknya, beberapa aspek sosial budaya yang tertulis dalam prasasti tersebut hingga saat ini masih dilanjutkan oleh masyarakat setempat. Aspek budaya itu meliputi sistem pemerintahan, struktur sosial, ekonomi, dan sistem kepercayaan. “Sementara (aspek sosial budaya) yang sudah tidak dilanjutkan lagi adalah sistem perkawinan, stratifikasi sosial, dan aktivitas sosial,” kata peraih IPK 3,58 itu.

Sebagai contoh, lanjutnya, dalam prasasti tersebut ditemukan sejumlah istilah jabatan dalam sistem pemerintahan Bali Kuno, baik di tingkat pusat, daerah, ataupun jabatan khusus. Pada tingkat pusat ditemukan istilah jabatan Senapati, Samgat, dan pemuka agama Siwa dan Buda, sedangkan jabatan pada tingkat daerah terdapat istilah jabatan Nayakan Buru, Tapa Haji, Samgat Caksu Karanankranta, Hulukayu, danHuluwungkukan. Sementara, jabatan khusus yang ditemukan adalah Sanadmakakmitanapigajih.

“Saat ini sistem pemerintahan (sebagaimana disebutkan dalam prasasti) mulai menyesuaikan dengan sistem pemerintahan desa adat yang ditetapkan pemerintah daerah. Pemerintahan tertinggi di Desa Pakraman dipegang Bendesa Adat, sedangkan jabatan lainnya ada yang disebut panyarikan, patengen, juru arah, kelian subak, dan kelian pura,” tambah Ayu Eka.

Sementara itu, R. Guntur dalam makalah berjudul “Mengidentifikasi Tipe-tipe Peristilahan Akuntansi di Dalam Buku Pedoman Akuntansi Bahasa Sumber dan Kesepadanannya ke Dalam Bahasa Indonesia”, menyimpulkan adanya peristilahan akuntansi yang ditemukan pada level kata, level kata majemuk, dan level frasa. Di sisi lain juga ditemukan perbedaan tipe akuntansi terkait spesifikasi dan proses penerjemahannya, tetapi memberikan banyak variasi dalam penerjemahan teks istilah-istilah akuntansi.

“Selain itu ditemukan bahwa makna dari bahasa sumber ke bahasa target akan menjelaskan kepada pembaca bahwa peristilahan skuntansi dalam bahasa Inggris memiliki banyak aspek alam penerjemahan, seperti halnya makna bahasa sumber yang harus sama dengan bahasa target,”tandasnya.

Pemakalah selanjutnya, Sandra Putri dalam makalahnya yang berjudul “Analisis Struktur Bertanda Pisah pada Majalah SPEAK!” mengatakan ada tiga fungsi tanda pisah, yakni sebagai elaborasi, peningkatan, dan eksistensi. “Selain fungsi, tanda pisah juga memiliki arti yang mirip dengan konjungtiva dan kunjungsi,” pungkasnya.

Pada pembukaan seminar, Wakil Dekan I FIB Unud, Prof. Dr. I Nyoman Suparwa, M.Hum dalam sambutannya mengingatkan pada setiap calon wisudawan agar terus melakukan penggalian terhadap ilmu-ilmu Humaniora sesuai dengan tuntutan zaman. Penggiat ilmu-ilmu Humaniora pun diharapkan memberi kontribusi yang aktif dalam dinamika perkembangan Revolusi Industri 4.0.

Seminar alumni merupakan rangkaian akademis terakhir yang harus dilalui calon wisudawan di lingkungan FIB Unud. Pada Pelepasan Calon Wisudawan ke-129 yang akan dilaksanakan Kamis (6/12), FIB Unud akan melepas sebanyak 51 orang calon wisudawan dengan rincian 12 orang dari Magister Linguistik, 2 orang dari Prodi Sastra Indonesia, 4 orang dari Prodi Sastra Bali, 2 orang Prodi dari Sastra Jawa Kuno, 21 orang dari Prodi Sastra Inggris, 6 orang dari Prodi Arkeologi, 3 orang dari Prodi Antropologi, dan 1 orang dari Prodi Sastra Jepang. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!