Melestarikan Wayang

posbali.id

Ilustrasi


BUPATI Buleleng, Putu Agus Suradnyana mengajak masyarakat melestarikan wayang kulit yang sudah ditetapkan sebagai kesenian khas daerah. Ketika menilai lomba desa di Nagasepeha, Kabupaten Buleleng, Senin (25/4) lalu,  Agus Suradnyana mengatakan, wayang kulit juga merupakan warisan leluhur yang eksistensinya harus dijaga dalam beberapa dekade mendatang. Ia berharap, kreativitas yang dikembangkan para leluhur harus diteladani dan ditiru agar seni khas kabupaten paling utara Pulau Dewata itu dapat berjaya dan dikenal ke seluruh dunia.

Harapan Agus tentu saja sangat penting diperhatikan. Wayang kulit tidak saja sebagai kesenian khas daerah, namun juga diakui dunia. Sejarah mencatat, pada 7 November 2003, Wayang kulit diakui UNESCO, sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur).

Di Bali, sesungguhnya kesenian wayang kulit sampai kini masih tetap eksis. Hanya saja, kesenian itu mengalami dinamika dalam pertunjukannya. Secara umum, wayang kulit sebagai media hiburan boleh disebut “terpuruk” jika dibandingkan pada decade sebelum tahun 1970-an.

Ada beberapa factor penyebab terpuruknya kesenian wayang kulit di Bali.  Berbagai hiburan modern yang datang dari luar (yang dibawa televise)  diduga sebagai biang keladi terpuruknya kesenian ini. Namun tentu saja, kita tidak menyalahkan derasnya arus globalisasi itu.  Sebab, kita tak kuasa membendung terjangan pengaruh mereka, meskipun sangat negative sekalipun.

Ada beberapa factor penyebab terpuruknya kesenian wayang kulit di Bali.  Berbagai hiburan modern yang datang dari luar (yang dibawa televise)  diduga sebagai biang keladi terpuruknya kesenian ini. Namun tentu saja, kita tidak menyalahkan derasnya arus globalisasi itu.  Sebab, kita tak kuasa membendung terjangan pengaruh mereka, meskipun sangat negative sekalipun.

Tentang pakem misalnya, perlu adanya keberanian untuk melakukan “perubahan”. Artinya, perlu membuat eksperimen yang kira-kira sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, mengapa harus wayang Kayon yang tampil lebih dahulu. Apakah wayang Kayon itu harus tampil? Begitu misalnya. Mau tak mau, kesenian ini mesti disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Hal-hal yang membosankan mungkin perlu dikurangi. Atau bahkan kalau memang sebuah tuntutan, apapun mesti dilakukan. Tentu dengan catatan tidak menyimpang dari fi losofi sathyam, sivam, dan sundaram atau kebenaran, kesucian dan keindahan. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id
error: PosBali.id Content is protected!