Laga Neraka, Spanyol vs Italia

posbali.id

TUMBANGNYA Spanyol oleh tim gurem Kroasia 1-2 di Stadion Matmut-Atlantique, Rabu (22/6) dini hari Wita, bagai pertanda runtuhnya kejayaan Tim Matador di ajang Piala Eropa.  Optimisme kalangan pengamat dan penggila bola, Spanyol  potensial mengukir sejarah menjadi yang  pertama juara Eropa tiga kali beruntun – hat-rick mulai diragukan.

Keraguan itu membersit  setelah  hasil pertandingan di Grup D, dimana Kroasia jadi juara grup  dan  Spanyol terpaksa mengakhiri fase grup sebagai penghuni posisi kedua atau runner-up. Karena  mengemas enam poin, terpaut satu poin dengan Kroasia.

Konsekuensinya,  Spanyol  harus berhadapan dengan Italia yang memuncaki Grup E. Sebuah laga krusial yang tidak diharapkan oleh kedua tim, bahkan oleh pengamat dan pencinta bola sejati. Sebab, dalam fase gugur  yang akan di gelar Senin (27/6) tim yang kalah akan langsung terlempar  ke luar arena, alias angkat koper lebih awal.

Tak heran jika laga Spanyol kontra Italia ini disbenut sebagai laga neraka bagi kedua pihak. Hal ini jelas tak banyak yang menginginkan, mau tak mau daya tarik Piala Eropa 2016, pagipagi sudah kehilangan salah satu dari dua tim yang  menyandang nama besar dalam sejarah turnamen internasional. Kedua tim merupakan favorit  juara yang dikenal  mewakili dua kutub gaya permainan yang berbeda.

Spanyol dikenal dengan sepakbola  indah yang atraktif dengan umpan-umpan pendek ditunjang skill individu di atas rata-rata,  (tikitaka)  di lain pihak, Italia dikenal dengan pola pertahanan yang solid  yang berlapis (gerendel) diselingi serangan balik yang cepat, sebuah gaya khas Italia yang disebut cannecio.

Spanyol yang masuk tim unggulan lima besar bersama Prancis, Jerman, Inggris dan Belgia, sedangkan Italia yang hanya masuk 10 besar (bersama Portugal, Polandia, Kroasia dan Hungaria) ternyata secara mengejutkan mencukur  Belgia 2-0 di babak penyisihan Grup E, Piala Eropa 2016 dan melaju sebagai tim pertama lolos 16 besar dengan angka penuh, alias tak pernah kalah.

Nah, bisa dibayangkan pertandingan yang dijadwalkan berlangsung Senin, 27/6 itu disambut begitu heboh oleh kalangan pengamat dan pencinta bola. Terlebih tim yang berlaga adalah penyandang juara bertahan, Spanyol melawan kuda hitam Italia yang kini menggeser posisi Inggris dan Belgia sebagai tim unggulan.

Disamping itu,  kedua tim dikenal termasuk memiliki pencinta  atau suporter fanatik di seluruh dunia.  Kedua tim berasal dari kawasan yang punya tradisi kampiun di turnamen  internasional. Spanyol sebagai juara bertahan yang memenangkan Piala Eropa dua kali, 2008 dan 2012 dikenal punya ambisi untuk mencetak hat-rick untuk memecahkan rekor sebagai timnas pertama yang juara tiga kali berturut-turut.

Maka tak heran, jelang putaran Piala Eropa 2016, kalangan pengamat umumnya sepakat hal itu bukan mustahil terjadi. Mengingat sepakbola Spanyol tengah mendominasi peta kekuatan sepakbola Eropa sejak lebih dari 10 tahun terakhir.

Hal itu berawal dari berjayanya klubklub semacam Real Madrid, Barcelona, Atltico Madrid, Sevilla di ajang laga Eropa. Bahkan, dua kali final Piala Champion 2015 dan 2016 mempertemukan Real Madrid vs Atletico Madrid. Sedangkan, Sevilla tahun ini mencetak hatrick , setelah tiga kali berturut-turut jadi juara Liga Eropa (2016, 2015, 2014).

Sedangkan, di level turnamen besar timnas, Spanyol saat ini berstatus sebagai juara bertahan di Piala Eropa setelah juara dua kali berturut-turut (2016, 2012). Disamping itu Timnas Spanyol juga penyandang Piala Dunia 2010.

Di lain Italia tak kalah perkasa dari perspektif sejarah sepakbola modern Eropa. Italia menjadi salah satu tim favorit juara pada Piala Eropa 2016 karena memiliki setumpuk  pemain berkualitas. Pasukan Antonio Conte tersebut membawa sejumlah pemain bertalenta diboyong ke Prancis.

Meski mengalami banyak perubahan wajah dibandingkan Euro 2012 dan Piala Dunia 2014, Italia tidak pernah kehabisan stok pemain dengan skill berkualitas untuk memastikan diri lolos ke babak 16 besar sebagai juara Grup E.

Alessandro Florenzi menjadi salah satu pemain yang tampil impresif pada dua laga tersebut. Florenzi dipasang sebagai gelandang sentral ketika Italia menundukkan Belgia. Ia kemudian berubah peran sebagai pemain sayap saat Azzurri membungkan Swedia.

Gelandang AS Roma tersebut tercatat sebagai pemain Azzurri alias Azzurro yang memiliki kemampuan berlari paling cepat, yakni 30,7 km/jam. Dia lebih unggul dari Antonio Candreva yang mencatat kecepatan 30,1 km/ jam dan Eder dengan 29,9 km/jam.

Walau tanpa  dua pemain fenomenal sang jenderal Pirlo atau penyerang tak terduga Biloteli, secara tim kekuatan Italia tak bisa dianggap sebelah mata. Buktinya, walau tak masuk unggulan lima besar, ternyata mampu lolos ke babak 16 besar dan menjadi tim juara grup pertama. pus/dbs 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Satu tanggapan untuk “Laga Neraka, Spanyol vs Italia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!