Kori Agung Pura Kahyangan dan Dalem Taman Pohmanis Dipugar

posbali.id
Proses pemugaran Kori Agung Pura Kahyangan dan Dalem Penataran Taman Pohmanis, Penatih Dangin Puri Denpasar

DENPASAR, posbali.id – Proses pemugaran gapura kuno (kori agung) Pura Kahyangan dan Dalem Penataran Taman Pohmanis, Penatih Dangin Puri, Denpasar hingga Rabu (17/10) telah memasuki tahap penurunan material. Pemugaran pertama yang dilakukan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar bekerjasama dengan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali ini dijadwalkan akan selesai pada akhir 2018.

Pantauan POS BALI di lokasi, material-material yang diturunkan tampak dijejer sedemikian rupa di halaman pura. Material berupa bata merah dan batu padas itu sudah diregistrasi tim pemugaran, baik lebar, panjang, maupun tinggi material. Tim juga melakukan pengkodean guna memudahkan proses pemasangan.

Staff Bidang Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Dewa Gede Yadhu Basudewa saat ditemui di lokasi menyatakan, proses pemugaran bangunan tersebut merupakan salah satu komitmen pihaknya melaksanakan amanat Perda Kota Denpasar Nomor 12 tahun 2015 terkait Pengelolaan Cagar Budaya. “Pemugaran ini telah melewati studi kelayakan, dan studi teknis, hingga akhirnya dipugar. Teknik yang digunakan adalah teknik restorasi, jadi nanti semua material akan diturunkan, kemudian disusun ulang. Kerangkanya dikuatkan dengan pemasangan pancang beton,” jelasnya yang juga merupakan alumnus Arkeologi Universitas Udayana itu.

Dikatakan, teknik restorasi diambil lantaran mempertimbangkan kondisi bangunan yang disungsung sekitar 300 kepala keluarga itu. Dengan teknik ini, material dan bentuk akan dipertahankan seperti sediakala, sehingga tidak mengurangi nilai sejarah dan budayanya. Penyusunan ulang juga menggunakan teknik sebelumnya, yakni dengan teknik kait, gosok, dan menggunakan lepa (campuran tanah dan bahan lain) sebagai perekat, bukan dengan semen.

“Kita upayakan mempertahankan keaslian bangunan, salah satu bentuk penghormatan kita terhadap peninggalan leluhur. Kan sayang, jika dibongkar begitu saja, diganti baru, sehingga nilai sejarah, budaya, bahkan nilai spiritualnya akan hilang. Dari segi biaya juga lebih terjangkau, karena semua bahan masih digunakan, memang agak lebih rumit dan memerlukan orang khusus melakukannya,” katanya.

Sementara anggota tim pemugaran BPCB Bali, Made Rai Muliawan mengatakan pihaknya telah melakukan proses tersebut seminggu terakhir. Proses penurunan material diperkirakan akan memakan waktu sekitar tiga minggu. “Setelah semua material diturunkan, kita akan pasang beton bertulang sebagai penguat gapura, kemudian material akan dikembalikan sebagaimana bentuknya semula, juga nanti kaan mengganti beberapa bahan yang rusak. Di dalamnya kita gunakan tanah, bukan dengan semen,” ucapnya.

Sebelum material diturunkan, pihaknya terlebih dahulu menggambar bentuk  maupun ornamen penghias gapura itu. Proses menggambar itu dilakukan guna mempermudah proses penyusunan ke depan.“Kita awali dengan proses penggambaran terlebih dahulu, juga foto untuk memudahkan penyusunan, baru kita lakukan penurunan per lapisan,” katanya.

Sebelum dilakukan pemugaran, kondisi gapura sudah tidak tegak. Beberapa bagian juga telah mengalami keretakan, sehiingga pihaknya harus berhati-hati melakukan proses tersebut. “Pada proses ini kita juga dibantu rekanan dari pihak ketiga, dan mereka memang sudah cukup sering kita ajak, sering kita ajarkan juga, sehingga mereka bisa melakukannya sesuai prosedur,” ujarnya mengatakan proses penaikan material akan memakan waktu sekitar satu bulan ke depan.

Muliawan menilai, apa yang dilakukan panyungsung pura dan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar ini adalah langkah yang tepat dan diharapkan bisa menjadi contoh di tempat-tempat lain. Terlebih, belum lama ini ada fenomena mengangganti suatu tinggalan lama dengan bangunan baru. “Mungkin faktor zaman (merenovasi total pura), ada trend ke  batu hitam. Juga belum paham aspek cagar budaya,” tandasnya.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat bisa memperhatikan sisi-sisi budaya suatu tinggalan. Bagi masyarakat yang ingin mengupayakan hal sejenis dapat langsung bersurat ke BPCB Bali atau ke Balai Arkeologi Denpasar. “Selama ini kan ada ketakutan jika tinggalannya diinventaris akan mengurangi kesakralan dan sebagainya, padahal jika sudah diinventaris justru akan melindunginya. Jika hilang misalnya, akan ada data yang bisa digunakan melacak,” pungkasnya.

Bahan-bahan yang diturunkan disusun di pelataran pura sebelum nantinya akan dinaikkan setel;ah struktur dikuatkan dengan beton bertulang.

Diduga Peninggalan Abad XVII-XIX

Menurut kajian Yadhu Basudewa, kori agung Pura Kahyangan dan Dalem Penataran Taman Pohmanis, dibangun antara abad XVII-XIX. Sajian ornamen dan bahan bangunan juga mengindikasikan adanya perpaduan gaya Bebadungan dan Gianyar.

“Ada indikasi perpaduan gaya Bebadungan dan Gianyar. Bebadungan ditandai dengan penggunaan batya merah, sedangkan Gianyar ditandai dengan penggunaan padas,” katanya menerangkan tulisan ilmiah yang sudah ia publikasikan dalam sebuah jurnal ilmiah Arkeologi.

Keunikan lain yang bisa ditemui adalah ornamen Karang Boma yang menghiasi bagian atas pindu gapura. Karang boma ini, lanjutnya yang juga merupakan krama pangungsungpura juga terbilang unik, dimana ornamen itu secara jelas dililit ornamen Makara (makhluk mitologi yang digambarkan berkepala gajah dan berbadan ukan atau ular). Ornamen semacam ini biasanya ditemui pada candi-candi di Jawa Tengah. Di Bali, ornamen Boma dan Makara sangat jarang ditemukan, bahkan bisa jadi ornamen di pura itu adalah satu-satunya di Bali.

“Ornamen semacam ini di Bali dikenal sebagai Karang Boma, tapi kalau di Jawa dikenal sebagai Kala. Penggambarannya pada candi-candi di Jawa Tengah wujudnya tanpa dagu, di Jawa Timur sudah dengan dagu. Namun, di Jawa Tengah itu biasanya didampingi Makara, sehingga juga sering disebut Kala Makara, sementara di Jawa Timur tidak ditemukan Makara,” pungkasnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!