Keluarga Ikhlaskan Kepergian Aipda Sudarsa

posbali.id

David James Taylor dan Sarah Connor Tersangka Pembunuh

JIMBARAN, POS BALI ONLINE – Satu kali tembakan salvo yang dilaksanakan oleh 10 anggota personel Kepolisian Resta Denpasar menandai prosesi perabuan almarhum Aipda Wayan Sudarsa (53) di Setra Adat Jimbaran, Minggu (21/8).

Sebelum jenasah almarhum diberangkatkan dari rumah duka di Banjar Pesalakan, juga dilaksanakan upacara serah terima dari keluarga almahrum kepada Resta Denpasar. Hadir selaku inspektur upacara, Kapolresta Denpasar Kombespol Hadi Purnomo.

Pihak keluarga almarhum terlihat cukup tegar dalam mengikuti prosesi perabuan, yang dilanjutkan dengan proses ngaben. Raut kesedihan mendalam tampak dari istri almarhum, yaitu Ni Ketut Arsini (53). “Kita ikhlas dan mendoakan suami saya semoga mendapatkan tempat yang layak dan baik di sisi Tuhan,” ujar Arsini terbata-bata.

Pasca diungkapnya 2 orang yang diduga pelaku pembunuhan suaminya, Arsini berharap agar semua tersangka yang ikut berperan segera dapat ditangkap dan diberikan hukuman setimpal dengan yang dilakukan. Hukuman tersebut diserahkan sepenuhnya kepada penegak hukum serta berharap hukum diterapkan seadil-adilnya.

Sebagai kepala keluarga, sosok almarhum dinilai sangat bertanggungjawab kepada keluarga dan tekun melaksanakan tugas sebagai abdi negara. Arsini mengaku tak pernah sedikit pun ia bersama kedua anaknya — Putu Yudi Chrismayudha (30) dan Kadek Toni Charthika (26) — diberatkan dengan permintaan. Bahkan masalah pekerjaan pun tidak pernah diceritakan kepada keluarga. “Orangnya santai, orangnya humor, punya teman banyak. Beliau seperti adik-kakak sama anak-anaknya,” ucap Arsini.

Atas kepergian suaminya, Arsini mengaku tidak punya firasat apapun. Suaminya, kata Arsini, sempat pynya keinginan suaminya untuk melihat anaknya menjadi polisi. Namun hal itu dikembalikan lagi kepada anaknya. Dirinya mengaku terakhir kali berjumpa saat suaminya berpamitan untuk berangkat kerja shift malam pada Selasa (16/8) lalu. Namun pada keesokan harinya ia dikejutkan dengan kabar meninggalnya suaminya yang diketahui dari kabar teman seprofesinya.

Sementara Kapolresta Denpasar, Kombespol Hadi Purnomo yang menjadi inspektur perabuan almarhum Sudarsa mengaku sedang mengajukan penghargaan kepada almarhum. Mengingat almarhum diketahui gugur dalam melaksanakan tugas. “Kita sudah mengusulkan penghargaan itu ke Polda Bali untuk nantinya diberikan. Kinerja almarhum juga baik sekali dan absensinya juga telah dicek Bapak Wakapolda,” terang Hadi Purnomo.

Ia mengatakan, pihaknya mengimbau agar setiap anggota kepolisian, agar dalam melaksanakan tugasnya jangan sendiri-sendiri. Minimal ada 2 orang rekan anggota yang mendampinginya, sehingga jika ada gangguan yang terjadi, hal bisa dibackup temannya yang ikut bertugas.

Dari informasi yang berkembang di lapangan, diketahui almarhum Sudarsa cukup lama memantau kawasan pantai saat malam hari. Ia juga membawa sebuah teropong yang kini konon menjadi salah satu barang bukti atas peristiwa pembunuhan di kawasan depan Hotel Pullman Legian itu. Teropong tersebut dikabarkan dipergunakan untuk mengintip orang berduaan di pesisir pantai pada malam hari.

Hadi Purnomo sendiri tidak memungkiri bahwa teropong yang ditemukan di dekat TKP adalah milik korban. Namun jika dikatakan teropong tersebut berkaitan dengan kasus tersebut, dengan tegas Hari Purnomo membantahnya. “Tidak, jangan terlalu jauh. Itu tidak ada, tidak ada,” tegasnya.

Dipaparkan Hari Purnomo, kini sudah ditetatp 2 tersangka pembunuh Wayan Sudarsa, yaitu David James Taylor (Inggris) dan Sarah Connor (Australia). Dari barang bukti permulaan yang kuat, pihak penyidik akhirnya melakukan penahanan kepada sepasang WNA beda negara tersebut. Dasar yang menjadi penguatan tersebut yaitu bercak darah, luka di tubuh korban, kartu identitas tersangka, pecahan botol, dan darah di lokasi homestay tempat menginap kedua WNA tersebut.

Dipastikan, ada semacam bentrok fisik antara tersangka David James Taylor dengan korban. “Hasil forensik sudah keluar, hasilnya identik bahwa itu adalah darah korban dan tersangka,” ungkap Hadi Purnomo sembari menerangkan ada luka yang ditemukan pada bagian kuku salah satu tersangka yang diakui adalah akibat gigitan almarhum. Kendati demikian, pihaknya mengaku melakukan pemeriksaan berdasarkan bukti di TKP, bukan dari pengakuan tersangka. Sebab bisa saja yang bersangkutan mengada-ada dan ngawur saat dimintai keterangan.

Sementara untuk motif pembunuhan tersebut, diterangkannya, itu adalah akibat pengaruh minuman beralkohol, sehingga membuat tersangka mabuk dan melakukan penganiayaan dibawah kesadarannya. “Pemeriksaan terhadap 9 orang saksi sudah dilakukan. Untuk pengenaan pasal, itu sesuai dengan Pasal 338 dan/atau Pasal 170 Ayat 2 dan/atau Pasal 351 Ayat 3, dengan ancaman hukuman 15 tahun. Tersangka memang berhak untuk mengelak. Tapi kalau di dalam pengadilan, kesaksian tersangka itu nol. Kalau kita, itu berdasarkan alat bukti saja, 184 KUHAP saja,” tegas Hadi Purnomo. 023

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!