Kegagalan Hanyalah Kecelakaan Kecil

posbali.id

Glan Iswara

VICTOR Cattermole namanya. Dulu dia calon walikota Christchurch, New Zealand. Bulan November 2013 dia datang ke toko saya di The Bush Inn Mall. “Victor,“ katanya, menjabat tangan saya sambil mengenalkan diri. ”Saya lahir di Christchurch. Saya entrepreneur berwawasan internasional. Bisnis mengantarkan saya bertugas di luar negeri”. Dia meninggalkan dua book mark lengkap dengan website dan slogan kampanye “Vote Victor for Mayor, Less Politics, Real Results” (Pilih Victor untuk Walikota, lebih banyak hasil nyata ketimbang politik).

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan sosok ini. Saya pikir dia mengenalkan diri dengan latar belakang internasional karena saya berasal dari Asia dan juga bergerak dalam bisnis. Tapi setelah saya baca leaflet-nya di koran The Christchurch Press, saya mulai tertarik. Mottonya kurang lebih mirip dengan pandangan hidup saya, dan eh, dia juga seorang seniman (musician). Beberapa mottonya saya kutip, dengan interpretasi saya, berikut:

I don’t see obstacles, I see opportunities”. Seorang entrepreneur lebih tertarik melihat peluang ketimbang mempersoalkan hambatan. Mereka yang bukan entrepreneur biasanya takut membayangkan kesulitan yang akan menghadang sehingga tidak pernah berani memulai. Akibatnya selalu tertinggal di belakang. Hanya sebagai pengikut (follower), atau hanya sebagai penonton tanpa tindakan nyata. Enterpreneur berpikir cepat mewujudkan mimpi, kadang berhasil kadang gagal, kadang grasa-grusu tapi biasanya sukses.

Kedua: “I am a businessman who has overcome mild dyslexia. Dyslexics tend to view the world through different eyes. As such, I see things differently and think in creative ways”. Mengenai pendapatnya ihwal pengidap dyslexia ringan mungkin Victor agak berlebihan, tetapi memang entrepreneur umumnya mencerna sesuatu dengan cara berbeda atau lebih kreatif ketimbang orang kebanyakan. Seperti pernah saya tulis dalam buku saya Kong Kali Kong (22 April 1994), seorang entrepreneur seolah-olah memiliki indera keenam (the mind sight) yang melihat hidup ini  tidak saja positif tapi kreatif, atau lebih berdaya guna.

Ketiga, “I am not afraid of failure. I am far more concerned with success”. (Saya tidak takut gagal, saya lebih memikirkan sukses). Bagian ini yang saya suka. Kegagalan hanyalah kecelakaan kecil. Seorang entrepreneur tidak pernah takut gagal, sebab gagal adalah bagian dari sukses. Mari simak yang berikut:

***

Enterpreneur tidak takut gagal. Mereka mendekati bisnis tanpa rasa takut, penuh dengan  antusiasme seorang atlet olah raga berbahaya. Ketakutan akan kegagalan jutaan dolar malah dipeluk dan dimanfaatkan untuk memotivasi sukses. Menerima kegagalan bukan hal yang mudah, karena salah menginterpretasi kegagalan akan menghambat pertimbangan dalam  mengambil kesempatan baru. Sukses hanya muncul dari kegagalan. Kegagalan mengajarkan kearifan untuk langkah ke depan, asalkan tidak gagal dua kali untuk kekeliruan yang sama. Mereka yang terlalu takut gagal tidak akan memetik buah sukses, karena mereka tidak akan pernah berani memulai perjalanan panjang bisnis yang penuh risiko.

Seorang entrepreneur pada dasarnya adalah orang dengan rasa ingin tahu sangat besar. Keingin-tahuan biasanya membawa kekegagalan, karena banyak kesempatan yang ingin dicoba.  Tetapi kegagalan adalah juga aset. Karena rasa ingin tahu besar, kekecewaan seorang entrepreneur adalah kalau tidak sempat mencoba salah satu kesempatan. Dalam benaknya selalu muncul pertanyaan “apa yang akan terjadi kalau saya mencoba kesempatan itu”. Kegagalan menjadi asset yang bernilai untuk mengelola bisnis lebih baik atau untuk menghindarkan kekeliruan yang pernah dibuat.

***

Tidak ada seorangpun yang ingin seorang entrepreneur gagal, termasuk investor yang menanamkan modal, pegawai yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan, dan konsumen yang setia. Semua mendoakan entrepreneur berhasil. Hubungan ini seharusnya menimbulkan rasa hormat entrepreneur untuk tidak memanipulasi ketidak takutan atas kegagalan menjadi alasan pembenaran kalau tidak sukses.

Kegagalan jangan diterjemahkan sebagai mundur (quitting) atau pergi begitu saja meninggalkan kegagalan tanpa tanggung jawab. Kegagalan hanyalah kecelakaan kecil, tetapi putus asa adalah bencana besar. Asal tidak putus asa, ketakutan akan kegagalan dapat dijadikan senjata hebat dalam darah wirausaha Anda. Atasi kegagalan dengan banting setir untuk memulai sukses yang lain. Hidup ini singkat tapi indah! (Glan Iswara, menetap di New Zealand).

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!