Kebakaran di Benoa Akibat Abai Terhadap Kearifan Lokal

posbali.id

 

Turah Muditha

DENPASAR, @posbali.id — Dalam perspektif Hindu Bali, peristiwa kebakaran 45 kapal motor ikan di Dermaga Barat Pelabuhan Benoa Senin (9/7) karena pengelolah pelabuhan maupun perusahaan kapal ikan tidak menerapkan kearifan lokal yakni Tri Kaya Parisuda dan Tri Hita Karana.

Juga mengabaikan konsep Buana Alit dan Buana Agung yang menjadi filosofi umat Hindu di Bali.

Demikian disampaikan tokoh puri, I Gusti Ngurah Bagus Muditha dari Puri Pemayun Kesiman di Sekretariat Yayasan Bumi Bali Bagus, Selasa (10/7). “Tri Hita Karana (THK) itu bukan hanya milik Bali tapi ada di seluruh dunia, hanya namanya saja yang berbeda. THK mengajarkan keseimbangan dan harmoni hubungan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan manusia (pawongan) dan manusia dengan lingkungan (palemahan). Di seluruh dunia, bahkan agama manapun, pasti punya konsep seperti itu. Sekarang tinggal pelaksanaanya,”kata Turah Muditha sapaannya.

Tri Kaya Parisuda dalam tata titi Bali (konsep kearifan lokal-red) mengajarkan manusia mesti berkata baik, bertingkah baik dan berprilaku baik. Sementara konsep Buana Alit (Apa, Bayu, Teja, Akasa dan Pertiwi) berkait dengan diri sendiri. Sementara Buana Agung kaitan dengan alam semesta. Itu artinya menjaga alam semesta sama dengan menjaga dan merawat diri sendiri. Begitu juga sebaliknya, menjadi diri berarti menjaga alam dan lingkungan yang ada di sekitar. “Konsep kearifan lokal seperti THK, Tri Kaya Parisuda, Buana Alit dan Buana Agung jangan hanya jadi tapi harus di implementasikan selama kita berada di tanah Bali. Sejengkal tanah di Bali senantiasa mengeluarkan vibrasi positif bila kita betul-betul menghargai dan menerapkan kearifan lokal. Jadi sekali lagi jangan hanya jadi slogan, tapi implementasikan,”tegasnya
Diteropong dari tata titi Bali berbicara dan berprilaku mestinya selaras.

“Artinya, apa yang dilakukan harus selaras dengan apa yang dibicarakan. Begitu pun sebaliknya.Bila semua memaknai konsep ini dunia aman. Dan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia akan menjadi nyaman bagi turis yang berkunjung ke Bali. Kalau saja pengelolah pelabuhan Benoa dan semua perusahaan yang didalamnya menjalankan konsep ini, sebagai umat Hindu saya percaya peristiwa kebakaran itu tak mungkin akan terjadi, kalau bukan kelalaian manusia,”ujarnya.

Sebagai penglingsir puri, pihaknya mengajak semua yang tinggal di Bali agar menjunjung tinggi dan menjalankan apa yang menjadi kearifan lokal masyarakat setempat. “Saya pikir menjalankan konsep kearifan lokal tidak merugikan, bahkan dari aspek niskala (tak kelihatan-red) malah menguntungkan karena telah berbuat sesuatu yang baik untuk Tuhan sang pencipta, menghargai sesama manusia dan menghargai lingkungan alamnya,”pinta Turah Muditha 003

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!