Kawasan Bung Tomo, Wajah Lain Kota Denpasar

posbali.id

DENPASAR, POS BALI ONLINE – Akhir-akhir ini, fasilitas umum dan infrastruktur Kota Denpasar diperbaiki sedemikian masif.  Dimulai dari jalan, trotoar, sanitasi, pasar, dan lain-lain, mendapat perhatian dari pemerintah Kota Denpasar. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan warga dan mewujudkan kota yang bersih, aman, dan nyaman. Sehingga, kota berwawasan budaya yang dicanangkan Pemerintah Kota Denpasar beberapa tahun lalu bisa terwujud.

Tapi, rupanya pembangunan tersebut belum menyentuh seluruh wilayah Kota Denpasar. Di Denpasar Utara, tepatnya di sekita Jl. Bung Tomo dan Jl. Pondok Indah, kondisinya jauh dari bersih, aman, apalagi nyaman. Pasalnya, jalan-jalan di sana sebagian besar rusak berat. Bahkan, ada beberapa ruas jalan yang sama sekali belum diaspal. Hanya sisa material bahan bangunan seperti, pecahan keramik, genteng, batako, dan lain-lain, yang dijadikan penambal lubang jalan.

Selain jalan, sanitasi juga bermasalah. Dari pantauan POS BALI, Kamis (11/8), hampir semua saluran air mampat, karena tertutupi tanah ataupun sampah. Ada juga yang menaruh hewan peliharaan dalam krangkeng besi di atas got terbuka, sehingga secara otomatis kotorannya jatuh ke dalam air.  Akibatnya, ketika air got meluber ke jalan, tidak saja terganggu oleh volumenya, tapi juga menebar bau busuk. “Bau sih. Tapi mau gimana lagi. Terpaksa dibiasain aja,” kata Bu Warni (54) salah satu pedagang.

Terlihat juga, trotoar sama sekali tidak ada di sana. “Apalagi di sini yang cuma jalan kecil. Di jalan utamanya saja tidak dibikin trotoar,” ungkap Rudi (33) warga sekitar. “Jelas was-was. Apalagi di sini kan sering melintas truk besar pengangkut barang itu. Terutama anak-anak, ya harus diawasi,”kata lagi.

Selain itu, rumah-rumah semi permanen juga menjamur di sana. Bahkan, ada rumah yang yanh hanya memakai dinding kardus dan triplek. Menurut Rudi, itu adalah hal biasa dan merupakan risiko menjadi perantau. “Biasa itu. Ya, harus bisa menghadapi situasi seperti itu. Kalau memang takut sengsara, mending tinggal di kampung saja,” jelasnya.

Menariknya, rumah “tambal sulam” tersebut tidak berdiri sendiri atau tergabung dalam lingkup yang sama dengan bangunan sejenis, melainkan berdampingan dengan rumah mewah bertingkat. “Inilah dunia nyata, Mas,” ucap Rudi pendek. mur

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!