Junk Food dan Makanan Terkontaminasi Pestisida Dapat Sebabkan Mikropenis

posbali.id
dr. Oka Negara

DENPASAR, POSBALI.ID – Kasus mikropenis (penis dengan ukuran kecil) yang banyak dialami anak-anak dapat berdampak hingga mereka dewasa. Jika tidak ditangani segera, kondisi ini dapat berdampak pada tidak maksimalnya fungsi seksual dan reproduksi pasien.

“Mikropenis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Itu sebaiknya di tangani jika sudah dilihat dari usia dini, karena jika sudah dewasa akan susah diobati atau diperbaiki. Meskipun mengalami mikropenis bagi orang yang sudah dewasa, fungsi seksual bisa tidak maksimal,” ungkap staf pengajar di Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud),  dr. Oka Negara, FIAS di Denpasar, Selasa (15/5) lalu.

Ia menjelaskan kasus penis kecil dapat dikategorikan menjadi dua kategori jika dilihat dari keluhan yang disampaikan. Pertama yakni mikropenis sedangkan yang kedua adalah small penis syndrome. Mikropenis terjadi akibat gangguan pertumbuhan organ reproduksi yang berkaitan dengan hormon, sedangkan untuk small penis syndrome masih dapat dikatakan normal.

“Mikropenis itu maksudnya sangat ekstrem ukuran kecilnya. Penis yang kecil bisa saja berhungan dengan kadar Hormon Testosteron yang rendah, dimana Testosteron sendiri juga berfungsi lainnya untuk spermatogenesis atau pembentukan sperma,” jelasnya.

Meski jumlah pasti penderita mikropenis belum diketahui, namun dalam sebulan terakhir ia mengaku mendapati dua sampai tiga pasien yang berobat ke tempat prakteknya. Di Indonesia sendiri, ia menjelaskan kasus-kasus semacam ini sudah banyak.

Mikropenis disebabkan oleh mengkonsumsi makananan yang memiliki kandungan antiandrogen, baik pada masa anak-anak maupun saat dikandung. “Penyebabnya adalah karena anak-anak saat ini sering mengkonsumsi junk food. Mikropenis juga bisa terjadi karena saat hamil ibu dari anak itu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung pestisida. Ini dapat mempengaruhi janin dan kinerja hormon sang anak yang sedang dikandung,” katanya.

Makanan semacam itu mengandung hormon estrogen yang bisa menekan optimalisasi hormon testosteron. Hormon estrogen merupakan hormon yang sering diidentikkan membawa pengaruh sifat-sifat feminin, sedangkan testosteron merupakan hormon yang mempengaruhi sifat maskulin. “Baiknya ketika hamil itu baiknya mengonsumsi yang masih organik, yang masih alami,” tambahnya.

Terkait penanganan, jika masih anak-anak kasus mikropenis dapat diatasi dengan cara terapi hormon. Hormon yang dapat diinjeksi pada pasien dapat berupa hormon gonadotropin dan testosteron. Saat ini injeksi gonadotropin lebih direkomendasikan karena tidak memiliki banyak efek samping. Injeksi ini dapat dilakukan dalam rentang usia terbaik 10-12 tahun.

“Jika menyuntikkan hormon testosteron maka harus dipantau dari awal sampai akhir. Jika kelebihan hormon testosteron akan ada efek sampingnya atau feed back mechanism mulai dari gangguan kesuburan di masa depan, produksi sperma terganggu, atau tumbuh kembangnya akan terhambat.” jelasnya.

Ia menambahkan, jika usia pasien sudah 17 tahun ke atas, ukuran penis tidak bisa diperbaiki lagi. Jikapun ada, hal tersebut bersifat semu. “Contohnya, ada yang melakukan suntik silikon cair hal ini akan menyebabkan lesi pra kanker dan malah menjadi kanker. Ada juga yang melkukan pompa, ini pun bersifat semu,” katanya.

Terkait dengan kondisi tersebut, ia berharap orang tua bisa lebih memperhatikan jenis makanan anak-anaknya dan segera memeriksakan anaknya jika mengalami dugaan mikropenis.

“Tidak hanya pada laki-laki. Jika anak perempuan mengkonsumsi makanan berhormon tersebut, maka efeknya siklus pubertasnya akan lebih cepat,” pungkasnya. eri

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!