Jengah merasa dikibuli,  AP I layangkan SP ke Korphrindo

posbali.id
 MANGUPURA, POS BALI – Jengah merasa dikibuli, pihak Angkasa Pura I Ngurah Rai mengaku akan melayangkan SP (Surat Peringatan) kepada pihak Koperasi Pengelola Hotel dan Restoran Indonesia (Kophrindo). Hal tersebut didasari adanya kerjasama antara Korphrindo dengan pihak Grab, yang membuka booth yang akan dijadikan meeting point (penjemputan penumpang) di pintu kedatangan terminal domestik, yang ditandatangani Selasa (10/4) lalu di Hotel Novotel Bali Airport. “Surat peringatan sudah kami ajukan, tinggal ditandatangani oleh pak GM (General Manager). SP itu intinya mebekankan terkait perjanjian kami dengan korprindo dan tidak ada kaitannya dengan grab sama sekali,”ujar Kepala Humas PT Angkasa Pura I Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim, Kamis (12/4).

 

https://www.posbali.id/ap-i-didukung-kenakan-sanksi-tegas-kepada-mitra-usaha-nakal/

 

Dipaparkannya, peringatan tersebut ditujukan kepada Korphrindo karena selama ini yang bekerjasama dangan Angkasa Pura I adalah pihak korprhrindo. Surat tersebut menegaskan agar korphrindo bisa mentaati peraturan yang ada sesuai dengan apa yang berisi dalam point perjannjiannya. Serta mengembalikan kondisi bisnisnya seperti semula dalam artian mengkondisikan boothnya seperti semula, dengan menghapus tulisan Grab pada boothnya.  “Kita tegas memperingatkan kembali, jika ada kegiatan lain yang menyangkut pihak ketiga, maka itu harus seizin angkasa pura I,”tegasnya.

 

Ditambahkannya mengacu pada UU No 1 tahun 2009, tentang penerbangan dan berdasarkan Keputusan Dirjen Perhubungan Udara, sudah jelas tersirat bahwa setiap orang atau badan usaha yang ingin mengoperasikan kendaraannya dalam bentuk sewa atau apapun itu, haruslah (wajib) mendapatkan izin dari pengelola bandara. Kendati kawasan bandara merupakan publik area, namun kawasan bandara dikhususkan karena terkait ketentuan bandara yang sifatnya sangat sensitif. Sehingga apa yang terjadi di bandara, baik di area publik atau jasa terkait di bandara udara harus mendapatkan persetujuan dari bandara. “Kami tidak bermaksud mengeklusifkan diri, tapi bandara itu memang high regulated, atau diikat oleh aturan perundang-udangan yang sangat sektoral,”jelasnya.

 

Sejauh ini pihaknya mengaku belum bisa mengakomodir kegiatan atau bisnis taksi online di bandara, sebab untuk berbisnis di bandara ada ketentuan serta mekanismenya. Apalagi pihak Angkasa Pura I Ngurah Rai sudah mempunyai mitra eksisting, yaitu operator taksi transportasi darat, yaitu Lohjinawi, Sapta pesona dan Trans Tuban. Selaku mitra bandara, pihaknya sangat respect dengan keberadaan mereka, membuatkan sistem dan pembinaan dengan ketiga operator taksi tersebut. Kendati belum sempurna, namun secara bertahap mereka sudah mulai ada perbaikan. “Kami lebih menghormati mitra eksisting, daripada kami  mengakomodir taksi online yang belum ada pembahasan sama sekali, untuk mengadakan bisnis di bandara. Jika ada niat baik pihak terkait (taksi online) untuk menjalin kerjasama dengan kami, tolong dong datang ke kami. Karena untuk menjalankan bisnis di bandara itu harus dievaluasi dan dikaji serta harus dibicarakan dengan mitra eksisting kami. Itu demi apa, demi mencegah agar tidak ada konflik yang membuat situasi bandara menjadi tidak nyaman,”bebernya.

 

Pihaknya mengaku sangat memahami bahwa tekhnologi itu tidak bisa dibendung, tapi yang tak kalah penting menurutnya adalah menghormati dan menghargai mitra eksisting itu sendiri. Pihaknya dengan tegas mengaku tidak mau ikut campuri bisnis antara korphrindo dengan grab. Namun pada intinya ia meminta korphrindo harus menjalankan perjanjiannya dengan baik. Dimana dalam perjanjian antara Angkasa Pura I dengan Korphrindo, menyatakan usaha terkait bergerak sebagai usaha tour and travel. Jangan sampai karena ada tulisan grab dalam booth mereka, publik menganggap grab disana sebagai tranportasi darat online. “Yang kami sayangkan itu acara itu jalan sebelum adanya izin dari Angkasa Pura I, baik louncing di novotel dan gunting pita di counter. Kami memang mendapatkan undangan dari korphrindo, tapi kami tidak menduga acara seperti itu,”sebutnya.

 

Pihaknya mengaku cukup keras dalam menyikapi masalah tersebut,  karena kejadian itu sangat menganggu stabilitas di bandara dan banyak menimbulkan gejolak mitra eksisting. Bahkan komitmen pihaknya juga dipertanyakan, sebab opini sudah berkembang dan digiring bahwa AP I mengizinkan taksi online ada di bandara. “Jika mereka (Korphrindo) membandel dan tidak mengibdshkan SP I kita, maka kita akan evaluasi kontraknya. Paling buruk itu kita akan putus kontraknya dengan kami,”pungkasnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Satu tanggapan untuk “Jengah merasa dikibuli,  AP I layangkan SP ke Korphrindo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *