Jegeg Bagus SISMA 2017 Gugah  Kepedulian  Finalis Terhadap Budaya

posbali.id
Para Finalis dalam Pemilihan  Jegeg Bagus tahun 2017 di SMA 7 Denpasar.

DENPASAR, POS BALI – Untuk menggugah semangat dan kepekaan generasi muda terhadap aset budaya yang dimiliki oleh Bali bukanlah hal mudah. Perlu wadah yang menarik dan memotivasi pada muda-mudi di Bali agar kian peduli dengan warisan leluhur. Tampil sebagai agen perubahan dengan membawa misi budaya dengan kreativitas dan public speaking yang mumpuni menjadi salah satu kuncinya.

Hal itulah yang dilakukan oleh para pelajar di SMA 7 Denpasar yang menggugah kepedulian pemuda melalui Pemilihan  Jegeg Bagus tahun 2017. Kegiatan yang dirangkai dengan  Sastra Of Sisma juga sekaligus memperingati Hari Bulan Bahasa. Ketua Panitia Ni Putu Liana Maharani  menjelaskan serangkaian kegiatan Bulan bahasa, acara Jegeg Bagus  diikuti oleh 10 Besar Finalis. Acara berlangsung  di Aula Bawah SMAN 7 Denpasar, Sabtu (28/10) .

“Kegiatan ini diadakan untuk menggali kemampuan berpikir kreatif, public speaking, dan kepedulian terhadap budaya daerah,”katanya. Adapun para juri dalam ajang tersebut diantaranya Ryan Indra Darmawan, I Gusti Agung Ayu Vira Ristiyana , I Gusti Agung Ayu Berlian Audya Parimayuna, Made Wendy Laksmi Putri, dan  I Gede Adi Brata Mahendra

Sementara aspek penilaian dalam Pemilihan Jegeg Bagus SISMA 2017 mulai dari tes tulis yang diseleksi menjadi 15 besar finalis. Dilanjutkan dengan Tes Bakat dan Tes Wawancara.  Grand Final yang diselenggarakan tepat pada hari Sumpah Pemuda ini juga menunjukkan kemampuan para finalis untuk mengasah intelektual pada sesi pertanyaan yang diajukan oleh para juri. Setelah melalui proses penilaian  yang cukup ketat, akhirnya terpilih Jegeg Bagus SISMA 2017 yakni Ida Bagus Gede Mahatmananda dan Ni Putu Cindy Puspitasari Mithania.

Ryan Indra Darmawan selaku Pembina acara tersebut mengapresiasi antusias panitia dan peserta Pemilihan Jegeg Bagus Spensya SMPN 9 Denpasar.  Mulai dari tes tulis, tes bakat, tes wawancara hingga grand final.  Ajang ini, kata dia  hanya sebagai jembatan atau batu loncatan bagi pelajar  SMAN 7 Denpasar.

“Karena yang paling mendasar adalah bagaimana melatih sikap mental yang positif dalam menghadapi lingkungan remaja masa kini atau istilah sekarang ‘kids jaman now’ di era globalisasi yang serba instan,”ucapnya.
Ia berharap kedepannya pemelihan tersebut tetap digelar untuk menjaring SDM Bali khususnya dari kalangan pelajar agar  mencitai budaya, pariwisata, dan pendidikan.008

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *