Jangan Memelihara Dendam

posbali.id

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

KERUSUHAN di Tanjung Balai, Sumatera Utara merusak sejumlah wihara dan kelenteng. Salah satunya adalah Vihara Tri Ratna. Wihara ini dibangun bertahap, dari wujudnya yang kecil sampai semegah sekarang. Kini porak poranda, bahkan isinya dijarah oleh sejumlah orang yang rusuh.

Apa komentar salah satu pendiri wihara itu, seorang wanita Buddhis yang mengaku sudah tua? “Kita harus berterimakasih kepada orang yang membakar (wihara) itu. Karena tempat itu sekarang menjadi ladang untuk menanam karma baik, yang sangat luar biasa bagi siapa pun yang akan membangun kembali wihara itu.” Kalimat ini menjadi top di media sosial dan dibagikan berkali-kali, jutaan orang tentu membacanya. Apalagi “wanita tua” itu mengaku tidak marah dan dia berkata: “Sila pertama dari agama Buddha adalah metta, cinta kasih. Orang yang membakar akan menerima karmanya….”

Semua agama mengajarkan cinta kasih. Dalam Hindu ada kata prema yang juga berarti kasih. Dengan berpegang pada metta dalam Buddha dan prema dalam Hindu sesungguhnya yang disuratkan di sana adalah jangan sesekali hidup ini dibiarkan dibalut dendam, apalagi memelihara dendam itu terus-menerus. Perbanyaklah cinta kasih dalam kehidupan ini. Karena hidup ini akan membawa karma itu sendiri. Jika karma buruk yang dilakoni maka keburukan yang akan didapat di kemudian hari. Kalau karma baik yang dilakukan maka kebaikan pulalah sebagai pahalanya.

Hidup jangan membenci bahkan usahakan menahan marah. Marah adalah penyakit, bukan saja berkaitan dengan penyakit rohani tetapi juga penyakit medis. Salah satu buku yang ditulis oleh Dr. Masaru Emoto (The Healing And Discovering The Power Of The Water) disebutkan  kalau kita memendam marah selama lima menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita menjadi lemah selama enam jam. Begitu pula kalau marah itu ditambah dengan perasaan dendam maka imun atau daya tahan tubuh jadi lemah. Kita mudah stress, kolesterol meningkat, darah tinggi dan seterusnya.

Perilaku marah juga akan membuat kita kehilangan rasionalitas. Yang menumpuk adalah sifat ahamkara atau ego. Dalam Kitab Bagawad Gita diuraikan ada tiga penyebab utama seseorang bisa masuk ke jurang neraka yakni Kama atau hawa nafsu, Kroda atau amarah, dan Lobha atau serakah. Melakukan pengendalian diri adalah cara mengatasinya. Perilaku marah harus dilawan dengan mengembangkan sifat welas kasih.

Dalam kasus Vihara Tri Ratna dan komentar “wanita tua” di atas, ajaran karma phala dijadikan pegangan untuk “merelakan kerusakan wihara” itu. Bagi seorang rohaniawan dan pelaku spiritualitas, sesungguhnya ini adalah kata yang sangat pedas. Kalau itu diucapkan dengan kata yang kasar maka bunyinya bisa seperti ini: “Kamu telah membakar wihara saya, rasakan nanti akibatnya, buruk prilakumu akan buruk juga hidup yang kamu dapatkan sebagai balasannya”.

Apakah hukum karma itu akan selalu terjadi? Bagi penganut Hindu, karma phala itu pasti akan terjadi. Tidak bisa dipungkiri. Tetapi memang tidak seperti makan cabe, sekarang dimakan maka pedasnya langsung dirasakan. Hukum karma bisa datang dalam waktu yang dekat, bisa datang dalam waktu yang lama, bahkan bisa diterima pada kehidupan kita yang akan datang.

Karma Phala adalah satu dari lima dasar ajaran Hindu yang disebut Panca Srada. Yakni, (1) Percaya adanya Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), (2) Percaya adanya Atman (jiwa/roh), (3) Percaya adanya Karma Phala (hasil dari perbuatan), (4) Percaya adanya Phunarbawa (reinkarni atau kelahiran berulang-ulang), (5) Percaya adanya Moksa (bersatunya Brahman dan Atman atau kedamaian yang abadi). Kelima dasar ajaran itu tak bisa dipisahkan. Hukum Karma berkaitan dengan reinkarnasi, karena karma itu melekat pada jiwa atau roh seseorang yang selalu dibawa dalam kehidupannya yang berulang. Jadi bisa saja pahala dari karma itu baru diterima dalam kehidupan mendatang. Atau sebaliknya, kehidupan kita sekarang ini tak lepas dari karma kita pada kehidupan di masa lalu.

Karena itu ada tiga jenis Karma Phala. Pertama, Sancita Karma Phala: hasil perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang pahalanya menentukan kehidupan sekarang. Yang kedua, Prarabda Karma Phala, hasil perbuatan pada kehidupan sekarang yang pahalanya diterima dalam kehidupan sekarang juga. Yang ketiga, Kriyamana Karma Phala: hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada kehidupan ini, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Maka marilah kita putus karma buruk ini dengan selalu berbuat baik, dan tidak memelihara dendam. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!