Jalan Lingkar Kutsel Diharapkan Jangan Memakai Akses Menyusuri Tebing

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Rencana pembangunan jalan lingkar Kuta Selatan, yang diperkirakan akan menyusuri pinggir pantai melasti Ungasan. Ternyata memancing reaksi masyarakat Desa Adat Ungasan. Hal tersebut lantas membuat prajuru Desa Adat Ungasan telah sepakat untuk meminta rencana tersebut dievaluasi kembali, dalam artian meminta jalan lingkar selatan tersebut tidak menyusuri tebing. “Masyarakat Desa Adat Ungasan telah sepakat untuk meminta, agar Pemerintah Kabupaten Badung tidak membangun jalan bersangkutan pada tebing Ungasan. Melainkan dengan cara memaksimalkan jalur yang telah ada saat ini, jadi masterplannya diubah,”terang Bendesa Adat Ungasan, Wayan Disel Astawa dihubungi, Kamis (22/11).

 

Kebulatan tekad masyarakat tersebut diakui telah disepakati dalam parum prajuru desa adat Ungasan yang dilaksanakan belum lama ini, serta telah dikomunikasikan dengan Perbekel Ungasan dan Camat Kutsel. Hal tersebut juga telah ditindaklanjuti dengan pelayangan surat audensi kepada Bupati Badung, agar prajuru desa adat Ungasan bisa menyampaikan hal tersebut. Namun audensi tersebut diakuinya bukanlah berfokus membahas aspirasi tersebut, melainkan akan membahas terkait berbagai kondisi dan hal terkait program dari desa adat Ungasan. “Surat permohonan audiensi telah kita layangkan per tanggal 29 Oktober 2018 lalu. Kami harapan bapak Bupati bisa menerima kami selaku prajuru Desa Adat Ungasan, di tengah-tengah kesibukan beliau. Karena kami juga merupakan bagian dari masyarakat Badung Selatan, yang tinggal di gagang kerisnya Kabupaten Badung,”harapnya.

 

Dijelaksannya, evaluasi terhadap rencana desain jalan lingkar Kuta Selatan amat diperlukan. Sebab jika jalan itu menyusuri pinggir tebing di Kuta Selatan, tentunya hal itu akan merusak pemandangan Obyek wisata yang berada di sepanjang pesisir tebing. Selain itu desain jalan yang berupa jembatan pada pinggir tebing juga dikhawatirkan menganggu kesucian area tempat suci. Jangan sampai Jalan Lingkar Selatan yang akan dibangun nanti, malah mencederai komitmen mengajegkan agama, seni, adat, dan budaya Bali. “Jika jalan itu dibangun pada pinggiran tebing, tentunya ini akan merugikan masyarakat dan investasi yang telah ada di Ungasan saat ini. Sebab sektor itulah yang diandalkan oleh desa adat, dalam upaya mensejahterakan masyarakatnya dan memenuhi kebutuhan menyangkut pengelolaan wewidangan dan parhyangan di Ungasan,”jelasnya.

 

Pihakya mendorong agar akses jalan tersebut menggunakan akses jalan yang sudah ada, dengan tidak menyusuri pinggir tebing. Hal tersebut dinilainya sangatlah memungkinkan dilakukan, apalagi masih ada space untuk memperlebar badan jalan yang saat ini sudah tembus tersebut. Dengan demikian, hal itu juga tentunya akan membuat perekonomian masyarakat semakin berkembang. Sebab lahan yang ada di sepanjang jalan tersebut tentunya akan menggeliat. Dimana dari segi pembiayaannya juga dirasa akan lebih efisien, karena itu dengan cara memaksimalkan badan jalan yang telah ada,. “Badan jalannya kan sudah terbentuk, jadi tinggal melakukan pelebaran sesuai kebutuhan. Kalau jalan lingkar itu dipinggir tebing, justru akan lumayan pembiayaannya,”pungkasnya.

 

Sementara Camat Kutsel, Made Widiana dalam kesempatan berbeda mengaku siap mengawal apa yang menjadi harapan prajuru Desa Adat Ungasan. Terkait maksud audensi dengan Bupati Badung. Pihaknya mengaku akan segera berkomunikasi dengan Bupati Badung, untuk menyampaikan maksud dari prajuru Desa Adat Ungasan. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!