GSP Tak Pernah Berhenti Mengacau

posbali.id

Alexa Christina

GERAKAN Separatis Papua (GSP) atau OPM dan sayap politiknya tidak pernah berhenti untuk melakukan propaganda dan aksi mengacaukan lainnya dengan beragam modus operandi, antara lain mengeluarkan himbauan kepada masyarakat pribumi Papua atau Orang Asli Papua (OAP) untuk tidak mengikuti acara peringatan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 2016 mendatang, dimana ajakan untuk memboikot HUT RI di Papua disampaikan melalui SMS yang diterima sejumlah warga Papua sejak tanggal 7 Agustus 2016 setelah selesai mengikuti ibadah minggu. Pelajar SMA sampai pengurus Lembaga Masyarakat Adat antara lain di Jayawijaya mendapatkan SMS tersebut.

Sementara itu, kelompok Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di wilayah Kabupaten Merauke, berencana akan menggelar aksi unjuk rasa tanggal 15 Agustus 2016 dalam rangka menolak New York Agreement. Rencana unjuk rasa itu sendiri akan dilaksanakan di Wamena, Sentani, Keerom, Lapago dan Jayawijaya. Mereka sekarang ini sedang mengumpulkan dana.

Sedangkan Jubir United Liberation Movement for West Papua/ULMWP, Benny Wenda akan mengunjungi Selandia Baru yang diperkirakan antara 23 Agustus dan 1 September 2016 dengan agenda untuk mencari dukungan kampanye keadilan dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua Barat.

Menurut rencana, Benny Wenda akan diundang untuk berbicara kepada masyarakat dan menemui anggota parlemen, perwakilan Suku Iwi, kelompok hak asasi manusia, kelompok gereja, mahasiswa, dan pemuda. Rencana kunjungan Benny Wenda ini disiarkan dalam www.tabloid-wani.com

Kunjungan terakhir Benny Wenda ke Selandia Baru pada tahun 2013 mendapat penolakan dari Ketua Parlemen, David Carter, yang menolak Benny Wenda diberi kesempatan untuk berbicara di parlemen. Namun, dalam kunjungan di tahun 2013 tersebut, Benny Wenda sempat diwawancarai oleh wartawan Papua New Guinea, Henry Yamo, walaupun dampak positif dari wawancara tersebut hanya “omong kosong” saja atau tidak berdampak sama sekali. Tokoh lainnya yang sudah terkena propaganda Benny Wenda adalah Jeremy Corban dan Samuela Akilisi Pohiva, Perdana Menteri Tonga.

Menurut catatan penulis, penangkapan Benny Wenda oleh aparat keamanan di Indonesia pada tahun 2000 bukan untuk memimpin aksi unjukrasa, namun terlibat sebagai otak aksi penyerangan Polsek Abepura pada 7 Desember 2007. Kemudian, Benny Wenda berhasil melepaskan diri dari penjara dan kemudian melarikan diri ke luar negeri (Inggris dan Belanda).

JANGAN DIDENGAR

Himbauan atau ajakan Gerakan Separatis Papua atau OPM dan sayap politiknya untuk memboikot pelaksanaan HUT Kemerdekaan RI pada tnggal 17 Agustus 2016 tidak perlu diikuti atau tidak perlu dihiraukan oleh masyarakat di Papua, karena himbauan atau ajakan tersebut bernuansa tidak nasionalistis, memutarbalikkan fakta dan malah merugikan masyarakat Papua yang cinta NKRI jika mendengarkan atau mengikuti ajakan sesat tersebut.

Sementara itu, rencana aksi unjukrasa sekelompok organisasi mahasiswa dan pemuda khususnya KNPB dan Parlemen Rakyat Daerah (PRD) tanggal 15 Agustus 2016 yang menolak hasil perjanjian New York terkait integrasi Papua ke Indonesia juga tidak perlu diikuti oleh masyarakat Papua, karena rencana aksi unjukrasa tersebut dilakukan oleh kelompok kepentingan yang kurang mengerti dan kurang memahami sejarah integrasi Papua ke Indonesia.

Bagaimanapun juga, perjanjian New York terkait nasib Papua adalah perjanjian yang berkekuatan hukum tetap baik secara Internasional maupun Nasional, sehingga tidak mudah untuk merubah atau membatalkan perjanjian internasional tersebut sesuai dengan aspirasi kelompok pendukung Papua Merdeka, karena jika dirubah perjanjian ini akan merubah landscape politik internasional.

Sedangkan rencana kunjungan Benny Wenda yang juga juru bicara ULMWP ke Selandia Baru untuk bertemu dengan sejumlah kalangan jelas bertujuan untuk memutar balikan fakta terkait Papua yang cenderung akan merugikan Indonesia, karena narapidana politik  dari Papua ini terkenal jago dalam memelintir fakta untuk menjadikannya sebagai bahan propaganda dan agitasi yang dapat mempengaruhi pihak lain yang tidak mengenal betul seluk beluk sejarah Papua.

Sebaiknya menurut penulis, pemerintah Selandia Baru berupaya sekuat tenaga untuk mencegah kunjungan Benny Wenda ini sebagai itikad baik pihak Selandia Baru untuk menjaga hubungan antar kedua negara yang selama ini berlangsung secara baik dan saling menghormati. Oleh karena itu, permasalahan Papua yang merupakan urusan internal Indonesia tidak menjadi batu ganjalan hubungan kedua negara. Hal yang sama juga harus diperhatikan oleh negara Tonga yang selama ini melalui Perdana Menterinya selalu mengeluarkan pernyataan provokatif tentang Papua. (*)

Penulis adalah pemerhati masalah sosial kemasyarakatan dan keagamaan serta concern dengan masalah Papua. Tinggal di Semarang, Jawa Tengah.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!