Griselda Nadya Billy, Atlet Kempo Bali

Cukup Satu Pilihan

 

BANYAK pilihan, tapi gadis yang satu ini tak mau latah atau ikut-ikutan. Srikandi masa depan Bali di dunia olahraga ini tak pernah goyah, sekali pun ledekan menerpa dirinya.

Ketika masih duduk di bangku SMA Negeri 5 Denpasar, posturnya tergolong paling kecil dibanding rekan-rekan seangkatannya. Tapi ia mempunyai kelebihan yang saat itu tidak dimiliki rekannya se-SMA Negeri 5 Denpasar.

Kelebihan itulah membuat dirinya memperoleh tempat di kalangan sekolah. Keistimewaan tersebut adalah kemampuan di cabang olahraga beladiri Shorinji Kempo. “Saya akui setelah memperagakan katagori embu (atau seni kerapian teknik) di depan teman-teman dan para guru, mereka tertarik untuk bisa belajar mendalami cabang beladiri Shorinji Kempo, mulai saat itu cabang olahraga kempo mendapat tempat sampai sekarang,” kenang pemilik nama lengkap Griselda Nadya Billy, mengawali perbincangan dengan POS BALI, Jumat (11/8).

Sejak tahun 2010 kempo ditempatkan sebagai salah satu olahraga ekstrakurikuler di sekolahnya, dan ia pun memperoleh kepercayaan memoles atlet hingga sekarang.

Gadis yang akrab disapa Nadya menuturkan perlu proses panjang untuk bisa mendalami cabang olahraga beladiri Shorinji Kempo. Ia mengenal cabang olahraga ini sejak duduk di Taman Kanak-Kanak, perlu durasi 20 tahun dan tidak berpaling dengan cabang olahraga lainnya, supaya terlihat hasilnya.

Awalnya hanya sekedar menonton kegiatan kempo, baik ketika latihan maupun pertandingan, kemudian kian tahun membawa dirinya terpikat dengan olahraga asal Negeri Sakura ini.

Semakin usia bertambah Nadya makin tidak bisa dipisahkan dengan olahraga asal Jepang, apalagi saat latihan maupun mengikuti event selalu hadir kedua orang tua, Fredrik Billy dan Lony Rihi beserta kedua adiknya Gladys Raina Billy dan Gerald Billy.

Kekompakan keluarga di rumah dan di luar ini menambah semangat berlatih cabang olahraga beladiri Shorinji Kempo. Darah keluarga mengalir cabor kempo juga salah satu dasar bagi Nadya menjadi rujukan mengikuti jejak sang ayah, Fredrik Billy—yang pernah menorehkan medali emas di PON mewakili Bali.

Di cabang kempo Nadya di setiap event kerap bermain di dua kategori yakni embu dan randori. Kategori embu (seni gerak dalam kempo) merupakan kewajiban para kenshi (sebutan atlet di kempo-red) sebelum menjamah di kategori randori. Ia mengakui di kategori embu diperlukan kerapian teknik, apalagi beregu harus bisa penghayatan dan pendalaman gerak yang diperagakan.

Karena itu belakangan Nadya ‘kecanduan’ beraksi di randori (pertarungan atau laga di kempored), karena mengandalkan diri sendiri untuk menghadapi lawan. Kenshi kelahiran Denpasar, 21 Mei 1997 tersebut mengakui bila dirinya menginginkan hasil lebih dibanding sang ayah, meski belum mampu, tapi mulai ada jalan menuju prestasi.

Guna menuju prestasi mahasiswa Fakultas Hukum Univesitas Udayana itu tidak mau berlindung dari nama besar sang ayah yang mempunya nama di tatanan nasional. “Saya harus berjuang sendiri untuk mencapai prestasi. Selain mengikuti program latihan di dojo juga melakukan kegiatan secara mandiri di rumah, terutama menjabarkan jadwal latihan untuk berlatih bersaja sang ayah,” jelasnya.

Masih perlu proses panjang untuk menapaki tangga nasional khususnya pada Pekan Olahraga Nasional. Pascagagal membawa pulang medali di PON XIX/2016 di Jabar, membuat keinginannya Nadya bertambah berlipat-lipat dalam berlatih. Alasannya jalan memburu prestasi nasional khususnya PON sudah di depan mata. Pengalaman sudah dilalui, tinggal memperbaiki sekaligus membuktikan hasilnya.

Pengalaman tampil di PON memang jauh beda auranya dibanding Porprov Bali atau Kejurnas. Saat di Jabar, sebelum beraksi kaki terasa gemetar dan panas dingin, tapi setelah tampil di atas matras terasa plong. Pengalaman tersebut menjadi guru bisa prestasi di multi event olahraga sebagai puncak aktivitas olahraga empat tahun sekali di tanah air,” paparnya.

Kendati impiannya bisa naik podium di level PON, tapi di setiap event yang diikuti tetap menjadi momentum untuk tidak terkalahkan, terutama di event terdekat yakni Porprov Bali. Upaya mempersembahkan 2 medali emas untuk Kota Denpasar, tetap menjadi target sesuai hasil sama pada Porprov Bali 2015 di Buleleng. “Di Buleleng saya menyumbang medali emas di randori dan embu. Upaya sama akan saya lakukan pada Porprov Bali XIII di Gianyar, September mendatang,” ujar Nadya. yon

 

BIODATA

Nama : Griselda Nadya Billy (II DAN)

Status : Anak pertama dari dua bersaudara Gladys Raina Billi dan Gerald Billy

TTL : Denpasar, 21 Mei 1997

Pendidikan : Fakultas Hukum Unud Semester V

Jabatan : Ketua UKM Unud Cabor Kempo Pelatih Kempo SMA Negeri 5 Denpasar

Prestasi :

2017 :

Juara 1 randori 51 putri di Kejuaraan Nasional di Tangerang

Juara 1 beregu putri di Kejuaraan Nasional di Tangerang

2016 :

Juara 2 randori putri 50 kg. Kejuaraan Mahasiswa Terbuka di Universitas Brawijaya Malang

Juara 1 randori putri 45 kg. Bali Open 2016

2015 :

Juara 1 randori putri 45 kg.Kejuaraan Piala Walikota Surabaya 2015

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *