Garam Langka dan Mahal, Tak Berpengaruh di Buleleng

posbali.id

BULELENG, POS BALI ONLINE – Secara nasional kini, stok garam mengalami kelangkaan. Akibatnya, harga garam kini mengalami kenaikan yang cukup signifi kan. Kelangkaan garam ini terjadi secara nasional, kondisi ini membuat pemerintah pusat berencana untuk mengimpor garam untuk memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia.

Khusus di Kabupaten Buleleng yang memiliki petani garam, stok garam boleh dibilang aman. Kendati demikian, sebagai imbas dari kondisi nasional, harga garam di Buleleng juga ikut melonjak. Namun kenaikan harga garam,  tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi pasar di Buleleng. Buktinya, masyarakat masih memburu garam di tengah harganya yang naik.

Kepala Disperindag Buleleng, Ketut Suparto mengatakan, saat ini harga garam di sejumlah pasar mengalami kenaikan drastis. Kendati begitu Suparto menegaskan, jika stock garam di Buleleng aman. “Dari hasil pengamatan kami di lapangan, harga garam memang melonjak. Normalnya, Rp3 ribu per kilogram, namun kini sudah naik sampai Rp8 ribu per kilogram,” ujar Suparto, Kamis (3/8).

Stok garam yang masih aman di Buleleng, dikatakan Suparto, karena Buleleng memiliki home industri sebagai produsen garam. “Kami punya home industri garam, petani garam ada di Desa Les, Tejakula dan juga di Desa Gerokgak. Makanya, stok garam di Buleleng masih aman,” jelas Suparto.

Selain itu, kata Suparto, hal ini juga dikarenakan perilaku konsumen. “Kebutuhan garam di Buleleng hanya untuk dikonsumsi, jadi kebutuhan garam tidak terlalu besar, beda dengan wilayah lain. Contoh, usaha pemindangan yang membutuhkan banyak stok garam. Dari catatan kami, produksi pemindangan di Buleleng menurun, khususnya hasil produksi pindang dari Desa Pengastulan,” ungkap Suparto.

Sementara dengan langkanya stok yang memicu kenaikan harga garam secara drastis, justru tidak membuat industri pembuatan ikan pindang di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng, milik Wayan Sukri kelimpungan. “Katanya sih harga garam melejit, namun permintaan ikan pindang kami stabil. Kalau garam bagi kami tidak ada masalah,” kata Sukri.

Bahkan Sukri mengaku, akan tetap berusaha untuk menjaga produksi ikan pindang, agar langganan tidak kecewa. “Paling jumlah ikan pindang dikurangi, biasanya Rp50 ribu dapat 12 ekor, sekarang kita kurangi menjadi 10 ekor,” pungkas Sukri. 018

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!