Film G-30 S/PKI Tentara Bunuh Tentara

Oleh : Letkol CAJ (Purn) Drs. Made Metu Dahana, SH.,MH.

Seorang guru SD menyampaikan pada saya bahwa muridnya disuruh nonton film G30S/PKI di televisi. Sang guru bertanya pada muridnya di sekolah. “Setelah kalian nonton film G30S/PKI apa kesan kalian?” Salah seorang murid mengangkat tangan dan menjawab, “Filmnya bagus Pak guru, perang tentara dengan tentara.” Nyahut lagi murid yang lain, “Ya benar Pak guru. Yang menang PKI-nya berhasil membunuh jenderal-jenderalnya dan memasukkan mayatnya ke dalam lubang sumur. Hebat PKI itu,” kata murid itu.

Ini merupakan sebagian kecil dari kekeliruan oknum masyarakat memahami, mengertikan tentang penghianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terjadi pada tahun 1965. Kalau saja mereka menonton sejak awal hingga akhir, mereka tidak berkomentar seperti itu. Karena prolog, komentar, penjelasan tentang cerita film tersebut sudah diberikan secara rinci dan benar.

Gurunya kemudian meluruskan bagaimana jalan cerita dan makna film tersebut. Disini pentingnya seorang guru/dosen Pancasila paham tentang apa itu Komunis, apa itu Partai Komunis dan kenapa Komunis itu ada di Indonesia. Apa saja yang pernah dilakukan oleh PKI di Indonesia. Apa akibatnya jika PKI berkuasa di Indonesia, bagaimana posisi Pancasila dalam menghadapi kaum Komunis. Kenapa Komunis itu tidak cocok hidup di Indonesia. Yang tidak kalah pentingnya, bagaimana peran masyarakat agar Pancasila ini terhindar dari musuh-musuhnya.

Komentar murid tadi tidak semua salah.  Memang benar tentara yang membunuh dan yang memimpin pembunuhan dengan cara diculik. Tetapi itu oknum tentara yang sudah disusupi oleh ideologi Komunis, telah dibina oleh PKI. Itu lihainya PKI mencari anggota maupun simpatisan. Namun di dalam ABRI (sebutan untuk TNI dan Polri sebelum reformasi) bukan organisasi dan institusinya yang terlibat melainkan oknum-oknumnya. Organisasi TNI/POLRI (ABRI) tetap solid, tidak pernah berpikir, berbicara dan bertindak untuk melakukan pengkhianatan pada negara. Tetap menjadi pelindung dan pengayom rakyat. Empat kesepakatan kehidupan berbangsa dan bernegara tetap ditegakkan seperti Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa merupakan harga mati.

Harga mati dimaksudkan tidak boleh ditawar, tidak boleh diganti, harus tetap ditegakkan. Pemahaman murid bahwa PKI yang menang harus diluruskan oleh gurunya. Pembunuhan para jenderal itu merupakan kejahatan PKI yang menggunakan oknum tentara, karena diisukan ada Dewan Jenderal. Padahal Dewan Jenderal tidak ada. Itulah merupakan salah satu kelicikan PKI sebagai pembenar. Ia memberontak untuk mengganti Pancasila dengan ideologi Komunis. Syukurlah, Pancasila tetap sakti yang akhirnya menang. Pemberontakan Komunis dapat ditumpas oleh ABRI, sehingga Pancasila tetap sebagai dasar Negara. Ideologi negara tetap dapat ditegakkan sehingga kita tetap dapat memeluk agama, beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan kita. Seandainya Komunis menang, secara otomatis negara kita menjadi negara komunis. Warga negaranya tidak boleh ber-Tuhan dan beragama. Oleh karena itu setiap 1 Oktober kita rayakan sebagai hari Kesaktian Pancasila.

Buku Pendidikan Pancasila untuk perguruan tinggi cetakan pertama yang ditulis dan diedarkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, dipakai buku acuan materi pendidikan Pancasila khususnya di Perguruan Tinggi. Namun dalam buku itu, tidak ada dimuat bahwa Pancasila telah berkali-kali mau diganti sebagai dasar negara melalui pemberontakan bersenjata. Mahasiswa tidak mendapat materi yang sebenarnya. Padahal sangat penting diketahui, lebih-lebih mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Mungkin diperkirakan sudah mendapatkan pelajaran saat masih di SD, SMP dan SMA. Nyatanya begitu Reformasi bergulir tahun 1998, film G30S/PKI tidak ditayangkan lagi melalui televisi. Syukurlah mulai tahun ini ditayangkan kembali atas izin Presiden Jokowi. Bahkan Pancasila pernah tidak dimasukkan pada kurikulum DIKTI. Sehingga pernah di beberapa Perguruan Tinggi tidak ada mata kuliah Pancasila dan ada juga yang menggabungkan antara pendidikan kewarganegaraan dengan Pancasila. Untunglah, melalui UU No. 12 Tahun 2012 Pancasila dimasukkan ke dalam kurikulum lagi. Pasal 35 ayat 5 dinyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah pendidikan agama, pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan dan bahasa Indonesia. Ini menunjukan bahwa negara berkehendak agar pendidikan Pancasila wajib dimuat dalam kurikulum perguruan  tinggi sebagai mata kuliah yang berdiri sendiri. Dengan demikian mata kuliah pendidikan Pancasila ini dapat lebih fokus dalam membina pemahaman dan penghayatan mahasiswa mengenai ideologi bangsa Indonesia. Artinya, pendidikan Pancasila diharapkan menjadi ruh dalam membentuk jati diri mahasiswa dalam mengembangkan jiwa profesionalitas mereka sesuai dengan bidang studi masing-masing.

Selain itu, dengan mengacu kepada ketentuan pasal 2 UU No. 12 Tahun 2012, sistem pendidikan tinggi di Indonesia harus berdasarkan Pancasila. Implikasinya, sistem pendidikan tinggi (baca:Perguruan Tinggi) di Indonesia harus terus mengembangkan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai segi kebijakannya dalam menyelenggarakan mata kuliah pendidikan Pancasila secara bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

Mengingat pentingnya pendidikan Pancasila ini, maka guru/dosen yang mengajar Pancasila perlu diberikan pendidikan khusus semacam kualifikasi sehingga mereka akan memiliki visi misi, pemahaman materi yang akurat benar dan sah sebagaimana yang pernah diperlakukan kepada dosen kewiraan sebelum Reformasi.

Mari kita berpikir secara jujur dan jernih. Jangan mendikotomi antara Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi. Karena semua orde tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak semua produk Orde Baru jelek. Mana yang jelek kita buang, mana yang baik kita lanjutkan.(*)

Penulis Letkol CAJ (Purn) Drs. Made Metu Dahana, SH.,MH Dosen Pancasila di beberapa perguruan  tinggi di Mataram.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *