Fauzan : Nyongkolan Jangan Pakai Kecimol, Jadi Biang Kemacetan

posbali.id

LOBAR, POS BALI ONLINE – Nyongkolan merupakan budaya yang unik bagi masyarakat Lombok. Sebuah tradisi yang sudah secara turun temurun dilakukan sebagai rangkaian prosesi pernikahan.

Biasanya adat Nyongkolan dilakukan saat siang menjelang sore pada akhir pekan. Menggunakan pakaian adat dan menampilkan kesenian Sasak, iring-iringan pengantin berbaris rapi melintasi ruas-ruas jalan.

Namun sayangnya, tidak sedikit pengguna jalan mengeluh saat menjumpai nyongkolan yang saat ini banyak menggunakan kecimol. Para pengiring berjoget tidak karuan, bahkan hingga menyebabkan kemacetan parah.

Terkait itu, Bupati Lobar H. Fauzan Khalid berharap agar kecimol tidak lagi digunakan saat nyongkolan. “Akan lebih bagus jika kesenian cilokak, hadrah dan semacamnya digunakan saat nyongkolan. Daripada pakai kecimol yang terkadang bikin orang rusuh. Tidak ada budaya masyarakat sasak berjoget di acara nyongkolan memakai kecimol,” ujarnya dalam sebuah kegiatan di Dusun Lembah Sempage Narmada.

Bupati meminta Desa Lembah Sempage bisa menjadi pelopor penggunaan kesenian asli sasak saat nyongkolan. “Mudah-mudah di Desa Lembah Sempage bisa menjadi pelopor saat nyongkolan memakai cilokak dan hadrah. Ini sebagai bentuk kita melestarikan budaya masyarakat sasak yang ada di Lombok, khususnya di Kabupaten Lobar,” ajaknya singkat. 033

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!