Enggan Buat Kandang Jepit, Program Kawin Suntik Masih Kurang Diminati Warga

Foto: Proses Injeksi Sperma pada sapi betina saat Kawin Suntik

KARANGASEM, POS BALI – Program SIWAB (Sapi Indukan Wajib Bunting) yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Provinsi Bali ternyata masih belum begitu diminati masyarakat. Warga enggan melakukan kawin suntik karena menganggapnya ribet. Kendati gratis, warga ternyata enggan membuat kandang jepit sebagai tempat menyeka sapi ketika diijeksi dengan sperma.
Adanya kengganan warga ikut program SIWAB disampaikan Petugas Kawin Suntik dari Dinas Pertanian Karangasem, Gusti Bagus Jelantik saat melakukan kawin suntik di Banjar Dinas Abang Kelod, Desa Abang, Kecamatan Abang, Karangasem, Senin (13/11) kemarin. Menurutnya, warga enggan melakukan kawin suntik karena berbagai factor terutama enggan membuat kandang jepit. “Saat ini di Kecamatan Abang baru 3 Desa yang ada kandang jepit, 11 Desa lainnya belum,” terangnya.
Gusti Bagus menjelaskan bahwa dalam setahun maksimal melayani 500 sapi betina yang melakukan program Kawin Suntik. Jumlah itu hanya 10% dari populasi sapi di Kecamatan Abang. Warga di luar desa yang ada kandang jepit hanya beberapa saja yang mau membuat kandang jepit semi permanen secara mandiri. Dengan demikian, warga kebanyakan memilih kawin manual dengan pejantan kendati harus membayar Rp.50 ribu setiap kali mengawinkan. “Ada pula anggapan kalau kawin suntik anaknya akan betina, padahal anak sapi jantan atau betina itu ditentukan oleh sperma yang membuahi,” terangnya.
Petugas kawin suntik asal Abang Jeroan itu pun berharap pemerintah bisa menyediakan kadang jepit di tiap desa sehingga pelayanan SIWAB bisa lebih maksimal. Sebab dengan mendekatkan pelayanan kepada Warga membuat mereka lebih tertarik melakukan kawin suntik. 017

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *