Dunia Akui Indonesia Paling Junjung Toleransi

posbali.id

Iqbal Fadillah

INDONESIA merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau dan 1.128 suku bangsa, dengan kultur budaya dan sosial yang sangat beragam. Berbagai suku, budaya, agama, ras dan tata berperilaku masyarakatnya dalam bersosialisasi mewarnai kehidupan bertoleransi di negeri ini. Bahkan di era perjuangan kemerdekaan hingga akhirnya meraih kemerdekaan, dikarenakan semangat toleran para pejuang. Mereka menanggalkan egoistis suku, ras, serta agama, yang memupuk semangat persatuan untuk mengusir para penjajah. Semangat toleransi yang dibalut dengan rasa nasionalisme masih dijunjung tinggi dalam mengisi kemerdekaan.

Dunia telah mengakui semangat toleransi ini. Indonesia pernah menjadi Tuan Rumah United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC) yang digelar di Nusa Dua Bali Agustus 2014. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah dapat dimaknai sebagai bentuk pencapaian dan apresiasi masyarakat internasional bahwa Indonesia dapat menjadi role model bagaimana sebuah negara yang harmonis antar keberagaman. Pengakuan pun diberikan oleh tokoh Islam India Dr. Zakir Naik yang mengagumi di Indonesia sangat toleran terhadap agama lain. Meskipun populasi muslim terbesar di Indonesia, tidak menjadikan negara ini sebagai negara Islam. Ini merupakan keistimewaan dari Indonesia sebagai negara multikultural, memandang setiap agama sama di hadapan negara dan agama tidak diperbolehkan untuk menjadi sumber diskriminasi.

Selain itu, Penasehat Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Mohsen Araki, menilai Indonesia sebagai negara yang penuh damai dan toleransi sehingga dapat menjadi contoh bagi Negara Islam lainnya. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi contoh bagi hidup berdampingan yang penuh kedamaian. Adapun berbagai aksi demonstrasi dengan membawa sentimen agama, menunjukkan adanya kebebasan berekspresi di Indonesia, melalui jalur yang telah ditentukan dan semakin menunjukkan rasa persaudaraan dan persahabatan dari berbagai golongan di Indonesia. Ayatollah pun berharap agar toleransi dan perdamaian yang selama ini tercipta di Indonesia dapat terus terjaga.

Mantan Imam Islamic Center di New York, Amerika Serikat, Muhammad Shamsi Ali pun memberikan pandangan bahwa toleransi di Indonesia terbangun cukup baik dan membanggakan. Kondisi ini tercipta karena kehidupan beragama jadi bagian dari sejarah masyarakat Indonesia. Shamsi tidak menampik adanya kasus-kasus diskriminasi antara kelompok mayoritas dan minoritas atas dasar sentimen agama. Menurutnya, hal ini perlu diantisipasi agar tidak sampai menyebabkan terjadi perpecahan.

Toleransi berasal dari bahasa latin “tolerantia” yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Secara etimologis istilah “tolerantia” dikenal dengan sangat baik di dataran Eropa, terutama pada Revolusi Perancis. Hal itu terkait dengan slogan kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti Revolusi Perancis. Dalam bahasa Inggris “tolerance” yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Dalam bahasa Arab istilah ini merujuk kepada kata “tasamuh” yaitu saling mengizinkan atau saling memudahkan. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan toleransi dengan kelapangdadaan, dalam artian suka kepada siapa pun, membiarkan orang berpendapat atau berpendirian lain, tak mau mengganggu kebebasan berpikir dan berkeyakinan orang lain.

Dengan adanya toleransi, kita dapat menghargai dan menghormati kegiatan yang dilakukan masyarakat sekitar, khususnya kehidupan antar umat beragama. Selain itu, kita hatus tetap mengeratkan tali silaturahmi baik antar sesama umat beragama, maupun yang berbeda agama. Dengan menghayati makna toleransi diatas, maka kehidupan bermasyarakat dalam perbedaan suku, agama dan ras dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Bahkan toleransi memberi dampak dan manfaat yang luas bagi umat beragama dan bermasyarakat terkhusus di Indonesia.

Agama memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Pemerintah secara resmi mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Namun ketika berbicara tentang toleransi beragama sebenarnya berkaitan dengan eksistensi keyakinan manusia terhadap Tuhan YME. Menurut ajaran Islam, toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. Dengan makna toleransi yang luas semacam ini, maka toleransi antar-umat beragama dalam Islam memperoleh perhatian penting dan serius. Saling menghargai dalam iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang amat komprehensif. Konsekuensi dari prinsip ini adalah lahirnya spirit taqwa dalam beragama. Karena taqwa kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan universal di antara umat manusia. Namun, toleransi beragama menurut Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Bukan pula untuk saling bertukar keyakinan di antara kelompokkelompok agama yang berbeda . Toleransi di sini adalah dalam pengertian mu’amalah (interaksi sosial). Jadi, ada batas-batas bersama yang boleh dan tak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.

Pengakuan kemampuan Indonesia dalam menjalankan nilai-nilai toleransi sekaligus nilai-nilai demokrasi di mata dunia, harus senantiasa tetap menjaga kebersatuan dan keberagaman berdasarkan konsep masyarakat madani, dengan mengawal demokrasi dan penegakan supremasi hukum. Karena, demokrasi tanpa penegakan hukum akan liar. Sebaliknya, hukum jika tidak dibuat secara demokratis akan menjadi elitis dan bersifat sepihak. Itulah masyarakat madani, masyarakat yang berperadaban.

Masa depan Indonesia merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena menurut Gusdur “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Penulis adalah pemerhati sosial dan politik.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!